
"Gabriel?" Panggilnya, masih tenang walau tidak lagi balas memeluk pihak lain.
"Ya?" Balas Gabriel, sedikit menjauhkan diri karena merasa agak canggung.
Camila meremas kedua lengan atas pria yang masih betah melilitnya "Kepalamu terbentur ya?"
Pria itu mengeluarkan tawa kecil dan menggeleng saat menjawab lembut "Tidak. Apakah aku membuatmu tidak nyaman?"
Tanpa sopan, Camila menepuk punggung si pria perak agak keras "Sangat. Bisa tolong lepaskan?"
"Oke. Maaf" meski sudah bertahun-tahun, tampaknya second lead masihlah seorang anak yang baik.
Pelukan mereka terlepas, tapi belum sempat Camila menegakkan posisinya Gabriel justru kembali memeluknya. Pelukan kali ini terasa jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya, seolah Gabriel dengan saja menyesuaikan sudut dan di posisi tangan dan kepalanya harus diletakkan.
Gadis yang masih belum sempat membersihkan diri setelah keluar dari pelatihan militer, tubuhnya terasa sangat kaku dan dia ingin sekali berendam di air hangat dengan banyak sabun untuk menghibur diri sendiri. Jadi dia mengingatkan "Gabriel, aku tau kau merindukanku-"
"Dan aku masih menyukaimu" potongnya.
Camila memilih untuk berkompromi "Ya. Aku tau kau merindukanku dan masih menyukaiku, tapi bisakah kau melepaskanku? Aku lelah, ingin istirahat."
"Mn."
Gabriel kali ini benar-benar melepaskan pelukan mereka, tapi kedua lengannya kembali terangkat seolah dia masih ingin berpelukan. Tentu saja pria itu menurunkan lengannya dan menggaruk tengkuk dengan canggung, wajahnya masih bersemu merah seperti sebelumya setiap kali bertemu Camila.
Namun kali ini pria muda tersebut dengan terang-terangan menatapnya tanpa menundukkan kepala.
Camila menghela nafas dan memakai topi militernya, berjalan masuk sambil membawa tas, menawarkan "Gabriel, mau mampir untuk secangkir teh?"
"Boleh?" Dia menanyakan ini dengan mata berbinar.
Camila jelas melihat kilatan aneh di sepasang manik ungu cerah Gabriel "Selama tidak macam-macam, kenapa tidak?"
Sadar akan raut penolakan pihak lain, Gabriel tidak lagi memaksanya "Terimakasih, tapi kurasa lain kali saja. Barusan aku menitipkan hadiahmu ke kepala pelayan kediaman Blazemoche, Anna dan yang lain akan kemari sebentar lagi."
"Ada urusan?" Dia melihat bahwa anak ini cukup gelisah sekarang.
__ADS_1
Rambut perak Gabriel bergoyang seperti puding saat dia mengangguk "Mn. Perwakilan melakukan pidato mahasiswa terbaik tahun ini."
Dengan kening berkerut, dia menebak "Kau melarikan diri dari kampus?"
Pria perak tersebut tertawa kering dan tidak menyangkal sama sekali "Aku izin ke toilet."
"Aku tidak tau kau bisa berbohong" dia tau akan ada efek kupu-kupu, hanya saja tidak pernah mengantisipasi bahwa Gabriel adalah yang paling terpengaruh.
"Maaf, tapi bolehkah aku kesini lagi sepulang kuliah?" Tanyanya ragu-ragu.
"Silahkan. Lagipula Aiden ..." Camila langsung menutup mulut, tidak melanjutkan dan memilih menatap wajah Gabriel.
Pria itu segera mengulas senyum yang paling tidak berbahaya, menjawab "Ya?"
Ada kilatan aneh lagi di matanya, meski hanya untuk sesaat.
"Bukan apa-apa. Kenapa tidak bertemu diluar saja bersama yang lain?" Usul Camila, jelas merasa aneh pada Gabriel versi ini.
Benar saja, pria itu langsung cemberut dengan cara yang lucu "Tapi aku ingin mengajakmu berkencan."
Dia sangat tidak terbiasa dengan Gabriel versi upgrade.
"Uh ... Camila, apakah kau mengerti saat aku mengatakan aku menyukaimu?" Gabriel bertanya untuk memastikan apakah perasaannya sudah tersampaikan dengan baik atau tidak.
"Ya."
"Apakah kau juga menyukaiku?" Tanya si pria.
Camila menjawab dengan lempeng "Tentu saja aku menyukaimu, Gabriel."
