
Anehnya, tidak ada satupun pergerakan dari Harrison selain dari pelacakan bom.
Nyonya Harrison tidak menghubunginya, demikian pula Fiona. Hanya Aiden yang menatapnya dengan sinis, Chester yang menahan diri untuk tidak merobek wajahnya, dan orangtua yang membekukan semua kartunya.
Dia adalah tahanan rumah.
Dia menatap gelas kristal yang disusun sedemikian rupa di tengah ruangan, juga Arianna yang berkeliling menyajikan minuman dalam seragam pelayan.
Protagonis wanita tersebut sangat memaksa dan tidak peduli harus jadi apa, yang penting berada dekat dengan temannya.
Camila menatap Arianna yang berkeliling dengan senyum cantiknya, pasti akan mengundang masalah lagi beberapa waktu dari sekarang. Gaun monokromnya berkibar saat dia berjalan mendekati sosok pria berambut merah, lalu berbisik "Bisakah kau menepikan Arianna lebih dulu? Bawa dia ke suatu tempat yang tidak ada manusianya."
Lance menoleh secepat kilat dan menatapnya dengan penuh jijik "Camila, kaulah yang harus menepi. Kau akan mendatangkan masalah jika kau mengajakku atau Gabriel mengobrol saat ini."
Camila menoleh ke beberapa titik dan mendapati beberapa orang dari keluarga utama Harrison, fokus menatapnya seolah ingin mengirisnya menjadi ratusan bagian.
Utusan Tuan besar Harrison ya?
Belum lagi selain mereka, ada satu hal lagi yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
"Bisakah kau berhenti berkeliaran sendiri seperti kecoak tanpa kepala?" Suara seorang pria langsung terdengar di telinganya, disusul oleh sebuah lengan kuat yang menggandeng tangannya.
Camila menahan diri untuk tidak mengumpat.
__ADS_1
Ini tunangannya, Frost Harrison.
Kemungkinan besar seluruh Harrison menjadi senyap belakangan ini, dikarenakan oleh kembalinya si setan kecil. Ini juga alasan mengapa dia ingin Lance cepat-cepat menyembunyikan Arianna, sebelum kedua tokoh utama ini menyadari kehadiran satu sama lain dan memulai percikan.
Dia tidak ingin ada kejadian memalukan di perjamuannya.
Camila memilih untuk menggigit peluru pada saat ini dan balas memeluk lengan Frost, dia tersenyum "Maaf, apakah kau merasa bosan?"
Frost sudah terbiasa akan perubahan perilaku Camila yang seperti bunglon, meski merasa tidak nyaman. Tapi seperti yang dikatakan Camila, yang paling munafik yang akan bertahan (dia tidak pernah mengatakan ini).
Kalau Camila sudah bersikap sok manis seperti ini padanya, berarti ada mata-mata Harrison dan saingan bisnis yang ikut diundang secara tanpa sengaja oleh mereka. Bagaimanapun juga, bisnis tidak bisa berjalan jika hanya mengandalkan suka dan tidak suka.
Dia tidak mau bersikap munafik, tapi dia tidak lagi sebodoh dulu. Jadi dia hanya berbisik pada Camila dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka "Berapa orang?"
Camila tersenyum malu-malu akan pendekatan ini, tapi mulutnya menjawab "B*ngsat, tiga tahun di luar negeri tapi kau masih membiarkan tikus-tikus ini mengawasiku. Kau benar-benar sampah."
Camila tertawa dan memukul pelan dada Frost, lalu membalasnya dengan "Setidaknya aku jenius, tidak seperti seseorang yang hanya bisa menggunakan selangkangannya untuk berpikir."
Senyum di wajah Frost membeku, dia meraih kedua wajah Camila dan mendekatkan kepala mereka. Bertanya penuh penekanan "Apa katamu, tukang selingkuh?"
Jelas bahwa dia bisa mengajak Camila berkelahi kapan saja dengan suara ini.
Camila memeluk pinggangnya dengan manja, tapi hanya Frost yang tau bahwa wanita muda ini sedang mencoba untuk mematahkan tulang punggungnya menjadi dua.
__ADS_1
Frost tampak berusaha melepaskan diri, tapi dia masih tau untuk tetap berakting seolah Camila sedang menggelitiknya dan tertawa lepas "Hentikan!"
Camila dengan senang hati memperkuat pelukannya, tapi tidak sampai membuat suara aneh. Saat pelukan ini terlepas, keduanya menatap satu sama lain dalam diam.
Frost adalah yang pertama kali mengusulkan "Mau bicara diluar?"
Camila mengangguk setuju "Tentu."
Gabriel melihat ini dari salah satu kerumunan dengan sebelah tangan yang memegang kotak kado kecil, matanya berkilat dan menatap punggung Frost seolah ingin melubanginya.
Ditatap sedemikian rupa, tentu saja Frost bisa merasakannya. Dia menoleh dan langsung bertemu dengan mata Gabriel yang sangat tidak santai. Bahkan saat perilaku tidak sopannya sudah terpergok,pria muda berambut perak tersebut tidak memalingkan wajahnya sama sekali.
Dia justru menatap Frost dengan mata setajam pisau dan bibir yang tersenyum.
Frost berbisik pada Camila yang masih bergandengan tangan dengannya "Ada apa dengan selingkuhanmu yang sangat kau sayangi itu?"
Camila melirik melalui sudut matanya hanya untuk satu detik, lalu menjawab dengan santai "Dia pasti membuat skenario aneh lagi di otaknya, biarkan saja."
Dia menarik Frost agar mempercepat langkahnya menuju tempat lain dari kediaman Blazemoche, mendesak "Cepat keluar."
Keduanya terus berbisik-bisik saat berjalan, dan ini membuat Gabriel merasa semakin tidak nyaman.
Dia tau rencana Camila dan apa yang akan dilakukan oleh wanita serakah itu, tapi rasanya tetap saja sesak.
__ADS_1
Manik ungu cerahnya menatap Aiden yang seperti biasa sedang menempeli Chester kemana-mana. Dia berpikir, bahwa dia harus mempercepat ini semua.
Dia tidak tahan lagi.