
Fiona menatap dua orang yang terbaring dibawah kakinya dengan tatapan bingung, tapi dia dengan cepat melakukan pertolongan pertama pada keduanya. Tapi lebih banyak memfokuskan perawatannya pada Arianna.
Bagaimanapun juga dia adalah pihak yang bertanggung jawab memecahkan botol anggur tepat didepan wajah gadis itu, mustahil pihak lain tidak mendapatkan dampak yang menyakitkan. Tapi dia merasa agak risih karena segala hal secara mendadak kehilangan warnanya, bahkan tidak ada lagi suara selain suara nafasnya.
Apakah dia dibius? Atau diracuni menggunakan narkoba?
Atau keduanya?
Setelah memastikan bahwa baik Frost dan Arianna kondisinya tidak akan memburuk, dia berdiri dan melihat ke tempat perjamua di dalam. Dan mendapati situasi serupa dimana semuanya terjeda dan sudah kehilangan warna. Hanya ada beberapa warna mencolok yang bisa dilihat dari posisinya, dan dia tau identitas orang-orang itu. Aiden yang tampak sangat bukan dirinya dan menangis meraung-raung di hadapan Chester, anak keluarga Aubrey yang secara mendadak ambruk tak sadarkan diri, Gabriel yang terus berlari kesana kemari, juga Camila yang berdiri di pojokan tanpa melakukan apa-apa.
Entah kenapa fokus Fiona tidak bisa lepas dari gadis itu, meski jelas-jelas seluruh anggota keluarganya ssndiri sudah berubah. Karena apa yang dilihatnya saat ini, benar-benar membuat Fiona untuk pertama kali harus mempertanyakan kewarasannya sendiri.
Sosok Camila terus berubah-ubah. Dan ini menimbulkan pertanyaan baru didalam kepalanya.
Siapa itu? Dia memiliki aura serta keberadaan yang sama persis dengan Camila, hanya penampilannya saja yang berbeda.
Tidak butuh waktu lama sampai anomali ini ditemukan oleh Gabriel dan anak merah itu, yang tampak jauh lebih terkejut dibandingkan dirinya. Fiona terus mendengarkan apa yang dikatakan oleh mereka, sampai anak merah keluarga Aubrey mengatakan,
"Kau bukan Camila."
Dan 'Camila' ini terdiam dengan wajah seolah sedang mengalami konfik hidup dan mati, barulah Fiona bertindak.
Dengan revolver yang masih ada di tangannya, Fiona menembakkan satu peluru keatas.
Dor!!
Suaranya membuat semua sisa kehidupan di ruangan ini menoleh ke arahnya, bahkan termasuk Aiden yang masih berurai air mata.
Matanya bertemu dengan sepasang mata hitam 'Camila' dan dia berkata "Bisakah semuanya tenang lebih dulu? Haruskah sekarang kita berdiskusi atau terus menangisi semua ini?"
__ADS_1
"Apa maksudmu, Fiona?" Tanya Gabriel yang sepertinya baru pulih dari keterkejutannya.
"Sebelum itu ... Tidakkah lebih baik bahwa kalian semua naik kesini lebih dulu?" Fiona bertanya balik.
Lance yang emosinya semakin campur aduk setelah melihat Camila, tentu saja menjadi kesal dan berteriak "Kenapa bukan kau saja yang turun, hah?"
Tanpa ragu, Fiona membidik kepala Lance menggunakan revolver dan mengulangi "Kubilang ... Naik."
Menjadi satu-satunya orang yang memegang senjata tipe jarak jauh, membuat sisa orang lain dalam ruangan itu tidak memiliki pilihan selain menuruti perintah.
Gabriel dan Lance saling menatap wajah satu sama lain dengan gelisah, lalu berganti menatap sosok 'Camila' berambut hitam yang tidak mereka kenal. Tapi entah kenapa, keduanya tidak bisa menganggapnya seratus persen sebagai orang asing hanya karena penampilannya yang berubah secara tiba-tiba.
Dunia secara mendadak menekan tombol jeda dan kehilangan warnanya, kenapa juga seseorang diantara mereka tidak bisa mengubah penampilan mereka secara tiba-tiba?
Karena pemikiran yang satu ini cukup masuk akal, dua pria muda ini memutuskan untuk ikut menggandeng 'Camila' agar naik bersama mereka. 'Camila' yang tidak menduga kemungkinan ini akan terjadi, tentu menjadi bingung dan bertanya "Kenapa?"
