
Mimpi yang terjadi pada siang hari, biasanya bukanlah sesuatu yang bagus. Karena dalam kegelapan itu, Rushia selalu diingatkan berkali-kali pada betapa kelahirannya tidak memiliki makna khusus untuk siapapun, bahkan untuk pihak yang sudah memberinya kehidupan.
Mimpi itu terus memutar ulang kehidupannya mulai saat dia masih balita, menjadi gadis belia, sebelum berakhir pada saat ia dewasa. Mimpi itu terhenti tepat di usia dua puluhan Rushia, tidak menunjukkan sedikitpun masa depan saat ia menjadi tua.
Seolah semuanya sudah ditakdirkan untuk berakhir disini, saat ini juga.
Prospek masa depannya, hasratnya pada cinta serta pengakuan dan juga hidupnya.
Begitu dia merasakan benda dingin berbau busuk yang sangat khas baginya, selama bertahun-tahun tinggal bersama keljarga kaya sebesar Harrison. Ini adalah bau bubuk mesiu, maka jelas bahwa benda yang sedang ditempelkan di pelipisnya saat ini adalah pistol.
Mengingat apa yang baru-baru ini terjadi, ia sontak mengerti bahwa sudah mustahil untuk membalikkan situasi.
Membuka matanya dengan gerakan lambat, Rushia langsung bertemu dengan moncol pistol Fiona yang masih memiliki aroma terbakar.
Yang berarti, Fiona memang berniat mengakhirinya tanpa ragu.
Wanita di hadapannya ini tampak berantakan, gaun mahalnya juga sudah robek dengan heels patah.
"Hidup atau mati, Rushia?" Fiona menekan pelipis Rushia dengan posisinya yang sedang duduk berjongkok, tidak membiarkan pihak lain untuk menilai penaplilannya yang berantakan dalam diam.
Karena Rushia sendiri juga sama berantakannya.
Fiona mengeluarkannya dengan paksa dari dalam mobil tadi, dan karena kebenciannya pada wanita ini, tentu saja Fiona juga tidak akan peduli meski ada beberapa besi maupun kaca yang merobek sedikit wajah dan perut Rushia.
Merasakan darah yang masih belum terhenti dari kakinya, Rushia tersenyum sangat manis saat memiringkan kepala untuk menyambut pistol Fiona "Semua orang tentu akan memilih hidup, kak Fiona."
Fiona menampar keras wajah Rushia, dengan suara benturan yang keras saat kepala cantik itu membentur aspal.
"Jangan memanggilku kakak dengan mulut kotormu, mau ditendang ya?" Ancamnya dengan memukulkan moncong pistolnya ke kening pihak lain beberapa kali, sambil menariknya secara paksa agar bangkit.
__ADS_1
Darah mengalir dari sudut mulut Rushia setelah ditampar, tapi ia masih mempertahankan senyumnya "Aku sekarat. Kalau kau masih manusia, kau tentu tidak akan menendangku."
Dengan senyum kecil yang tampak licik, Fiona menarik tubuh lemas Rushia agar berdiri dan mengatakan "Aku manusia."
Sebelum ia mendekatkan mulutnya pada telinga pihak lain untuk berbisik "... Tapi aku Harrison, Rushia."
Bertahun-tahun mengamankan posisinya, mustahil Fiona bisa dihadapi dengan mudah saat orang kepercayaan serta anggota keluarganya sendiri berpotensi untuk membunuhnya. Tubuhnya sangat terlatih, dan dia tidak akan menggunakan empati jika tidak memberinya keuntungan apapun. Oleh karena itu dia bisa tetap menjalankan niatnya untuk menyiksa Rushia meski tubuh lihak lain sudah dipenuhi oleh darah.
Fiona melempar tubuh lemah Rushia ke tengah jalan yang sudah diamankan dengan penuh momentum "Aku tidak peduli mau kau kehilangan satu tangan dan satu kakimu, berubah menjadi seorang nenek-nenek atau seorang balita."
Melihat Rushia yang hendak berteriak kesakitan, Fiona langsung melayangkan tendangan ke perutnya yang sedikit robek dan berkata "Aku akan tetap menghajarmu, pelac*r."
Memakai sarung tangan kulitnya, Fiona menduduki perut Rushia dan menonjok wajahnya "Gara-gara kau, aku hampir kehilangan proyek penting untuk menstabilkan posisiku."
