Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Mengorek luka


__ADS_3

Melihat pria galak yang seketika menjadi murung ini, Camila benar-benar tidak bisa merasakan sedikitpun aura male lead darinya. Ditambah dengan kejadian demi kejadian menyakitkan yang dialami Frost, maka sudah jelas bahwa usahanya selama bertahun-tahun sudah berhasil.


"Jadi kau mau menceritakannya padaku sendiri atau tidak?" Tagihnya.


"Melihatmu yang bisa mengetahui hal ini, aku yakin kau sebenarnya sudah menerima hasil penyelidikan dari faksi kakakku 'kan? Kenapa masih harus repot-repot bertanya?" Balas si pria sembari memalingkan muka.


"Aku ingin mendengar ceritanya menurut versimu, pihak yang terlibat secara langsung. Kami tidak ingin seenaknya menetapkanmu sebagai pelaku tanpa mengetahui sudut pandangmu terkait ini, menjadi kambing hitam dan diam saja bisa membuatmu sepenuhnya di blacklist dari Harrison. Para petinggi dan panatua keluargamu sudah lama tidak puas denganmu, Frost. Terdengar menyakitkan, tapi memang itu faktanya" dia memainkan apelĀ  yang barusan mereka mainkan dengan wajah tanpa dosa, bahkan setelah ia mengatakan hal yang menusuk titik sakit Frost.


Mata hitam Frost melebar ketakutan begitu mendengar ini, dan mulai panik "Mereka ingin mendepakku? Tapi aku satu-satunya cucu lelaki patriark yang sah dan diakui."


Terdengar helaan nafas sebelum pihak lain menjawab "Hubungan darah akan selalu tidak bernilai di mata orang-orang tua yang serakah, Frost. Buka matamu dan mulailah perhatikan sekelilingmu."


"....."


"Jadi? Bisa kau katakan padaku?" Tagihnya sekali lagi, dan kembali melemparkan apel merah pada pria ini.


Frost menerima lemparan ini dan bertanya "Kau akan membantuku?"


"Ada masalah?" Jelas, dia tidak senang dengan nada bicara yang digunakan oleh Frost barusan.


Pria yang sangat jarang bersikap tenang ini hanya menggeleng "Tidak, tapi kukira kau sangat membenciku."


Camila bahkan tidak ingin berpura-pura akrab dengannya "Memang. Tapi bukan berarti aku akan diam saja dan berpura-pura buta saat kau bertingkah, bagaimanapun juga sebelum bertunangan, dulunya kita adalah teman sepermainan."

__ADS_1


"....."


"Jadi dengan cara apa Rushia merayumu?" Tanyanya lagi.


Sambil memutar-mutar apel di tangan, Frost menjawab "Dia tidak merayuku, dia juga tidak pernah sekalipun menanyakan urusan perusahaan padaku. Karena itulah aku cukup shock menerima berita ini sepulang dari perjamuan keluargamu, karena setahuku Rushia adalah tipe gadis yang mirip dengan Arianna yang dulu."


"Lemah, rendah hati dan bodoh?" Tebak Camila.


Frost meralat tebakan pihak lain dengan sebuah penjelasan "Polos, Camila. Bukan bodoh, tapi begitulah. Dia tidak bertingkah laku aneh sedikitpun dan hidup dengan sangat lurus selama tiga tahun bersamaku diluar negeri. Dia tidak merokok, berpakaian sopan, tidak meminum alkohol, tidak keluar diatas jam sembilan malam, nilai kuliahnya juga bagus. Rushia juga tidak akan sungkan menegurku, singkatnya adalah dia adalah pihak yang memiliki kontribusi terbesar dalam rehabilitasiku."


Camila mulai memiliki gambaran samar seperti apa interaksi dua orang itu sebelumnya "Semacam membujukmu seperti ibumu dan tidak melihatmu dengan kacamata filter?"


Dia mengangguk membenarkan "Begitulah. Kudengar dia juga diakui sebagai Harrison meskipun tidak memiliki hubungan darah, karena dia berkontribusi dalam proses membuatku waras dan tidak serakah seperti ibunya ataupun ibu Lula Asherah."


"Ngomong-ngomong bagaimana kabar Lula? Aku tidak pernah melihatnya setiap aku ke kediamanmu" Camila mendadak penasaran soal anak lain dalam kediaman Harrison itu.


