
"Kau serius akan berjalan sendiri ke kediaman Blazemoche?" Gabriel menanyakan ini dari dalam taksi, tidak yakin akan keamanan lingkungan mereka saat ini.
"Mn. Terimakasih atas waktumu hari ini, Gabriel" dia mengatakan ini dengan tangan yang sudah membuka pintu mobil, juga sebelah kiaki yang sudah terjulur keluar.
Sebuah tangan kasar yang hangat, dengan hati-hati menghentikannya "Camila, bisa tunggu sebentar?"
Gadis itu tidak menjawab, tapi hanya melihat apa yang akan dilakukan Gabriel. Pria itu secara tiba-tiba membongkar isi tasnya, lalu dengan bangga mengeluarkan sebuah kain berwarna lavender berukuran sedang.
Belum sempat Camila bertanya untuk apa itu, Gabriel mengulas senyum saat menatapnya. Lalu melilitkan kain tersebut ke pinggang Camila, membungkusnya seperti zongzi.
"Apa ini?" Bingungnya, menghentikan tangan Gabriel yang hendak membuat simpul mati pada kain itu.
"Kau memakai celana pendek dan menolak kubelikan pakaian, jadi setidaknya pakai ini. Diluar dingin" pria itu menjelaskan dengan tangan yang tidak berhenti bergelut dengan tangan Camila yang jelas tidak setuju akan niatnya.
"Gabriel, aku menghargai niat baikmu. Tapi aku akan kesulitan parkour saat memakai ini, jadi berhentilah mengurusi kakiku" Camila akhirnya berhasil menyingkirkan tangan Gabriel beserta kain di pinggangnya.
"Tapi nanti kau akan terserang flu, itu akan sangat mengganggu aktifitas sosial kita nanti" Gabriel dengan cemberut melipat kembali kain lavendernya.
"Benar. Biarkan dia mengikatmu, lalu akan kuikat kalian bersama di pohon oak Blazemoche secara terbalik" suara seorang pria yang sangat familiar tiba-tiba menyela.
Camila menoleh, bersitatap dengan wajah tidak senang Aiden dan wajah lelah Chester.
"Camila, keluar dari sana sekarang" pinta Chester, pria itu sesekali akan memijat area diantara kedua alisnya. Jelas merasa pusing.
Camila menurut dan langsung melangkah keluar dari taksi, tanpa menatap Gabriel untuk menghindari lonjakan amarah kakaknya.
"Camila, nanti-"
__ADS_1
"Gabriel, bisakah kau berhenti menjadi babi yang menggerogoti kubis kami?" Sentak Aiden, bahkan tanpa memedulikan masih ada orang asing disini selain mereka.
Supir taksi sudah berkeringat dingin sejak Aiden pertama kali bersuara, hanya bisa meminimalkan hawa keberadaannya agar tidak ikut diomeli.
"Kak Aiden, bukankah aku sudah menang satu kali dan berhak mendapat hadiah?" Sindir Gabriel dengan senyum manisnya yang biasa.
"Minta hadiahmu padaku, jangan seenaknya membawa pergi si bungsu" Chester mencoba menengahi, dia sudah menarik Camila agar berdiri di sampingnya. Tak lupa menatap Gabriel dengan mata penuh penilaian.
"Kau memang memenangkan sedikit favoritisme Camila, tapi bukan berarti kau bisa bertingkah seenaknya. Pikirkan wajah para panatua, bocah. Aku yakin Camila akan mendapat beberapa pukulan lagi karenamu" tekan Aiden pada pria yang mulai tampak kehilangan kesabaran di dalam taksi.
Chester menepuk pundak Aiden, memintanya untuk berhenti bicara saat ini. Lalu kembali menengahi "Kau harus mengerti bahwa ini bukan hanya soal kalian berdua, melainkan-"
"Kak Chester, aku tau. Bisa tolong berhenti bicara? Aku tidak ingin melihat pengumuman tentang skandal aneh lagi tentangku di media, aku mengerti" Gabriel menyela, senyum di wajahnya masih sama.
"Kakak, jangan menekannya. Aku yang mengusulkan ini" Camila ikut mencoba menengahi, lagipula semua ini terjadi karena dirinya sendiri sebagai pemicu.
