
"Kau benar-benar mendapatkan rasa hormatku, Camila" Aiden melihat gadis yang sedang memunggunginya, setengah telanjang dengan seorang pelayan wanita.
Sang adik melirik tanpa membalas sarkasme barusan, kakak yang satu ini memang menyebalkan.
Aiden berjalan mendekat dan memperhatikan kulit punggung Camila yang terkelupas, lebam yang sangat parah tanpa bisa mengeluarkan setetespun darah. Dia menghela nafas panjang dan bertanya "Berapa papan?"
Camila menjawab dengan suara serak "Dua puluh."
"Dulu aku menerima lima puluh, saat mengakui seksualitasku" balas si pria.
Camila menerima gelas air yang disodorkan oleh pelayan pribadinya, meminumnya tanpa banyak bertanya. Aiden melihat gadis kecil yang dengan gemetaran minum air, punggungnya tampak kaku sekalipun sangat lelah. Jika anak ini sedikit saja menekuk tubuh, maka robekan kulit di punggungnya akan semakin meluas. Ditambah karena dia menahan sakit, maka sejak keluar dari ruang disiplin, tubuhnya terus berkeringat.
Pasti sangat menyakitkan, mengoleskan garam pada jaringan tubuh yang terbuka.
"Aku tidak akan berkomentar apa-apa, kau harus ekstra hati-hati mulai sekarang" begitu mengatakan ini, Aiden segera berbalik pergi meninggalkan Camila.
"Yui, kau boleh pergi" Camila melambai pada pelayannya.
"Nona, apakah saya diizinkan untuk berkomentar?" Tanya Yui, dengan mata merah menahan tangis untuk keadaan menyedihkan nona mudanya.
"Sudah kubilang berhentilah bicara dengan pemilihan kata seolah kau adalah budak" tegasnya.
Yui seketika diam.
"Aku tidak memiliki cukup tenaga untuk merespon apapun, jadi katakan saja besok. Kunci pintunya saat kau keluar" ujar Camila.
"Baik, nona. Selamat beristirahat" Yui membungkuk sopan satu kali dan pergi sesuai perintah.
Dia melirik pintu yang tertutup rapat dan terkunci dari luar, menunggu selama lima menit sembari mendengarkan detik jam di kamar. Barulah dia ambruk ke kasur tanpa peduli bahwa tindakannya ini semakin merobek kulit punggungnya, tatapannya menjadi tidak fokus dan nafasnya tersengal-sengal.
Keluarga Blazemoche terlalu tegas dalam mendisiplinkan anak mereka. Benar-benar diluar dugaan.
Firth dan Ardore Blazemoche bahkan melarang siapapun untuk membantunya mengobati luka malam ini. Biarkan anak nakal ini mengobatinya sendiri. Oleh karena itu Yui hanya membantunya membersihkan diri dan mengatur ulang kamarnya.
"Kalau kau memang sedemikian rupa ingin dihajar, maka biarkan ayah memberimu pelajaran."
"Kalau kau memang ingin ikut campur, maka kau harus terbiasa dengan rasa sakit. Aku akan melemparmu ke pelatihan militer dua bulan lagi, jaga dirimu sendiri."
"Kali ini memang hanya memar dan sedikit trauma kulit. Tapi suatu hari nanti bisa saja kau mengalami sesuatu yang lebih parah dari ayah dan ibumu."
__ADS_1
"Tanamkan rasa sakit ini di otakmu, jangan mempercayai siapapun dan selalu biarkan orang lain yang membukakan pintu untukmu. Waspadalah."
Camila benar-benar tidak tau harus berkomentar apa akan cara mendidik anak ala Blazemoche, tapi Camila yang asli berhasil menjadi jenius berkat ini.
Cara yang buruk dalam membesarkan anak, tapi setidaknya lebih baik dibandingkan bagaimana Harrison mendidik anak-anak mereka.
Dengan rasa kesal dan penghinaan yang membuncah di hatinya, Camila tidur dalam rasa sakit.
.........................
Dia baru pulih tiga minggu kemudian.
Dan saat ini ada tiga orang yang sedang mengerumuninya.
Arianna yang izin dari tempat kerjanya dan sedang marah besar karena ketidakadilan yang diterima Camila. Lance yang hanya bisa menghela nafas dan menahan ngilu akan hukuman fisik keluarga Blazemoche. Juga Gabriel yang menatap sayu gadis yang dia suka.
"Sudah berkali-kali terjadi, tidak apa. Bekasnya juga akan hilang dengan bantuan produk keluarga kami" Camila membalas enteng.
"Kau akan menjadi subjek uji coba?" Lance bertanya sambil mengintip bekas luka yang tampak dari lengan atas pihak lain.
"Mengatakannya sebagai subjek uji coba itu keterlaluan, Lance. Ingatlah bahwa keluarga kami berjalan dalam industri kecantikan dan bukan obat, jadi jaga mulutmu" seloroh Aiden yang masuk tanpa diundang.
