Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Realisasi diri


__ADS_3

Camila hanya bermaksud menggoda Gabriel sedikit sebelum menjauhkan wajahnya, bagaimanapun juga second lead adalah milik protagonis wanita dan pembaca. Oleh karena itu dia agak terkejut saat Gabriel tidak hanya mengatakan bahwa dia tidak menyukai Arianna, melainkan juga meminta ciuman darinya.


Wajah lelaki ini tampak sangat merah dan bibirnya yang menantikan ciuman pertama, bergetar.


Camila diam-diam merasa awkward dan ingin berhenti, tapi sudah terlanjur.


Lance juga tidak mungkin bisa menolongnya, figuran satu itu baru saja pergi karena di telvon oleh pengurus rumahnya.


Untungnya, kesadaran dunia menyelamatkannya kali ini.


Sebuah ketukan berulang terdengar dari luar bilik mereka berdua, disusul oleh suara sopan seorang pelayan wanita "Permisi, pelanggan yang terhormat. Maaf atas ketidaksopanan kami, tapi waktu anda mereservasi bilik restoran sudah habis, apakah anda ingin memperpanjang reservasi?"


Pertanyaan dari NPC tersebut terdengar tepat saat hidung keduanya sudah menempel, Camila lantas menarik diri dan berdiri untuk membayar tagihan secara tunai. Mereka sudah membicarakan ini sebelumnya, tagihan akan dibagi menjadi tiga atas nama Lance, Camila dan Gabriel.


Gabriel masih terpaku di posisinya, hanya berkedip-kedip.

__ADS_1


Camila yang melihat ini, diam-diam mengambil tasnya di samping meja dan melambaikan tangannya di hadapan second lead yang masih bingung. Bertanya-tanya kenapa anak ini selalu saja mendadak melamun tanpa alasan di siang hari "Gabriel?"


Lelaki itu gelagapan di tempat dan saat tatapannya bertemu dengan mata Camila, dia kembali mengalihkan pandangan dengan wajah yang merona hingga telinga.


Nyaris ...


Tadi itu nyaris saja!!


Kenapa Camila santai sekali soal hal-hal seperti ini?


Camila membiarkan saja lelaki perak yang tampak panik tersebut dan fokus pada urusannya sendiri, menelpon sopir keluarga Blazemoche untuk menjemputnya. Mungkin situasi nanti malam akan cukup kacau mengingat urusan pribadinya dengan Frost, bahkan mungkin akan ada utusan dari keluarga Harrison untuk berunding dan mencoba memperbaiki pertunangan sebelum situasi menjadi lebih tak tertolong lagi.


Dia benar-benar membenci setting dunia ini.


Untungnya dia mengambil peran sebagai penjahat, makanya dia tidak perlu mengikuti jalan kebanyakan wanita di novel sampah ini. Dia tidak mau dijadikan alat perdagangan untuk menjalin kerjasama, dia juga tidak mau duduk diam menjadi cantik dalam vas tanpa kemampuan apa-apa.

__ADS_1


Itulah alasan so tokoh utama wanita sangat dicintai, tapi juga mengalami nasib tragis karena direndahkan oleh cintanya sendiri. Tapi Camila berbeda, dia menikmati perannya sebagai penjahat.


Karena penjahat selalu menjadi karakter yang paling keren dalam sebuah buku.


Camila berjalan keluar dari bilik dan mendapati Gabriel yang tampak ingin melarikan diri, tapi tidak bisa karena tidak mau meninggalkan Camila sendirian. Lelaki perak itu bergerak-gerak gelisah di tempat, lalu wajahnya bersemu merah kembali dengan seulas senyum lembut yang khas begitu mata mereka bertemu "Camila, apa yang membuatmu lama?"


Gadis itu tidak menjawab, dia hanya mengamati Gabriel mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mengingat gelagat aneh orang ini setiap kali mereka bertemu, dan kata-katanya yang seringkali ambigu.


Dia menghela nafas panjang.


Camila bukan orang bodoh, tentu dia mengerti apa yang dipikirkan oleh Gabriel.


Gadis itu mendekat dan menepuk santai pundaknya, lelaki ini tersentak sebagai respon dan tidak berani menatapnya. Sementara orang-orang di cafe sepertinya sudah salah paham dan menganggap keduanya berkencan.


Dia tidak berniat untuk basa-basi antar sepasang teman dan berjalan keluar, tapi begitu melewati Gabriel, Camila langsung berujar dingin "Seharusnya yang kau sukai adalah Arianna Mackenzie, bukan Camila Blazemoche."

__ADS_1


Rona merah dan senyum malu-malu Gabriel seketika lenyap.


__ADS_2