
Para siswa langsung mencibir kelakuan ini.
"Apa-apaan itu? Aku tau Frost membenci perjodohannya dengan Blazemoche, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya main tangan."
"Ini bukan pertama kalinya. Beberapa waktu lalu Frost bahkan mempermalukan Camila kami di depan umum, tapi menolak memutuskannya."
"Sungguh? Sebenarnya apa yang dia pikirkan?"
"Kalau aku jadi dia. Maksudku ... Dalam konteks tidak menyukai tunanganku dan pihak lain berinisiatif untuk putus, aku tentu akan menerimanya. Setidaknya kami bisa menjadi teman baik dan menempuh jalan masing-masing."
"Kudengar dia juga menyukai Anna dari kelas satu? Tapi baik Camila dan Anna adalah teman baik sekarang, Anna bahkan nyaris setiap hari menolaknya dan menghindari Frost jauh-jauh. Tapi Frost tetap memaksanya."
"Kejadian waktu Frost mempermalukan Camila, itu sangat tidak enak dipandang. Kalau saja tidak ada Gabriel dan Lance yang menghentikannya, Frost pasti sudah menonjok Camila."
"Gila. Dia monster ya?!"
"Dia memang tampan dan sangat kaya, tapi terus kenapa? Dia minus di segala hal tanpa nama Harrison, aku sendiri tidak paham mengapa Frost jauh lebih populer dibandingkan Gabriel."
"Benar! Jelas-jelas Gabriel juga sangat kaya dan tampan. Terlebih dia begitu lembut, sopan dan aktif sebagai siswa. Tapi namanya seolah tenggelam."
"Gabriel siapa?"
"Tuh 'kan?! Bahkan masih ada orang yang tidak mengenal bintang olimpiade sekolah kita!"
Camila mati-matian menahan senyum, tidak juga bergerak dari posisinya. Aiden khawatir adiknya kenapa-kenapa dan tanpa bertanya langsung menggendongnya. Melihat wajah tenang tapi dengan sorot mata yang penuh konflik ini, dia bertanya "Camila, jangan bilang kalau kau menyukainya?"
Kerumunan menjadi hening, menatap Camila lekat-lekat.
Gadis itu tidak menjawab, malah menundukkan kepala dan menyandarkannya pada dada bidang sang kakak. Sosoknya yang selalu tegap dan tangguh, kini meringkuk dengan bahu gemetar di pelukan Aiden.
Tanpa diberitahu sekalipun, kerumunan memiliki satu kesimpulan yang sama. Camila mereka, si Ratu akademi yang merupakan jenius serba bisa, menangis.
Chester melirik Fiona yang mengangguk puas, sebelum wanita itu menghilang menuju parkiran sekolah. Dia turut menahan senyum, lalu melepas jasnya untuk menutupi Camila. Pria yang memakai kemeja hitam tersebut lalu berbisik pada temannya yang panik dan membatu "Lakukan aktingmu sebagai kakak yang baik, Aiden."
"Akting?" Dia tercengang
Chester dengan telaten menepuk kepala Camila yang sudah terbungkus, lalu bergeser ke samping sambil berbisik "Adikmu bekerja sama dengan Fiona, sekarang sudah sempurna. Kali ini giliranmu."
__ADS_1
Aiden langsung mengerti, dia menatap penuh selidik pada adik ini "Kau harus menjelaskan ini padaku nanti, Camila."
Camila hanya mengangguk saja.
Aiden juga merasa tidak nyaman diperhatikan oleh para mata yang ingin tau ini, memilih kata-katanya "Jangan mengorbankan harga dirimu untuk cinta, Camila. Dia sampah."
"Hubungan yang bagus harus diperjuangkan oleh dua pihak, dan bukan hanya satu pihak. Kalian adalah tunangan, bukan pastor yang sedang berkhotbah dengan para jemaat."
"Tidak masalah kalau kau kehilangan dia, cukup ingat saja kalau kau masih memiliki Blazemoche."
