
"Camila, apa kau sudah sampai di rumah?"
"Dia tidak menyentuhmu 'kan?"
"Kalau dia menyentuhmu, itu hanya sebatas tangan 'kan?"
"Apa yang kalian makan barusan? Apakah perutmu tidak apa-apa?"
"Perlu kukirimkan sesuatu untuk lambungmu? Atau kau membutuhkanku bersamamu?"
Dia bahkan belum mengatakan apa-apa dan langsung mendapatkan rentetan interogasi.
"Kenapa aku merasa jadi pihak yang selingkuh disini?" Camila tanpa berpikir melemparkan lelucon ini.
Dia tidak menyangka bahwa pihak di seberang panggilan akan menanggapi lelucon ini "Kalau tidak selingkuh, apalagi sebutannya? Kau sendiri yang bilang kalau masih bertunangan dengan Frost Harrison, menolakku, tapi malah terang-terangan berkencan dengan orang lain."
Suara itu terdengar bergetar seolah memendam begitu banyak emosi, membuat Camila tanpa sadar memanggil namanya "Gabriel ..."
Gabriel di sisi lain, tidak menduga akan mendengarkan nada suara seperti itu saat Camila memanggil namanya. Dia yang semula berjalan memutar di ruang belajar karena gelisah, langsung melesat ke kamarnya sendiri dan melompat ke kasur, berbisik di telepon "... Aku cemburu."
Agaknya sudah cukup terbiasa dengan reaksi malu-malu semacam ini, Camila hanya membalas "Oh .... Maaf."
Respon barusan benar- benar acuh, membuat Gabriel mengulangi perkataannya barusan dengan penuh penekanan "Aku sangat cemburu, oke?"
Kembali ke sisi Camila, gadis itu menanyakan sesuatu secara yang sudah jelas "Kau marah?"
"Mn. Aku tau kita memang tidak memiliki hubungan semacam itu, tapi aku tetap saja cemburu" balas pihak lain.
Camila mengamati serial lukissn serta guci yang mendominasi sepanjang lorong, seolah sudah menghapus keberadaan Aiden dan memberi kesan hanya ada dirinya "Itu normal, bagaimanapun juga kau menyukaiku."
"Aku terkejut kau bisa mengatakan ini dengan tenang padaku, Camila" nadanya terdengar penuh ironi.
"Bukankah kau menyukaiku karena aku jahat?" Dia dengan lancang menanyakan ini.
"Bukan seperti itu ..."
Membuka pintu kamarnya, Camilacamila mendesak pihak lain agar langsung mengatakan tujuannya "Jadi ada apa menelpon malam-malam begini?"
"Tidak semua hal butuh alasan."
__ADS_1
"Kau merindukanku?" Dia tidak berniat memanjakan orang ini sama sekali.
"Mn."
Jawaban ini terdengar agak aneh, seolah camila bisa melihat Gabriel yang malu-malu secara langsung.
Dia menggantung tas tangan miliknya dan menjawab "Kita baru bertemu siang ini, Gabriel."
Terdengar bunyi gemerisik kain dari seberang panggilan, disusul suara canggung Gabriel "Tapi kita tidak bertemu selama tiga tahun."
"Oh ..." Ada bunyi gemerisik yang cukup heboh saat dia mengatakan ini, Camila menebak bahwa Gabriel pasti salah tingkah dan sedang bergulingan di atas ranjang.
Suara gemerisik barusan langsung berkurang intensitasnya saat Gabriel memanggil lirih "Camila?"
"Hm?"
"Sekarang kau sendirian di mansion Blazemoche 'kan?"
Menangkap maksud pembicaraan ini, gadis itu sontak membantah "Tidak juga."
"Aiden dan Chester sudah tinggal bersama, tidakkah kau kesepian?" Gabriel agaknya masih mencoba peruntungan.
Tidak ingin suasana menjadi canggung, Gabriel dengan cerdas mengalihkan pembicaraan "Ngomong-ngomong apakah kau dan Lance membicarakan tentang hal itu?"
"Mn."
"Hasilnya?" Dia benar-benar penasaran apakah Lance sudah mendapatkan hasil dalam waktu secepat itu.
"Tidak ada, hanya asumsi berdasarkan kebetulan. Masih butuh proses."
"... Sudah memberitahu Fiona?"
Suara Gabriel yang tertangkap olehnya entah kenapa menjadi lebih dan lebih lirih, tapi dia hanya berpikir bahwa mungkin pihak lain tidak sedang berbicara sambil memegang ponselnya "Setelah kau menutup panggilan, tentu saja."
".... Aku akan menyusun agenda untuk lusa, hubungi aku jika ... ada apa-apa. Kau ... suka teater musikal?"
Kali ini suaranya bahkan memiliki jeda di beberapa kata, tapi dia sekali lagi tidak ambil pusing dan menyarankan "Aku ingin mencoba backstreet."
Itu artinya kencan seperti orang biasa.
__ADS_1
Gabriel memiliki jeda yang cukup panjang sebelum berhasil merespon dengan "... Mn. Kalau begitu aku akan menjemputmu di gerbang belakang Blazemoche, pastikan untuk tidak mencolok."
"Aku ingin es krim" Camila menyarankan ini.
"Kalau begitu ingatlah untuk meminum obatmu dulu ... Apakah kita akan membuat reservasi di restoran untuk makan siang? Bagaimana ... kalau piknik?"
"Jangan, terlalu merepotkan. Memangnya kau tidak ada jadwal kuliah atau pertemuan bisnis?" Dia merasa perlu menanyakan ini karean suara Gabriel sangat tidak wajar saat ini, Camila bahkan bisa mendengar suara nafasnya yang cukup cepat dan berat.
".... Akan kuselesaikan semuanya besok, jadi lusa ... Kita bisa fokus pada satu sama lain. Mau aku yang menyusun agenda kencan kita? Atau ... mau kita coba buat bersama?"
"Mari menyusunnya bersama, hubungi saja aku kalau kau memiliki preferensi tertentu. Untuk saat ini aku hanya bisa mengatakan bahwa aku ingin es krim dan daging."
"...."
Tidak mendapatkan jawaban apapun selama dua menit, Camila bertanya dengan tidak sabar "Gabriel, kau masih disana?"
"Uh."
"Ada apa dengan suaramu?" Kenapa gabriel menjawabnya dengan lenguhan panjang?
"...." Tak ada jawaban, sekali lagi hanya ada bunyi gemerisik kain yang dia duga adalah selimut.
"Gabriel?"
"......."
"Gabriel?"
"Maaf, hari ini aku agak lelah. Kau juga masih harus menghubungi Fiona 'kan? Istirahatlah" gabriel akhirnya menjawab, nafasnya
"Oh. Selamat malam."
Gabriel mematikan panggilan telepon dan dengan perasaan campur aduk melihat kekacauan yang barusan dibuatnya, rambut peraknya bergerak lembut saat dia dalam diam membersihkan 'TKP'.
Mengacak-acak rambutnya sendiri, dia merasa semakin tidak nyaman meski sudah menyelesaikan panggilan "Gabriel, kau bukan binatang ... Tapi apa yang sudah kau lakukan?"
Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju kamar mandi dan mencuci tangannya "Ini ... Normal 'kan?"
"... Kurasa aku memang binatang."
__ADS_1
Dia mendapatkan kesimpulan ini akan dirinya sendiri.