Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Beberapa hal yang berubah


__ADS_3

"Kenapa? Kau tidak sabar berlari ke pelukan anjing itu? Ingatlah kalau kau masih bertunangan" dia mengulurkan tangan, menawarkan untuk membantu adiknya membawa barang-barang.


"Bolehkah aku mengundang Lance dan Arianna?" Tanya Camila, menyeret barangnya sendiri untuk naik tangga.


Kening Aiden berkerut tidak senang "Kau sedang mencoba mengalihkan pembicaraan?"


"Kakak, aku ingin istirahat" finalnya.


Aiden tidak mengikuti pihak lain lagi untuk naik tangga, bagaimanapun juga dia sudah memiliki vila sendiri di tempat lain. Jadi dia hanya menatap gadis itu dengan dingin "Kalau begitu istirahatlah. Kau boleh mengundang mereka masuk, tapi tidak dengan Gabriel."


"Alasan?" Tanyanya.


"Kalau kau tidak bodoh, kau pasti bisa menebaknya sendiri dengan sekali lihat" tukas Aiden, lalu berbalik pergi meninggalkan Camila sendirian bersama para pelayan kediaman Blazemoche.


Gadis itu hanya diam dan masuk ke kamarnya yang masih sama, bahkan setelah tiga tahun penuh ditinggalkan. Dia melirik cermin satu badan di samping ruang pakaian dan melihat sosoknya yang tampak cukup berotot, tersenyum.


Memang tidak akan terlalu kelihatan, tapi yang terpenting bukan ukuran ototnya melainkan ketahanan fisik yang dia dapatkan dari pelatihan keras militer. Dimana dia adalah satu-satunya gadis disana.


Camila hendak menanggalkan pakaian sampai melihat benda baru yang cukup asing di kamarnya, satu set koleksi parfum brand Lilith milik keluarga ibu Gabriel.


Dia suka brand ini.


Dia harus mengirim hadiah lain sebagai bentuk rasa terimakasihnya, bagaimana kalau produk perawatan kulit? Satu untuk Nyonya Wundervei dan satunya lagi untuk Gabriel?


Ide bagus.


Namun pertama-tama, dia harus membersihkan diri.


Dia melempar semua bath bomb beraroma dessert yang dia suka, lalu berendam begitu selesai membersihkannya setiap noda di tubuhnya. Tak lupa membawa ponsel untuk berjaga-jaga, bagaimanapun juga Fiona bilang akan menelponnya pagi ini.


Ponselnya yang tergantung di balik tirai kamar mandi segera berbunyi.


Camila berdiri sejenak untuk menerima panggilan, lalu meraih seikat bunga mawar putih yang entah sejak kapan ada disana.


"Ya?" Dia adalah pihak yang lebih dulu bicara. Tangannya mulai mencabuti setiap kelopak bunga dan membiarkannya jatuh didalam bathtub beraroma tiramisu miliknya.


Terdengar suara datar milik Fiona "Sayang, aku punya dua undangan konser untuk Sabtu depan. Apakah kau mau pergi bersamaku? Ini boygrup dari salah satu agensi milik keluarga cabang kedua Harrison, kurasa anak liar itu akan muncul disana."

__ADS_1


Mendengar suara yang nyaris tidak memiliki intonasi, tapi mengatakan hal-hal penuh kasih tentu membuatnya merinding, tak terbiasa "Siapa?"


Nadanya bahkan menjadi lebih dingin "Saudaraku yang baik, Lula Asherah."


Oh. Orang yanhang lahir dari kesalahan satu malam dan seumuran dengan Frost itu?


"Kudengar dia dimasukkan ke kediaman keluarga utama?" Camila memegang salah satu bunga yang mengambang saat menanyakan ini.


"Frost yang bilang?" Tanya pihak lain, nadanya mulai melunak.


Camila melempar batang seikat mawar ke tempat sampah di samping "Mn."


Terdengar suara Fiona yang mencoba mengungkapkan kebenarannya "Memang. Tapi dia tidak akan bisa masuk kedalam pohon keluarga kami, tak peduli sebaik atau sepintar apapun dia jika dibandingkan denganku atau Frost ... Lula hanyalah anak haram, membiarkannya tinggal sudah merupakan kebaikan terbesar keluarga kami."


