
"Jadi kau sekarang menjadi tahanan rumah? Dibawah pengawasan ketat kepala pelayan?" Pertanyaan ini terdengar sangat tidak enak begitu diterima oleh otak Camila.
Normal untuk sedih, marah dan kecewa saat seseorang membatalkan janji mereka. Tapi entah karena Gabriel sudah terlalu lama bersabar serta menahan diri, pertanyaan barusan terdengar sangat kompleks.
Dia hanya bisa merespon dengan "Mn."
Hening.
Camila bisa mendengar suara samar dari ketukan jari Gabriel pada sesuatu, yang lambat laun menjadi semakin cepat. Jelas, anak ini sedang marah.
"Tidak apa-apa, lebih baik kau istirahat saja. Kita bisa mengundur rencana kita di lain waktu" balasnya setelah beberapa waktu.
Bahkan saat pria ini marah, dia tidak sekalipun menimpakan kekesalannya pada Camila, walaupun memang itu disebabkan olehnya. Kalau Camila berada di posisinya, pasti dia sudah mencari orang lain untuk disukai, seperti Lance.
Namun second lead tidak akan menjadi second lead tanpa hati bajanya, yang tanpa pamrih dan sangat setia meski sudah dicampakkan berkali-kali.
Padahal Gabriel layak mendapatkan orang yang lebih cocok, tapi pria itu dengan keras kepala memilih bertahan.
"Camila?"
Panggilan itu membuatnya langsung tersadar dari lamunan, dia memejamkan matanya rapat-rapat dengan canggung. Gadis itu menjauhkan ponsel dari wajahnya dan mengambil nafas, menenangkan diri. Terkadang Gabriel sangat menyeramkan.
__ADS_1
"Masalahnya adalah selepas perjamuan Blazemoche akhir bulan ini, aku akan mulai terjun ke masyarakat sosial. Saat itu terjadi, tidak akan ada waktu lagi untuk makan diluar selain acara bisnis dan perjamuan" jawabnya, yang sekali lagi membunuh topik pembicaraan mereka.
Butuh waktu beberapa saat sebelum Gabriel merespon dengan bisikan penuh rasa kecewa "..... Maksudmu kita tidak akan bisa berkencan? Tidak jadi? Batal?"
Tentu saja dengan sedikit mendesak Camila untuk menjawab.
"Bukan itu maksudku" dia cepat-cepat menyanggah, khawatir akan iso kepala Gabriel yang tak pernah berhenti membuat asumsi seenak hati.
Jelas Gabriel di seberang sana merasa lega dan sangat senang, tapi dia segera tersadar akan sesuatu. Lalu dengan hati-hati bertanya "Kau baik-baik saja?"
Mungkin maksudnya adalah mengenai kondisi tubuhnya setelah mengalami pengeboman secara pribadi.
Gabriel bukanlah tipe orang yang akan menyebarluaskan rahasia, jadi Camila tanpa berpikir panjang mengiyakan pertanyaan barusan "Mn. Karena itulah aku mengusulkan backstreet, jangan kemari menggunakan mobil keluargamu. Terlalu mencolok."
Camila mengingat-ingat baik itu rute kediaman Blazemoche maupun jalan tikus lain di sekitar sana "Dua kilometer dari kediaman Blazemoche, terserah kau mau menggunakan kendaraan apa. Aku tidak rewel. Ingat, jangan membawa satupun barang Wundervei."
Gabriel tertawa terbahak-bahak akan betapa seriusnya Camila.
".... Apa yang lucu?" Tanyanya.
Gabriel langsung berhenti tertawa, tapi suaranya agak gemetar akibat menahan tawa. Dia tanpa sungkan mengatakan isi pemikirannya "Camila, kau mengatakannya seolah aku adalah seorang selingkuhan."
__ADS_1
"Secara teknis, kau memang selingkuhanku" yang dijawab tanpa ragu pula oleh Camila, dia tidak merasa perlu untuk merahasiakan ini pada Gabriel.
"Demikian juga dengan Lance dan Anna?" Gabriel balas bertanya padanya.
"Tidak. Hanya kau yang paling menonjol" jawab Camila sambil tanpa sadar menggelengkan kepala. Tidak enak disalahpahami.
Jawaban itu membuat mood Gabriel melonjak naik pada ketinggian baru "Anehnya aku merasa senang."
"Karena kau tidak normal, Gabriel."
Jawaban acuh gadis ini sekali lagi memicu tawa dari sisi Gabriel, dan memicunya untuk berkata "Kudoakan semoga kalian cepat putus, Camila."
Mendengarkan harapan yang sangat tidak sopan seperti itu, dia terkejut "..... Hei."
"Putuskan pertunanganmu, dan datanglah padaku" tapi Gabriel memang tidak mau berhenti jika mereka sudah terlanjur membicarakan persoalan ini.
Dia sampai tidak tau harus menjawab apa.
"Gabriel, ingat saja untuk tidak mencolok dan jangan memakai satupun barang bermerek" Camila mencoba mengalihkan fokus Gabriel saking bingungnya.
"Mn, akan kuingat! Sampai jumpa besok!" Gabriel tidak lagi mendesak ataupun mempermalukannya lebih jauh, dan berpamitan. Ingin mempersiapkan diri untuk kencan mereka besok.
__ADS_1
"Dan ingatlah untuk membawakanku minuman, aku akan berolahraga sedikit" Camila berpesan untuk terakhir kalinya sebelum menutup panggilan secara sepihak.