Camila sekali lagi bertanya "Kembali ke Rushia. Apakah ada satu perkataannya yang paling membekas dalam ingatanmu?"


Kali ini Frost juga dengan kooperatif menjawab dengan binar nostalgia di matanya, sekali lihat jugabisa ditebak bahwa posisi Rushia cukup istimewa untuknya "Dia hanya terus memberiku nasehat bahwa aku sama istimewanya dengan kakak, bahwa aku bisa mendapatkan sesuatu yang lebih besar, dan bahwa aku perlu lebih meningkatkan nilai diriku di depan keluarga agar tidak diremehkan. Itu saja."


Keduanya diam untuk sementara waktu.


Camila menatapnya dengan raut penuh ketidakpercayaan dan berkomentar "Frost .... Kau memang bodoh, tapi aku tidak menduga bahwa kau juga setumpul ini."

__ADS_1


"Kau ingin berkelahi ya?" Sinis si pria.


Camila tanpa sungkan melemparkan buah sekali lagi padanya, kali ini adalah jeruk yang sudah setengah dikupas "Bodoh. Perhatikan baik-baik apa yang dikatakan Rushia padamu, itu sama sekali bukan dukungan. Dia ingin menabur perselisihan diantara kau dan Fiona, dia mengharapkanmu untuk mendapatkan favoritisme panatua dengan cara menjadi serakah dan menginjak Fiona."


Terciprat sedikit air jeruk ditambah dengan hinaan Camila, Frost menjadi tersinggung "Mana mungkin? Jelas-jelas dia hanya memberikan dorongan padaku, jangan membuat bukti dari ketiadaan! Aku tau Rushia sudah mengkhianatiku, tapi dia tidak mungkin akan sejahat itu padaku!"


"Pikirkan saja baik-baik, Frost. Mana ada wanita acak yang secara random menyemangatimu saat jelas kalian baru bertemu saat itu? Aku tidak akan menjelekkan ibu tunggal, tapi jangan lupa bahwa ibu wanita itu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memanjat ranjang ayahmu. Memang salah menilai keseluruhan karakter orang dari ibunya yang 'tidak baik' ataupun masa lalunya, tapi tidakkah kau setidaknya pernah mencurigainya walau hanya satu kali saja?" Tanya Camila, rautnya tampak sangat serius saat menatap prihatin akan betapa naifnya orang ini.


Tapi Frost masih saja berdalih "Kau tidak bisa menilai buku dari sampulnya, Camila."


"Memang benar. Tapi sampul adalah yang mewakili pentingnya kesan pada saat pertemuan pertama, dan akan mempengaruhi penilaianmu pada keseluruhan isi bukunya. Mustahil kau bisa menebak keseluruhan karakter orang hanya dari masa lalunya, demikian pula mustahil kau bisa menyematkan julukan orang baik dan orang jahat hanya dengan melihat penampilannya secara sekilas. Jadi jawab aku, apa kau pernah mencurigainya?" Camila mulai melakukan konfrontasi secara terang-terangan.


Frost terdiam selama beberapa saat, ekspresinya sangat tidak enak dipandang ".... Tidak, dia tidak pernah melakukan satupun tindakan mencurigakan dan selalu hidup dengan teratur, mengikuti rutinitasnya."


"Keberatan jika aku meminta ponselmu untuk digeledah?" Pintanya tanpa basa-basi.


Pria yang mendapat kejutan demi kejutan tidak menyenangkan itu, tampaknya tidak memiliki sedikitpun tenaga ekstra untuk mencari masalah dengan membantah seperti sebelumnya "Tidak masalah."


Setelah menerima apa yang dia minta, Camila meletakkan kotak hadiah di samping Frost dan bangkit dari kursinya "Kalau begitu aku pergi dulu."


Frost menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, memunggungi Camila dan hanya menjawab dengan "Oh."


Melihat penampilannya yang tampak depresi, Camila akhirnya berkata "Frost, mungkin terdengar munafik dan hipokrit jika aku mengatakan ini. Tapi jaga dirimu, semoga lekas sembuh."

__ADS_1


Pintu tertutup dengan lembut, tidak ada satupun orang lagi setelah itu.


Hanya suara gemerisik selimut dan nafas terputus-putus yang berasal dari tubuh gemetar diatas ranjang yang terdengar.


__ADS_2