Dia memukul wajah cantik Rushia bertubi-tubi "Gara-gara kau, orangtua busuk itu nyaris memaksaku dalam pernikahan bisnis akibat harga saham yang menurun."
Seolah belum puas, Fiona menggunakan pistolnya untuk menghajar Rushia "Hanya karena seekor anjing yang bahkan bukan Harrison."
Dengan satu pukulan terakhir, dia mematahkan tulang hidung Rushia "Gara-gara kau."
Rasa sakit dan penghinaan ini bahkan membuat seluruh tubuh, terutama wajahnya menjadi mati rasa. Tapi Rushia masih menyempatkan diri untuk memaki wanita yang sedang menduduki perutnya dengan suara yang nyaris habis "Fiona, kau sampah."
Fiona mencibir dan berdiri, lalu menginjak kepala wanita yang sudah tidak bisa dikenali lagi wajahnya "Rushia, bukan aku yang saat ini sedang diinjak kepalanya. Tapi kau, wanita sampah."
Meningkatkan tenaganya untuk menginjak kepala Rushia, Fiona menambahkan garam terakhir pada luka terdalam Rushia "Kau bukan Harrison, tapi kami sudah merawatmu selama bertahun-tahun. Kami tidak berhutang apapun padamu, melainkan kau yang berhutang pada kami."
"Uh ...."
Dia tidak mau mendengar rengekan atau apapun yang akan keluar dari mulut robek Rushia dan mengacungkan pistolnya, membidik tempat diantara alis Rushia "Aku tidak butuh kata-kata terakhir. Jadi matilah, Rushia."
__ADS_1
Dengan bunyi ledakan dari pistol yang ditembakkan oleh tangannya sendiri, Fiona mengakhiri semua ini.
........................................
Langkah Camila saat ini tidak cepat, tapi juga tidak bisa dikatakan lambat. Dia memeluk jas yang tadi dipinjamkan oleh Gabriel, lalu masuk menuju salah satu unit apartemen milik Fiona di pinggir kota, berbekal kata sandi yang didapatkan oleh sepupu Gabriel. Menemukan wanita yang sudah bersih tanpa sedikitpun luka, tampak baru saja selesai menelpon seseorang dan sedang mengamati situasi diluar jendela besarnya.
"Mana wanita itu?" Ia bertanya tanpa basa-basi, bahkan tanpa menyapa si pemilik unit.
Fiona bahkan tidak mau menebak alasan kenapa orang ini bisa masuk kediamannya sesuka hati, dia menanggapi dengan "Aku membunuhnya."
Sambil meletakkan laporan dari sepupu Gabriel, Camila sebatas merespon "Oh."
Kau yakin aku mempercayainya?
Melihat ketidakpercayaan di mata Camila, Fiona melambaikan tangan tanpa sedikitpun ekspresi dan menunjuk sofa panjang di sisinya "Sayang, kemarilah."
Sadar akan dijadikan bantal, dia menolak "Fiona, aku lurus."
Alasan ini membuat Fiona memutar bola matanya dengan malas "Memelukku sekali tidak akan membuatmu seketika menjadi lesbian juga, Camila."
Camila kali ini menjadi lebih patuh dan duduk di tempat yang barusan ditunjuk dan benar saja, Fiona langsung membuat pahanya menjadi bantal. Keduanya diam, Fiona bahkan tidak menyentuh laporan yang dibawakan oleh Camila seolah benda itu sudah tidak penting lagi untuknya.
"Aku 'membunuh' Rushia, aku benar-benar 'membunuhnya'. Menurutmu bagaimana reaksi Frost?" Wanita itu menanyakan ini secara tiba-tiba.
Camila menangkap sedikit kegelisahan yang ada dalam suara Fiona, menjawab "Dia akan mengerti. Kalau ia sampai merengek dan protes padamu, pukul saja kepalanya."
Fiona segera menjadi lebih tenang dan kembali duduk, berhenti menjadikan Camila sebagai bantalnya. Dia dengan serius memeriksa laporan hasil penyelidikan yang didapatkan oleh sepupu Gabriel Wundervei untuknya.
Sementara Camila hanya diam dan mengamati kegiatan Fiona dari samping, diam-diam berpikir bahwa Fiona tidak sejahat yang dia kira. Karena Camila mengerti apa maksud Fiona dari 'membunuh' Rushia, oleh marena itu dia yakin Frost tidak akan marah saat wanita yang ia cintai menghilang dan lenyap tanpa jejak.
__ADS_1