
Bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran terakhir sudah berakhir, Camila mengemasi barang-barangnya dan melihat jam dinding. Sudah pukul dua siang.
Seorang laki-laki berambut merah berjalan menuju meja depan dan mengetuk singkat buku gadis yang sedang beres-beres, bertanya
"Camila, apa kau ada janji hari ini?"
Pihak lain menjawab singkat sembari meliriknya
"Begitulah."
Lance mengangkat sebelah alisnya
"Dengan anak kelas sebelah itu?"
"Mhm."
"Berdua?"
"Tidak."
Lance menghela nafas lega dan menjadi lebih rileks
"Boleh aku ikut?"
Seolah mengingat sesuatu, Camila tiba-tiba mengangkat kepalanya dan bertanya
"Lance, bukankah keluargamu memiliki bisnis real estate?"
Lelaki itu menggeleng dengan rendah hati dan merespon dengan bingung, jarang sekali Camila menanyakan hal semacam ini
"Bukan aku, tapi keluarga ibuku. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal ini?"
"Aku ingin mencari rumah."
Sekarang Lance menjadi tertarik, memang tidak jarang anak-anak seperti mereka suka membeli properti sebagai investasi jangka panjang. Tapi biasanya mereka akan meminta koneksi orangtua dan bukan serta merta terjun sendiri.
Nadanya cukup bersemangat saat menanyakan detailnya
__ADS_1
"Oh? Rumah seperti apa?"
"Yang murah."
"... Aneh. Untukmu sendiri atau bukan?"
"Untuk Arianna."
Lance terdiam, sedangkan beberapa teman sekelas yang kebetulan mendengar percakapan ini merespon dengan senyum penuh arti dan tatapan 'aku tau tapi aku diam'.
Lelaki itu cemberut dan duduk di sebelah Camila
"Kau terlalu muda untuk menjadi Sugar Mommy, Camila."
"Konspirasi macam apa yang ada di kepalamu, Lance?"
"... Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa, kau menang."
"Camila!"
Itu adalah Arianna, rekan sekelas yang sudah terbiasa melihat anak ini mengekori Camila kemana-mana juga tidak lagi mengatakan apa-apa. Mereka hanya akan menatap keduanya dengan penuh arti.
"Dia menunggu di gerbang sekolah, bersama mobilnya. Dia mengatakan sesuatu seperti 'hati-hati' padaku, apa maksudnya?"
Camila juga kebingungan
"Mungkin sesuatu tentang Frost Harrison?"
Lance yang melihat mereka melekat pada satu sama lain, sudut mulutnya berkedut dan diam saja. Ketiganya berjalan dengan langkah cepat menuju gerbang sekolah, pada saat Lance melirik ke sebelah kiri tidak jauh, matanya tanpa sengaja menangkap sosok Frost Harrison.
Untungnya lelaki itu sedang tidak memperhatikan mereka dan hanya fokus bercanda dengan tiga orang gadis kelas dua, bersama antek-anteknya. Lance mendengus tidak senang, kenapa lelaki seperti itu harus menjadi tunangan Camila?
Karakter keduanya benar-benar tidak cocok, dan Frost sudah berlaku keterlaluan dengan selingkuh secara terang-terangan. Kenapa tidak ada seorangpun yang menegur perilaku vulgarnya?
Jika dibandingkan dengan Frost yang melukai Camila berkali-kali dan tidak bisa menjaga matanya, Arianna benar-benar lebih menyenangkan mata. Gadis itu tidak pernah memanfaatkan kekayaan maupun status Camila, keduanya murni berhubungan baik.
Lance lebih suka melihat dua gadis ini bersama, dibandingkan melihat Frost dan Camila di altar nantinya.
__ADS_1
Dia lebih suka Camila menjadi bengkok, dibandingkan harus tersiksa setiap hari dalam pernikahan bersama seorang pria.
Dia tersadar begitu Gabriel menepuk pundaknya, Lance tersentak saat tau bahwa dia sudah berada didepan mobil putih yang bersih. Gabriel bingung dan buka suara
"Kenapa kau melamun?"
Lance menggelengkan kepalanya
"Tidak ada, hanya ... Beberapa hal."
Gabriel hanya mengangguk, seolah teringat sesuatu dia lantas bertanya
"Ngomong-ngomong ... Apakah Camila yang memintamu ikut?"
Lelaki merah itu menggeleng
"Tidak, aku berinisiatif. Lagipula beberapa kerabatku menjalankan bisnis real estate, siapa tau aku bisa membantu."
"Benar, terimakasih kalau begitu. Tapi mungkin kami tidak mencari yang mahal, apakah keluargamu memilikinya?"
"Seingatku ada, tapi jaraknya agak jauh dari sekolah. Kira-kira setengah jam dengan mobil, satu jam dengan sepeda."
"Tidak apa-apa, tapi apakah lingkungannya bagus?"
"Bung, kau meremehkan bisnis keluargaku? Tentu saja iya! Kenapa juga kami membuka bisnis di lingkungan yang kacau?"
"Maaf, aku tak bermaksud demikian. Aku hanya tidak ingin dia mengalami hal serupa."
Lance melirik Gabriel dan mengajukan pertanyaan yang sejak awal cukup mengusiknya
"Gabriel, sebelumnya maaf kalau aku kasar. Tapi bolehkah aku bertanya?"
Gabriel tidak menduga akan dimintai izin seperti ini, merasa bahwa yang ditanyakan pihak lain cukup sensitif, dia dengan ragu menjawab
"Ya?"
Lance menatapnya lamat-lamat dan menghela nafas panjang
__ADS_1
"Apakah kau menyukai Arianna?"