
Tentu saja Gabriel akan bereaksi begitu mendengar kalimat itu, dia refleks menggenggam lembut pergelangan tangan Camila dan mengajukan pertanyaan dengan rasa sakit di hatinya, bercampur bingung "Apa maksudmu?"
"Seperti yang kukatakan barusan, Gabriel. Itulah maksudku" balasnya sambil menatap tenang rasa sakit di sepasang mata lelaki perak.
"Tidak, aku tidak menangkap maksudmu Camila. Aku bahkan belum mengatakan apa-apa, kenapa kau secara tiba-tiba memadamkan suasana?" Dia menarik Camila agar mendekat padanya, kelakuan ini sama sekali tidak mencerminkan second lead.
Gadis itu melirik ke sekeliling ruangan dimana semua orang sudah mengamati mereka berdua, seolah sudah menemukan tontonan menarik. Camila menarik nafas dalam-dalam dan balas menggenggam tangan Gabriel, menatap mata second lead lamat-lamat dan berujar serius "Ikut aku."
Menahan sesak di dadanya, Gabriel mengangguk patuh seperti anak baik dan membiarkan Camila membawanya masuk mobil keluarga Blazemoche. Dia melihat gadis itu mengatakan sesuatu pada sopir keluarganya sebelum berujar tenang "Kuantar pulang."
"Tidak!" Gabriel berseru sambil mengeratkan genggaman tangannya, menolak melepaskan.
Camila mengernyit tidak senang mendapatkan perlakuan ini dan memasang pemisah antara sopir dan mereka, bersiap untuk menceramahi bocah perak ini atau memarahinya kalau benar-benar diperlukan "Lepaskan, aku tidak suka ini."
"Kenapa? Aku bahkan belum mengatakan apapun, tapi kau secara sepihak mengakhirinya. Tidak bisakah kau setidaknya membiarkanku mengatakannya?" Gabriel mulai meracau, matanya berkilat penuh kesedihan.
"Gabriel, aku tidak menganggapmu seperti itu" balas Camila, berusaha melepaskan tautan tangan keduanya.
"Aku tau, tapi setidaknya kau harus mendengarkanku. Aku merasa sangat berat memendamnya sendirian saat kita bahkan harus terus bertatap muka setiap harinya, aku takut bahwa secara tidak sengaja mengatakan perasaanku dan merusak hubungan baik kita" jelasnya dengan raut seolah bisa menangis kapan saja.
"Gabriel, aku bukan orang seperti itu" sanggah Camila, masih mencoba melepaskan tangannya.
"Tidak bisakah kau mendengarkanku lebih dulu?" Sepasang mata ungu jernihnya sudah berkaca-kaca.
"Jawabanku tetap sama" tukas Camila.
Namun Gabriel justru terisak.
Camila seketika membeku.
Lelaki itu menundukkan kepalanya dalam-dalam dan tidak membiarkan wajahnya terlihat, tapi dia juga masih menolak melepaskan tangan mereka. Bagaimanapun juga, second lead ini masih sangat muda.
Masih 15 tahun.
__ADS_1
Dan Camila adalah cinta pertamanya, wajar bagi Gabriel untuk memiliki harapan tinggi akan perkembangan hubungan mereka.
Dia pikir sekalipun dia ditolak, setidaknya dia sudah lega karena sudah jujur pada perasaannya.
Namun Camila bahkan tidak mau mendengarkan isi hatinya dan langsung menolak, bukankah ini sangat jahat?
Camila seketika merasa sangat canggung dan bersalah pada anak ini "Gabriel?"
"Aku tau kau tidak menyukaiku, tapi aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku. Apakah sangat sulit bagimu untuk mendengarkan? Kau bahkan pernah menolak Lance dan membiarkannya tetap berkeliaran di sisimu, lalu apa bedanya antara dia dan aku? Aku juga memiliki perasaan khusus untukmu" isaknya.
Camila tidak tau harus merespon apa "......."
"Mengungkapkan apa yang kurasakan untukmu sudah sangat berat, terlebih aku tau kalau aku pasti akan ditolak. Tapi tidakkah kau pikir bahwa aku berhak mendapatkan jawaban yang pantas meskipun itu hanya kata 'tidak'?" Lanjutnya dengan bahu yang bergetar.
Camila benar-benar tidak tau harus mengatakan apa.
Gabriel terisak lebih keras dan akhirnya melepaskan tangan Camila, mengusap kasar air matanya menggunakan tangan dan berkata "Camila, kau benar-benar jahat."
Dia tidak tahan lagi dan menggenggam kedua tangan Gabriel, mendekatkan diri dan mengatakan "Maaf, aku yang salah."
Isak tangis Gabriel semakin memelan ".... Tidak."
"Kau malu?" Ejeknya.
"......"
Camila menepuk-nepuk kepalanya "Tidak apa-apa, normal bagi seseorang untuk menangis. Itu wajar, terlebih aku sudah menyakitimu."
"....."
"Gabriel, lihat aku."
"....." Masih tidak ada respon.
__ADS_1
Camila menghela nafas panjang, mencoba bersabar pada orang ini "Aku akan mendengarkan selama kau mau melihatku."
Lelaki itu langsung menatapnya, matanya sudah agak memerah karena terisak barusan. Camila mengulas senyum lembut dan membersihkan wajah Gabriel yang penuh air mata "Mari kita dengarkan, Gabriel."
Wajah Gabriel merona karena ditatap seperti ini, terlebih Camila sedang membersihkan wajahnya dengan lembut. Wangi lavender dari sapu tangan Camila, berhasil menenangkan rasa sesaknya sedikit "Aku masih kesal."
Dia menahan diri untuk tidak tertawa "Maafkan aku, ya?"
Laki-laki perak itu masih merajuk "Curang, padahal kau tau perasaanku."
"Kau mau mengatakannya apa tidak?" Desak Camila, karena mereka sudah hampir sampai di kediaman Wundervei, keluarga Gabriel.
Pipi Gabriel bersemu merah saat dia menjawab Camila dengan malu-malu "... Mau."
"Ya sudah" entengnya.
Gabriel menarik dan membuang nafasnya beberapa kali, lalu menatap penuh harap pada gadis di hadapannya dengan sepenuh hati. Jantungnya berdetak diluar kendali saat dia mengucapkan satu nama ini "Camila ..."
"Hm?" Balasnya.
Wajah Gabriel benar-benar merah "Aku menyukaimu."
Camila melihat raut lega si second lead dan tidak berniat menginterupsi.
Gabriel melanjutkan pengakuannya "Aku tau kau saat ini sudah memiliki seseorang yang sangat ingin kau lindungi dan sangat kau sukai, sampai-sampai kau tidak peduli pada nama baikmu sendiri demi orang itu. Tapi aku-"
"Sebentar. Ada seseorang yang kusukai? Siapa? Kenapa aku tidak tau?" Potong Camila, dia sama sekali tidak mengerti akan apa yang barusan dia dengar dari mulut bocah ini.
Gabriel berkedip bingung, menjawab "Bukankah kau menyukai Anna?"
Camila "......."
Gabriel "????"
__ADS_1
Camila merasa pusing seketika, sejak kapan dia menjadi bengkok? Kenapa dia tidak tau?