"Jadi, mari kita pulang. Menangislah sebanyak yang kau mau hari ini, tapi angkat kepalamu dengan bangga besok."
Chester melirik teman ini, menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Mengikuti keduanya menuju tempat parkir, mengundang rasa takjub dan tanda tanya para siswa.
"Kakak Camila benar-benar keren! Itu baru pasangan idaman! Dewasa, matang, mapan, perhatian!" Puji seorang gadis berkacamata, yang awalnya ingin ke perpustakaan.
"Jangan lupa ... Uang hasil keringat sendiri dan bukan minta pada patriark keluarga!" Sahut lelaki berambut pirang di sebelahnya.
"Tapi siapa pria yang berjalan di sampingnya itu? Bukankah dia anggota keluarga Harrison?" Gadis berambut merah tiba-tiba bertanya.
"Dia tampan ..." Beo si gadis berkacamata.
"Aku mau salah satu dari mereka ..." Lamun gadis berpita biru.
Si rambut merah menyikut teman ini "Ngaca dong."
"Kuharap salah satunya jadi buta dan jatuh cinta padaku!" Pekik gadis berseragam olahraga secara tiba-tiba.
"Heh!!"
"Harus buta dulu sebelum jatuh cinta padaku, apa aku sangat tidak pantas bersanding denganmu?" Ratap si gadis berkacamata.
Lelaki pirang menepuk pundaknya "Sudahlah. Kubur saja harapan kalian."
"Kenapa?" Tanya para gadis secara serentak.
Lelaki pirang itu menyuruh semuanya mendekat, lalu berbisik misterius "Kudengar Aiden berkencan dengan Chester."
__ADS_1
"Hah?! Serius?!" Pekik mereka.
"Uh ... Kenapa pria tampan selalu saja menjadi milik orang atau gay?! Ini tidak adil! Aku juga mau bersama pria tampan!" Protes di gadis berpita biru.
Lelaki pirang langsung menunjuk dirinya sendiri, tersenyum sumringah "Aku tidak punya pacar kok."
"Tapi kau tidak tampan" balas si gadis berpita biru.
"Heh. Ngajak berantem ya?"
"Tapi menurutku ini lebih baik ..." Ujar gadis berambut merah.
"Gila ya?" Timpal si gadis berkacamata.
"Coba bayangkan, keduanya sangat luar biasa meskipun terbilang muda. Kita pasti akan nyinyir pada istri masa depan mereka tak peduli sepantas apa wanita itu, sedangkan kalau keduanya bersama ..." Jelas si rambut merah dengan kata-kata yang diseret di akhir.
Mata gadis berkacamata seketika cerah "Kita tidak perlu iri pada wanita manapun! Kita juga tidak perlu merasa rendah diri karena gagal mengejar mereka, karena keduanya gay! Dan kita bisa menikmati ketampanan keduanya sekaligus dalam waktu bersamaan!"
"Benar juga!" Gadis berpita biru membenarkan.
"Kau jenius!" Gadis berseragam olahraga juga turut memujinya.
"Apa hanya aku yang bertanya-tanya tentang sejarah hubungan mereka?" Lelaki pirang bertanya-tanya.
Gadis berseragam olahraga tampaknya juga tidak bisa membayangkannya, dan menimpali "..... Aku juga."
"Pangeran dingin yang tangguh, dan pangeran buangan yang bekerja keras agar bisa bersanding secara pantas dengannya ..." Beo si gadis berkacamata.
".... Aku mendadak ingin menulis tentang mereka" lanjutnya.
Mata para gadis langsung berbinar dan mengguncang-guncang si gadis berkacamata "Tulis! Cepat tulis!"
"Ngomong-ngomong ... Memangnya kita saling kenal?" Tanya si lelaki pirang tiba-tiba.
Ketiganya langsung terdiam, menatap satu sama lain dengan canggung.
Sadar akan situasi awkward ini, lelaki pirang itu berdehem dan mengusulkan "Kalau begitu ... Mau berkenalan dulu?"
__ADS_1