"Aku mengajukan izin" balasnya, lalu dengan enteng menggeser tubuh Lance dan Gabriel jauh-jauh dari adiknya.
"Minggir, sudah waktunya minum suplemen" usirnya, meskipun percuma saja karena tidak ada yang mau menurutinya.
Camila mengambil lima suplemen berbeda yang dibawakan Aiden, lalu meminumnya dengan secangkir teh. Arianna masih diam mengamati, hanya wajahnya saja yang menahan amarah.
"Kak, tidakkah hukuman semacam ini keterlaluan? Kita sudah bukan masyarakat feodal yang harus menggunakan hukuman fisik, tapi kenapa keluarga kalian melakukan ini? Ini kekerasan terhadap perempuan dan anak, aku bisa melaporkannya ke polisi!" Tuding Arianna.
Anak ini adalah protagonisnya, tentu saja dia akan memiliki rasa keadilan yang tinggi namun naif. Mungkin anak ini ingin membalas kebaikan Camila, yang sudah membuatnya lepas dari keluarganya yang suka main tangan.
"Arianna, masalah yang disebabkan Camila kali ini terlalu besar untuk diabaikan. Adikku yang tersayang ini tidak hanya membahayakan keselamatannya, tapi juga seluruh anggota keluarga dan bisnis Blazemoche. Yang lebih parah adalah dia tidak merasa bahwa perbuatannya salah dan tetap keras kepala" jelas Aiden, sambil melemparkan permen ke wajah pihak lain.
"Dia pantas dipukul agar jera dan terbiasa, tapi tekadnya benar-benar sekuat baja. Kucing serakah" sarkasnya.
Gabriel melirik Aiden dan secara naluriah bersembunyi di balik tubuh Camila, masih agak trauma akan pertemuan pertama mereka. Atau setidaknya itulah yang dipikirkan oleh dua gadis disana.
Aiden menatap dingin bocah perak yang bersembunyi dibalik adiknya, sementara Gabriel sendiri membalas dengan tatapan yang tak kalah dinginnya.
__ADS_1
"Kalau keluarga Blazemoche ingin mendisiplinkan Camila untuk kesalahan sebesar itu, tidak akan cukup dengan pemukulan saja 'kan?" Tanya Lance, dia berdiri di sebelah Arianna dan menepuk pundak gadis itu agar tenang dan tidak lagi sembarangan memarahi orang.
"Katakan. Apa yang ingin dilakukan keluarga Blazemoche padanya?" Lanjut lelaki berambut merah ini.
"Pertanyaan bagus. Biarkan pihak yang terlibat saja yang menjawab pertanyaan itu, bagaimanapun juga aku tidak memiliki akses ke ruang hukuman" enteng Aiden, tatapannya jatuh pada sosok tenang adiknya.
"Camila?" Gabriel memanggil setengah berbisik, tangannya dengan lembut meraih jari telunjuk gadis itu.
"Pelatihan militer, mungkin tiga tahun" enteng Camila.
"Militer? Lalu bagaimana dengan sekolah?!" Pekik Arianna.
"Keluarga kami bisa menunjuk tutor untuknya. Sedangkan untuk ijazah dan titel, dia bisa langsung mengikuti ujian. Adikku yang tersayang ini sangat pintar, tentu tidak akan ada masalah" Aiden membantu menjawab.
"Lalu bagaimana denganku?" Lance ikut memekik.
"Bocah, langkahi dulu mayatku kalau kau ingin mengencani Camila" Aiden mengancam Lance tanpa ragu sambil mengacungkan pisau buah ke wajahnya.
Sudah cukup dengan si anjing Gabriel, jangan sampai monyet merah seperti Lance ini juga ingin mendapatkan adiknya.
"Kau akan meninggalkan kami?" Gabriel mengguncang lembut jari Camila yang sedang digenggamnya.
"Lalu bagaimana denganku?" Lanjutnya.
"Jangan khawatir, beberapa tahun tidak akan terasa selama itu" Camila tidak bohong saat mengatakan ini.
Dengan jauhnya male lead dan antagonis dari si tokoh utama Arianna, kesadaran dunia tidak akan membuat waktu berjalan lama untuk pihak yang terlibat. Karena itulah dia yakin bukan masalah untuk meninggalkan Gabriel disini.
Akan lebih bagus kalau lelaki perak ini akan mencintai Arianna saat dia sudah kembali.
"Aku akan menunggumu" bisik Gabriel, penuh tekad.
"Jangan. Nikmati saja hidupmu dan kembangkan potensimu" Camila berpesan padanya.
Gabriel seketika teringat pertarungannya dengan Aiden dibalik layar, dan hanya bisa mengangguk.
"Jaga Arianna untukku" dia berpesan sekali lagi, bagaimanapun juga mustahil bagi tokoh utama novel sampah untuk tidak mendapatkan masalah.
Sudut mata Gabriel berkedut begitu mendengar ini.
__ADS_1