"Apakah dia tampan?" Dia penasaran akan hal ini, mengingat rumor miring tentang Frost yang memiliki kedekatan tidak wajar dengan si benih liar.


"Dia mirip dengan ibunya" singkat Fiona.


Berarti anak itu pasti pria cantik seperti Gabriel.


Camila mau tidak mau menjadi penasaran dan mengajukan pertanyaan yang agak tidak tau diri "VIP 'kan?"


"Bagus."


"Bagaimana disana?" Kali ini ganti dia yang menerima pertanyaan.


Gadis tersebut menjawab tanpa merasa perlu menyembunyikan apapun dari kandidat pemimpin  "Aku satu-satunya perempuan di pelatihan militer."


"Kau tidak diapa-apakan?" Nadanya terdengar cemas, bagaimanapun juga Camila adalah adik iparnya.


Yang ditanya hanya membalas dengan "Aku bisa melindungi diriku sendiri."


"Anak baik. Kalau begitu kututup teleponnya, dandan yang cantik ya?" Finalnya.


"Mn."


Tak lama berselang, ponselnya kembali berdering. Kali ini Arianna

__ADS_1


"Camila! Camila! Kau sudah pulang? Boleh aku mampir?" Suara si protagonis wanita jelas agak terlalu senang, mungkin sesuatu yang baik sedang terjadi di tempatnya bekerja.


"Gabriel akan ikut?" Tanya Camila, bagaimanapun juga Arianna dan anak itu merupakan sahabat masa kecil.


"Mn! Lance juga akan ikut, boleh?" Gadis itu menanyakan sesuatu yang sudah pasti.


"Mn. Kalau begitu bagaimana kalau bertemu diluar saja? Di restoran kami, tempatmu bekerja" tawar Camila.


"Baiklah! Akan ku traktir!" Celetuk Arianna.


"Jangan."


"Tidak apa-apa, aku sudah menyisihkan sebagian tabunganku untuk hari ini. Tidak akan ada masalah!" Arianna mencoba meyakinkan si pemilik asli restoran.


"Kalau begitu kau yang akan memilihkan menunya" Camila memilih jalan tengahnya saja.


"Bagus! Akan ku pamerkan perkembangan memasakku padamu, Camila. Akan ku pastikan kalian bertiga pulang dengan kenyang!" Arianna jelas sangat antusias menyambutnya.


"Baik, baiklah. Jadi bagaimana kabarmu?" Camila bertanya balik.


Terdengar hiruk pikuk yang semakin menjauh dari seberang panggilan "Sesuai saranmu dan dorongan Lance serta Gabriel, aku kuliah agar bisa jadi chef ternama."


"Syukurlah. Lalu? Masih sama?" Karena kalau Arianna sampai menempuh jalan yang sama seperti sebelumnya, dia akan sangat tidak rela.


"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu, aku hanya akan mengandalkan diriku sendiri!" Balas pihak lain.


"Keputusanmu sudah sangat bagus, Arianna. Jangan menggantungkan segalanya pada pria. Entah itu uang, properti atau hati. Manusia itu mahluk yang berubah-ubah" ini adalah pengingat ramah.


Mengingat kehidupan pertamanya yang tragis, Arianna mengangguk "Mn! Yang kau katakan memang benar! Aku juga akan menyelidiki siapapun yang mendekatiku sebelum memutuskan langkah selanjutnya, aku tidak mau mengalami hal itu lagi di kehidupan ini."


"Tidak akan selama kau memikirkan segalanya lebih dari dua kali" jelas Camila.


"Akan kuingat itu baik-baik, jadi kapan kita akan bertemu? Sabtu depan?" Dia tidak sabar menyambut pihak yang paling berjasa dalam mengubah hidupnya ini.


"Bagaimana kalau besok?" Dia mengatakan ini sambil melirik jam, memutuskan akan mengeringkan diri lima menit lagi.


"Bagus! Lebih cepat lebih baik, untuk hari ini lebih baik kau beristirahat saja dulu, pasti tidak nyaman duduk di mobil selama berjam-jam" ujarnya penuh perhatian.

__ADS_1


Kalau Arianna tau seperti apa mobilnya, anak itu mungkin tidak akan mengatakan sesuatu semacam itu.


"Ngomong-ngomong Camila, apakah benar kalau kau menghindari Gabriel?" Sang protagonis mendadak menanyakan ini tanpa menunggu responnya.


__ADS_2