Lance masih perlu waktu untuk mencerna situasi, oleh karena itu pihak yang bisa menjawabnya saat ini hanyalah Gabriel.
Namun jantungnya yang berdebar dengan kecepatan serupa pada kedua 'Camila', memutuskan untuk menjawabnya dengan "Aku bisa jelas merasakan sosok Camila dalam dirimu yang mengaku sebagai 'Camila', itu saja."
Mendengar ini, raut penuh konflik milik 'Camila' menjadi lebih rileks dan balas meremas lembut tangan Gabriel sambil berbisik "Oleh karena itu ... Kau ingin menjadi baik pada kedua Camila?"
Telinga Gabriel merona merah.
Respon ini membuat perasannya menjadi jauh lebih baik lagi dan dia berkata dengan sangat tulus untuk pertama kalinya "Gabriel, terimakasih."
Sayang sekali perasaan baik yang datang dengan cepat, tentu akan menghilang dengan cepat pula. Karena begitu ketiganya hendak menaiki tangga, seseorang menarik tangan 'Camila' hingga terlepas dari Gabriel. Mengejutkan dua pria muda ini, yang langsung disuguhi oleh wajah pias milik Aiden.
"Kau Camila?" Tanyanya sambil meremas pergelangan tangan gadis berambut hitam ini.
__ADS_1
Yang ditanya sontak merasa sangat emosional, matanya yang dulu berwarna ungu gelap seperti Aiden kini sudah berubah menjadi warna hitam yang jelas tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang 'Blazemoche'. Rambut coklat muda yang dulu sangat mirip dengan ibu mereka, juga berubah menjadi rambut hitam sepinggang yang membuatnya sekilas mirip dengan Arianna.
Yang membuat mereka semua masih menganggapnya sebagai Camila, hanyalah tatapan mata arogannya yang sangat menyebalkan.
Air mata dari emosi murni yang sudah bertahun-tahun tidak dia keluarkan, secara lambat merambati kulit wajah pucatnya yang juga sangat berbeda dari Camila yang memiliki kulit agak kemerahan. Dia tidak berani membalas genggaman tangan 'kakak' yang sudah dikenalnya selama empat tahun sejak ia datang kemari, tubuhnya gemetar hebat saat dia menatap tepat di kedalaman mata ungu Aiden.
"Kalau aku mengatakan bahwa aku Camila, apakah kau akan percaya?" Balasnya, dengan suara yang tercekat.
Aiden terdiam dan menatapnya lekat-lekat, seolah mencari kesamaan antara 'Camila' ini dengan Camila mereka.
Seperti yang dikatakan Gabriel, dia bisa merasakan jelas keberadaan sosok Camila mereka dalam diri 'Camila'. Dia jelas tau bahwa ini memang adik yang sama, hanya saja kenapa penampilannya sangat berbeda?
Dimana mata ungu khas Blazemoche miliknya?
Dimana rambut coklat yang diwarisi oleh ibu mereka?
Dimana gaun cantik yang mereka pesan bersama sebelumnya?
Dimana tubuh tingginya yang nyaris menyamai tinggi badan Gabriel?
Dia masih Camila, dan masih membuatnya merasakan sosok Camila dalam dirinya. Tapi kenapa Aiden merasa sosoknya begitu ... Menyakitkan dan menyesakkan untuknya?
Sebuah tangan secara paksa memutus tautan tangan mereka, Aiden sontak kembali tersadar dan mendapati bahwa pelakunya lagi-lagi adalah sosok Gabriel. Pria berambut perak itu dengan protektif merengkuh tubuh gemetar 'Camila', memberikan usapan lembut di kepala serta punggungnya.
Gabriel bahkan menatap Aiden seolah pria itu sudah melakukan sesuatu yang sangat kejam pada kedua Camila, dan memberikan tatapan mengancam yang sama sekali tidak coba dia tutupi seperti biasanya.
Pelukannya pada 'Camila' menjadi semakin kuat, seolah pria itu ingin mengubur gadis ini dalam-dalam untuk melindunginya.
Dengan lembut, dia berbisik pada gadis didalam pelukannya "Jangan khawatir ..."
__ADS_1
Tatapannya begitu menusuk Aiden saat dia melanjutkan "Kalau Blazemoche tidak mau menerimamu lagi setelah ini, kau masih memilikiku."