Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Aku paling menyukaimu


__ADS_3

"Aku tidak mengira kita akan bertemu saat mengunjungi Anna, apakah ini takdir?" Gabriel mengatakan ini dengan wajah malu-malu yang sangat polos.


"Camila, selamat siang ..." pria berambut perak ini menyapanya dengan malu-malu.


Camila akan mempercayainya andai saja tidak mengingat ciuman basah mereka belum lama ini, Gabriel ini benar-benar definisi dari malaikat berotak iblis.


Yah ... Tapi Camila sendiri juga tidak lebih baik darinya.


Arianna tampak senang akan kedekatan dua sahabat yang sudah seperti orangtuanya sendiri, sudah lama dia ingin dua orang ini bersama. Sementara Raymond di sisi lain sama sekali tidak peduli dan lebih memilih mengupas buah-buahan, dibanding harus melihat kelakuan Gabriel yang seperti plester pada Camila.


"Karena Frost bukan lagi tunangan Camila, apa yang akan kalian lakukan?" Arianna menanyakan ini dengan sangat antusias, agak aneh melihatnya bahagia pada berakhirnya hubungan seseorang.


"Aku berencana untuk mengajukan proposal pertunangan pada panatua Blazemoche akhir bulan ini, aku tidak tau apakah Camila keberatan?" Gabriel mengatakan ini tanpa berhenti bergoyang-goyang di kursinya, tampak sangat senang sampai salah tingkah.


Camila lantas tanpa ampun memecahkan asap merah jambu yang terpancar dari pihak lain dengan mengatakan "Tidak bisakah kita melakukan proses yang lebih panjang, Gabriel?"


"Maksudnya?" ini adalah Arianna yang buka suara.


"Gabriel, mau minum kopi dulu?" Camila menjawab pertanyaan Arianna dengan pertanyaan lain untuk pria itu.


Mata penuh tanda tanya milik pria itu segera berubah menjadi penuh kembang api, dia bertanya dengan antusias pada pihak lain "Kau mengajakku berkencan?"


Camila menepuk kepalanya dengan santai, memperlakukan Gabriel seperti seorang anak baik dan menjawab singkat "Iya, ini kencan."


Pihak lain jelas tampak tidak bisa menutupi rasa senangnya, rona merahnya juga tampak semakin jelas "Bagus! Kalau begitu aku akan ganti baju dulu. Anna, boleh kupakai kamar mandinya?"


Arianna yang mengamati kedekatan keduanya dari samping, tentu sama antusiasnya dengan Gabriel. Andai saja saat ini Raymond tidak sedang memeganginya, dia tentu akan segera melompat-lompat di kasur. Akhirnya harapan yang sejak lama dia pemdam dalam-dalam menjadi kenyataan, dua orang yang memperlakukannya dengam sangat baik akhirnya bisa menjalin hubungan dengan tenang.


Meski begitu, dia tetap bingung dengan permintaan sahabatnya barusan. Arianna tidak bisa menahan diri dari bertanya "Tentu, tapi untuk apa? Bukankah pakaianmu sudah sangat bagus? Kau masih sangat tampan, Gabriel. Pakaianmu hari ini juga sangat serasi dengan Camila."

__ADS_1


Perkataan Arianna bukannya tanpa alasan. Hari ini Camila menggunakan gaun lavender polos yang sangat identik dengan warna mata Gabriel, sementara Gabriel sendiri mengenakan setelan kasual berwarna coklat muda yang sesuai dengan warna rambut Camila.


Gabriel yang baru menyadari ini melirik Camila dengan malu-malu, sebelum melarikan diri dengan tasnya kedalam kamar mandi.


Raymond tidak bisa lagi melihat dua orang itu, makanya dia dengan kejam sekali lagi menyumpal mulut Arianna dengan sepotong buah "Berhenti bicara dan makan."


Arianna dengan patuh mengunyah, tapi dia masih menatap Camila dengan mata yang menuntut jawaban.


Sebagai teman yang nyaris dipaksa menjadi pasangannya, Camila dengan singkat menjawab "Untuk meminimalisir upaya miring pihak oposisi, aku juga akan memakai kamar mandinya setelah Gabriel. Boleh?"


Arianna masih kebingungan, tapi tetap setuju "Uh .... Tentu."


Tidak butuh waktu lama sampai keduanya sama-sama mengubah diri menjadi dua orang yang sama sekali berbeda. Gabriel yang memiliki penampilan halus seorang tuan muda, sekarang sudah berubah menjadi seorang lelaki biasa yang menutupi seluruh rambutnya menggunakan topi. Camila yang pada awalnya memiliki penampilan anggun seorang nona muda, kini juga menjelma menjadi seorang siswi SMA yang tampaknya berada dalam acara tugas kelompok dengan messy bun dan jaket merah yang sangat bukan dirinya.


"Arianna, Raymond ... Kalau begitu kami pergi dulu, jangan mengatakan apapun mengenai kedatangan kami" ujar Camila, lalu dengan santai meraih tangan besar Gabriel untuk digandeng.