Aiden tanpa ampun langsung mendorongnya mundur jauh-jauh, tidak peduli apakah Camila akan terkilir atau langsung jatuh ke tanah "Ini bukan tentang siapa yang mengusulkan apa lebih dulu, dan aku yakin kau tidak akan begitu bodoh sampai tidak tau soal itu, adikku"
Kehangatan dalam senyum Gabriel langsung turun beberapa derajat begitu mendengar kata-kata itu lagi "Bukankah aku sudah sangat sabar?"
"Kau tau kalau buah yang dibiarkan masak di pohon akan memiliki rasa manis yang lebih baik dibandingkan yang artifisial 'kan?" Chester mencoba bersabar, pada akhirnya dia akan menjadi pihak yang menyelesaikan semuanya.
Aiden terlalu marah untuk mengatakan apapun, dia menahan diri untuk tidak menghajar Gabriel semata-mata karena didikan Blazemoche. Camila juga demikian.
Gabriel menghela nafas panjang, menstabilkan emosinya sedikit sebelum kembali menampilkan senyum terbaiknya. Dia tampak menolak buka suara, bagaimanapun juga lebih baik diam dibandingkan mengatakan sesuatu yang akan dia sesali nantinya.
Keduanya memang menyebalkan, tapi apa yang bisa dia lakukan? Mereka adalah keluarga dari gadis yang dia suka.
__ADS_1
Chester menganggap keheningan semua orang sebagai persetujuan sekaligus gencatan senjata diam-diam, lalu memberi tip berupa cek pada si supir taksi yang dari tadi membisu karena takut pada mereka "Maaf atas keributannya, pak. Saya akan sangat menghargainya kalau anda tidak buka mulut tentang kejadian malam ini."
Pihak lain yang menerima cek, langsung mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Dia mengambil cek dengan gugup, lalu tanpa sengaja menggenggam sedikit jempol Chester.
Aiden yang melihat ini langsung menarik Chester ke sisinya, melotot "Kalau sampai ada satu kata saja di media akan kejadian malam ini, anda adalah orang pertama yang akan kucari."
Supir taksi tersebut kembali mengangguk-angguk.
Camila bertukar pandang dengan Gabriel yang masih didalam taksi, keduanya mengangguk sebagai salam untuk satu sama lain. Sebelum akhirnya mobil itu berbalik pergi meninggalkan mereka.
"Camila, pimpin jalan" titah Aiden, raut wajahnya tampak sangat tidak sedap dipandang. Oleh karena itu Camila tidak membantah sama sekali dan berjalan didepan keduanya.
"Camila, perhatikan tata kramamu pada nyonya Harrison" Chester setengah mengancam sekaligus mengingatkan tentang ini.
"Kupikir ayah yang akan marah" responnya, dengan kepala mendongah memperhatikan langit malam yang tampak dari posisinya.
"Aku sudah mengirim pesan soal ini, persiapkan saja dirimu. Kurasa ayah akan memukulimu secara langsung alih-alih menggunakan papan kayu" Aiden ikut memperkeruh suasana dengan mengingatkan kembali akan betapa mengerikannya ayah mereka.
"Soal itu pikirkan saja nanti, masalah mendesak saat ini adalah keluarga Harrison" pancing Aiden, seperti biasa dengan nada bicaranya yang tidak mengenakkan.
"Benar, kurasa nyonya Harrison akan menginterogasi dan bahkan tidak akan segan mengkonfrontasi perusahaan kita karena ini" Chester mulai memberikan petunjuk, seolah mereka sedang bermain tebak-tebakan.
"Beliau meminta paparazi untuk mengawasiku dan Gabriel?" Dia bertanya dengan agak was-was.
"Tidak juga. Tapi kurasa ada beberapa orang yang melapor, kau 'kan menantu kesayangan mereka. Sekarang lebih baik pikirkan bagaimana beliau akan mengatasimu, dan kau sendiri pikirkan bagaimana caramu mengganti kerugian perusahaanku" sinis sang kakak.
Jadi ini alasan Aiden tampak begitu marah.
__ADS_1
Bukan karena adiknya pulang malam tanpa pamit bersama pria asing.
Melainkan karena kerugian perusahaannya yang timbul akibat tercoretnya reputasi Camila.