Gabriel sekali lagi dibuat cemberut dengan jawaban ini dan merajuk "Camila, kau jelas tau bahwa bukan suka semacam itu yang kumaksud. Aku ... Sudahlah, mungkin terlalu cepat untuk mengatakannya."
"Kau benar-benar berubah" komentarnya.
"Camila, mustahil seseorang akan tetap menjadi anak polos dan baik hati setelah mengalami banyak hal. Jadi ... Aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi secara perlahan" ujarnya, kali ini meraih tangan kanan Camila dan memainkan jari-jarinya sebentar.
__ADS_1
Melihat gadis yang masih akan membuka mulutnya untuk mengelak, Gabriel langsung mengingatkan "Jangan terus-terusan menolakku tanpa alasan, anjing yang baik juga bisa menggigit."
Melihat pihak lain membawa tangannya mendekat ke mulut, Camila langsung mengerti dan memilih untuk berkompromi saat ini "Oke, lakukan sesukamu. Asal jangan memaksa dan hormati keputusanku."
Bisa membuat Camila memakluminya setelah sekian lama tidak bertemu, tentu Gabriel akan menurut dan dengan patuh melepaskan pihak lain "Tidak masalah! Kalau begitu aku pergi dulu!"
Gabriel dengan lembut kembali memeluknya erat-erat, bahkan sedikit mengangkat tubuh Camila saking gemasnya. Sebelum melepaskan pihak lain yang masih tampak tenang dan berjalan pergi menuju mobilnya sendiri. Dia akan beberapa kali melirik Camila yang masih berdiri diam, untuk melambaikan tangan berkali-kali.
"Dasar anjing" suara makian lirih Aiden terdengar dari samping begitu Gabriel pergi.
Pria itu memukul pelan kepala adiknya yang masih memakai topi "Camila, berhentilah bermain-main dengannya jika kau masih menolak pada akhirnya. Aku tidak suka Gabriel, tapi menurutku dia tidak layak menerima perlakuan seperti itu."
Yang dipukul hanya melepaskan topi militernya dan berjalan masuk kediaman, berkomentar singkat "Aku tidak bermain-main dengan Gabriel."
"Jadi ini semacam tes? Memangnya berapa umurmu?" Sang kakak tampak semakin tidak senang.
"Kakak, kau tau kalau aku mendukung Fiona dan bahwa seluruh Harrison mendukung Frost 'kan? Apakah menurutmu jika seseorang yang lembek berada di sisiku, dia bisa bertahan hidup setelah semua intrik keluarga kita?" Camila bertanya retoris.
Mendengar ini, Aiden kembali memukul pelan kepala adiknya "Karena itulah kubilang bahwa kau harus menyingkirkan pemikiranmu soal saham yang dijanjikan Fiona."
Dipukul dua kali di kepala, mustahil bagi Camila untuk tidak tersinggung "Tidak bisa. Aku menginginkannya, jadi harus kudapatkan."
Seolah tidak menangkap kekesalan adiknya, Aiden kembali memukul kepala Camila untuk ketiga kalinya "Kalau kau mati sebelum itu, perjuanganmu akan sia-sia. Jangan serakah."
Camila tidak lagi diam dan menonjol punggung Aiden agak keras, mencibir "Aku tidak akan memakai strategi adu domba, kak. Jadi aku tidak akan mati."
Tubuhnya masih stabil bahkan setelah ditonjok, dia hanya bertanya "Lalu?"
"Frost adalah sampah yang tidak bisa apa-apa, cepat atau lambat dia akan hancur karena tidak bisa melakukan apapun sendiri" bahkan menurut kabar dari Fiona, male lead justru semakin dekaden setelah pergi ke luar negeri.
Aiden membukakan pintu kediaman "Kau mau membunuhnya?"
Namun yang mengejutkan Aiden, Camila justru menggelengkan kepala "Tidak. Akan kubuat dia mundur sendiri. Bukankah dia suka dicintai? Jadi akan kubiarkan temanku dari militer mendekatinya, lagipula anak itu merasa bahwa Frost cukup manis."
Hanya saja yang akan dilakukan Camila akan jauh lebih berpengaruh dibandingkan sekedar membunuh "Oh."
__ADS_1
Bukannya jera setelah memasuki militer, anak ini justru menjadi lebih keji. Aiden akan melaporkan ini pada ayah ibu mereka nanti, Camila masih perlu didisiplinkan.
"Ngomong-ngomong, kak. Bagaimana kabar perangmu dengan Gabriel?" Camila bertanya tiba-tiba.