Gabriel yang salah tingkah sudah gemetaran di tempat, hanya mengikuti Camila yang menariknya berjalan berdampingan untuk pertama kali. Keduanya tidak menaiki lift, tapi dengan sengaja memilih untuk lewat tangga darurat tanpa mengatakan apa-apa. Keduanya baru buka suara saat sudah keluar dari kawasan rumah sakit dan berada didalam merumunan, dimana tidsk ada seorang pun yang mengenali mereka.


Gabriel tampak sudah pulih dari keterkejutannya, dan dengan nada normal merespon Camila "Mau duduk didalam atau diluar? Aku tau tempat tidak jauh dari sini yang menyediakan minuman dengan pelayanan yang cepat, aku yakin kau pasti akan menyukainya."


Camila tidak akan rewel selama mereka berdua bisa bicara, tanpa harus mengkhawatirkan orang lain yang mengintip "Kalau begitu kesana saja, kau tidak keberatan bukan?"


"Sama sekali tidak. Jarang-jarang kita bisa leluasa bermain dengan penyamaran semacam ini, sayang sekali kita dikejar waktu" Gabriel mengeratkan genggaman tangannya pada Camila, masih ada rona merah muda samar di wajah putihnya.


Melihat ini membuat Camila selalu ingin menggodanya lebih jauh.


Gadis itu memotong jarak keduanya dan langsung memeluk lengan si pria "Gabriel, aku yakin kau pasti mengerti apa yang ingin kubicarakan denganmu."


Tubuh Gabriel tersentak kaget karena afeksi tiba-tiba ini, dia tersedak ludahnya sendiri sebelum bisa menanggapi dengan tenang selerti biasa "Kau tidak ingin kita bertunangan karena waktunya kurang tepat?"

__ADS_1


Camila setengah menggelayuti lengan Gabriel, menarik-narik tubuh pria itu agar lebih dekat dengan dirinya "Benar, untuk detail pembicaraannya kurasa kita perlu tempat yang lebih menjaga privasi. Tapi aku tidak bisa membawamu ke kediaman Blazemoche untuk menghindari rumor."


Wajah Gabriel semakin memanas dan dia semakin menjaga jaraknya tanpa sadar "Kau bisa ke kediamanku, Camila. Kakek dan ibuku cukup menyukaimu."


Camila menyadari bahwa Gabriel sedang salah tingkah, tapi karena reaksi pria ini selalu menggemaskan, tentu saja dia akan terus menggodanya "Lebih tidak pantas lagi bagiku untuk ke kediaman Wundervei. Jika harga saham perusahaan kita merosot karena rumor jelek, bisa-bisa aku berubah pikiran."


Benar saja, Gabriel yang awalnya mencoba menjaga jarak langsung melingkarkan lengannya ke bahu Camila dan menariknya agar mereka lebih dekat, lalu merengek "Jangan ..."


Camila mengulas senyum dan mengusap kepala Gabriel yang tertutup topi, berhenti menggodanya "Tidak akan, oleh karena itu aku menyeretmu keluar. Apa kau suka kopi?"


Dia menjawab cepat "Suka."


Jarak mereka masih dekat karena Gabriel terus mempertahankan lengannya di pundak Camila, membuat gadis itu menjadi lebih leluasa untuk mencubit hidungnya "Jangan bohong, aku tau kau lebih suka teh."


Pria itu mengaduh dan memegangi hidungnya yang dicubit, kembali merajuk setelah sadar bahwa dia sudah digoda "Kalau begitu kenapa kau masih bertanya?"


Gadis itu sekarang ganti mencubit pipinya "Aku hanya ingin sedikit menggodamu saja."


Kening Gabriel berkerut dengan bibir yang cemberut, rona di wajahnya menjadi lebih merah dan dia bahkan mulai menutupi wajahnya "Camila, jangan terlalu jujur. Aku malu."


"Kau juga terlalu jujur padaku, Gabriel. Terkadang" balasnya.


Gabriel sekarang menjadi khawatir karena perkataan Camila, dia menggenggam kedua tangan gadis itu dan bertanya dengan panik "Tapi aku 'kan tidak pernah membohongimu? Apa maksudnya dengan terkadang? Apa kau kecewa padaku?"


Camila memainkan tangan mereka yang saling bertautan dan menjawab "Kau berbohong dengan niat untuk menyanjungku, Gabriel. Aku tidak kecewa, tapi aku lebih suka kau jujur padaku tentang apa yang kau suka."


Mendengar ini, senyum segera mekar sempurna di wajah Gabriel saat dia berkata "Aku paling menyukai Camila."


Ekspresi elegan dan dewasa yang dia pasang sejak awal langsung retak dan wajahnya ikut merona merah tanpa bisa menjawab "........."

__ADS_1


Dia masih tidak terbiasa dengan pengakuan Gabriel yang selalu tidak memandang tempat dan situasi.


__ADS_2