
Gabriel menatap Camila lekat-lekat "Tentu saja, aku lebih suka Blazemoche ada di tanganmu dibandingkan Aiden."
"Bagaimana kabar pertarunganmu dengan kakakku?" Camila langsung membanting topik.
Tentu saja ini tidak akan mempengaruhi Gabriel, dia bahkan berkata "Camila, kalau aku menang otomatis kau akan menjadi milikku. Tidak keberatan?"
Camila hanya menjawab "Tidak. Aku suka orang jenius yang ambisius."
Gabriel tersenyum sangat manis dan berbalik memeluk perut Camila, dengan ringan menanam ciuman kecil disana. Gadis yang tidak menduga Gabriel akan melakukan ini, tentu saja menjadi kaku.
Namun tidak lama baginya untuk mengontrol ekspresi yang tampak di wajahnya dan menghela nafas "Gabriel, kau cukup berani sekarang."
Pria itu tertawa, sangat senang "Aku sudah cukup dewasa untuk hal-hal semacam ini, tapi tentu saja aku tidak akan pernah memaksamu."
"Lalu barusan?" Tegasnya.
"Aku berniat mengejutkanmu. Apakah aku tanpa sengaja membuat perutmu kram?" Ekspresinya terus berubah-ubah, dan ini agak mengerikan.
__ADS_1
"Tidak."
Gabriel tersenyum hingga mata ungu jernihnya membentuk bulan sabit, dan memanggil lembut pihak lain "Camila?"
"Hm?"
"Bisakah kau menciumku?" Tanyanya, penuh harapan dan antisipasi yang tiba-tiba.
Mendengar ini, Camila tersenyum miring dan menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Membuat jarak mereka lebih jauh, dan berkata "Kenapa bukan kau saja yang menciumku?"
Gabriel segera bangkit dari pahanya dengan wajah merona, dan mata yang tersenyum saat mengkonfirmasi "Sungguh?"
Senyum di wajah Gabriel langsung berubah begitu mendengar ini, tapi itu hanya selama lima detik. Sebelum akhirnya dia mendekatkan wajahnya pada Camila yang sudah memejamkan mata.
Sampai sebuah suara menginterupsi merek dari jauh dan memanggil "Tuan muda! Tuan muda! Ada masalah!"
Suhu di sekitar Gabriel langsung anjlok beberapa derajat, dia marah.
__ADS_1
Camila yang juga mendengar panggilan itu, tidak membuat ekspresi apapun dan dengan tenang membuka mata. Melihat amarah Gabriel yang segera berubah menjadi wajah tersenyumnya yang biasa "Maaf, tunggu sebentar."
Dia dengan tenang melihat Gabriel membalikkan punggungnya, mungkin untuk melihat sendiri darurat macam apa itu. Belum sempat Gabriel berdiri, Camila menarik lengannya dan membuat Gabriel jatuh telentang di atas lantai paviliun kecil ini, suaranya teredam oleh karpet tebal, jadi pria itu tidak akan kesakitan.
Memang tidak sakit, dia hanya sangat terkejut "Camila, ada a-"
Sepersekian detik kemudian, dia melihat wajah tenang Camila yang semakin membesar, dan sepasang bibir mereka bertemu.
Camila menciumnya, tepat di bibir.
Dari jarak ini, Gabriel bisa melihat buku mata Camila yang membentuk bayangan samar di kelopak matanya. Tampaknya gadis ini sedikit berdandan saat hendak bertemu dengannya, pemikiran ini membuatnya merasa manis. Sayangnya dari jarak ini, dia tidak akan bisa melihat ujung cuping telinga Camila yang agak merona.
Dan belum sempat Gabriel merespon, pria itu merasakan sebuah gigitan kecil di bibir bawahnya.
Gabriel merona hingga leher dengan mata terbuka, dia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri meskipun masih memakai jaket. Otak jeniusnya seketika freeze, tidak tau harus merespon bagaimana atau meletakkan tangannya dimana.
Camila bangkit dari tubuh kaku Gabriel, lalu memandang pria yang mematung di lantai. Dari sudut pandangnya, pemandangan semacam ini agak berbahaya.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, dia dominan.
Camila tersenyum kecil dengan mata berkilat samar, lalu bertanya ringan "Tidak jadi pergi?"