
Keduanya hanya bisa saling menatap dengan tatapan serupa, muak pada satu sama lain tanpa bisa berpisah karena ini demi perusahaan mereka. Angin yang berhembus cukup kencang malam ini, juga turut merontokkan ranting-ranting kecil para pepohonan di taman mansion keluarga Blazemoche, juga turut merontokkan sisa kesabaran mereka.
"Pertimbangkan saranku dengan baik, Frost. Ucapan Gabriel memang keterlaluan, tapi dia benar. Kalau kau terus seperti ini, maka kau akan mati dalam pelukan wanita" si wanita mengatakan ini sambil menggoyangkan ranting kecil yang entah ia dapatkan dari pohon yang mana.
Sebelum tanpa aba-aba mengayunkannya dengan keras pada tunangan di sebelahnya.
Frost mundur dengan tepat waktu, juga menarik ranting tersebut meski tidak bisa mengambilnya "Maksudnya?"
Camila balas menariknya hingga ranting tersebut patah menjadi dua, dengan bagian runcing yang masih dipegang oleh Frost "Bukankah ayahmu, Tuan Beau Harrison sedang terancam posisinya di keluarga? Oleh karena itu sejak lima tahun lalu, Fiona membantunya menjalankan perusahaan?"
"Darimana kau tau?" Dia menanyakan ini sambil mengayunkan bagian runcing tersebut ke pinggang ramping Camila.
Camila mengelak ke samping dan menendang pergelangan tangan Frost menggunakan sedikit kekuatan "Aku masih tunanganmu, tentu saja aku tau. Bagaimanapun juga ibumu sangat menyukaiku."
Bagian runcing ini segera kembali ke tangan cantik si wanita, yang mengacungkan kedua patahan kayu ini ke kedua mata Frost dengan sikap mengancam.
Frost secara sukarela mengangkat kedua tangannya dengan gugup ".... Bisa kau lanjutkan?"
Camila menyimpan kedua benda ini dengan rapi dibalik punggungnya "Kita semua juga tau bahwa ayahmu adalah kuda liar, yang patriarki dan hanya memandang wanita sebagai objek. Tanpa menyadari bahwa semua kekayaannya hari ini adalah berkat istrinya, Nyonya Ezili Harrison. Sebelumnya maaf kalau aku menyinggung ini, tapi apa kau pikir wanita terhormat seperti ibumu mau tubuhnya disentuh oleh pria kotor seperti ayahmu?"
"Karena itukah ayahku berselingkuh?" Dia kembali ke posisi santai begitu tau Camila tidak akan melukainya. Dia juga menjadi lebih cuek akan topik ini, bagaimanapun juga ini memang sudah menjdai rahasia umum.
Namun Camila justru menggeleng tidak setuju "Bukan. Sejak awal ayahmu memang sudah seperti itu, tapi dengan ibumu sebagai pemantik, maka tindakannya menjadi semakin mencolok. Bahkan membuat saingan bisnis Harrison bisa menggunakan perangkap madu untuknya, menggerogoti rahasia perusahaan Harrison dan membuat para petinggi perusahaan menurunkannya secara paksa dari tahta."
Camila menunjuk kerumunan, lebih tepatnya kepada para tuan muda yang masih ada didalam sana menggunakan dagunya "Kau tau kalau kelemahan pria ada tiga 'kan?"
Si pria bahkan tau apa yang sedang dibicarakan tanpa harus mengikjti gestur Camila yang angat tidak sopan , menimpali dengan "Harta, tahta dan wanita?"
"Pintar. Tuan Beau Harrison sudah memiliki semuanya sejak muda dan menjadi terbiasa, seperti dirimu. Tapi begitu dia menikah, otomatis dia harus menyingkirkan semua pacarnya. Menghabiskan waktu seumur hidup hanya dengan satu wanita bagi cassanova sepertinya, bukankah sangat susah?" Dia menjentikkan jarinya seolah sedang mengungkapkan suatu misteri yang sangat sulot untuk dipecahkan.
__ADS_1
Meski tidak pintar, tapi Frost setidaknya bukan orang bodoh "Kau berpikir bahwa aku akan sama saja dengannya?"
Pihak lain mengiyakan dengan ringan "Tentu."
Si pria bahkan sudah kehilangan minat akan topik ini "Semua orang bisa berubah, Camila."
"Setelah dua puluh tahun lebih menikah, apakah ayahmu berubah?" Sekali lagi, Camila akan menusuk titik sakit seseorang saat berbicara.
"Kenapa kau selalu menyinggung ini?" Dia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.
Pihak wanita dengan santai menjawab "Karena pemikiranmu terlalu sederhana untuk mengerti, Frost."
"Kau ingin aku mengundurkan diri sebagai pewaris hanya karena takut aku akan terkena jebakan madu?" Sinisnya.
Si wanita "Tepat."
"Omong kosong."
"Bagaimana aku bisa tau kalau kau bukan pihak yang mengirimkan jebakan untukku?" Seloroh Frost, bagaimanapun juga dia tau betapa Camila membencinya.
Seperti yang ia duga, Camila memutar bola matanya. Tapi yang dikatakan oleh wanita ini adalah "Frost, tanganku tidak sebanyak itu. Kalaupun ada yang mengirim jebakan madu padamu, kau harusnya mencurigai Harrison lebih dulu dan bukan aku."
"Aku tidak percaya padamu" Frost kembali sinis.
"Sebenarnya ini bukan soal siapa yang mengirim siapa" Camila memberikan pengingat ramah.
Frost justru menjadi semakin sinis "Melainkan seberapa jauh aku bisa bertahan? Aku tau."
"Jadi? Setidaknya kau tau bagaimana caranya berbisnis 'kan meski itu sedikit?" Tatangnya sambil kembali mengacungkan kedua patahan ranting dari percakapan mereka sebelumnya.
__ADS_1
Frost juga turut memasang kuda-kuda, bagaimanapun juga dia masih seorang tuan muda "Kau terlalu meremehkanku, lihat saja nanti."
"Semoga sukses, Frost" dia mengatakan ini sambil mulai mengayunkan salah satu ranting.
Dengan niat balas dendam, Frost memukul pergelangan tangan Camila "Tunggu, bagaimana jika aku menang? Apa yang akan kudapatkan?"
Walau pukulan ini tidak menggunakan teknik apapun dan murni kekuatan otot, tetap saja rasanya sakit. Kareja Frost adalah laki-laki.
Meski begitu, Camila masih bisa memasang wajah tenang yang sudah sangat terlatih "Tentu saja Harrison, dan aku pasti akan lebih dipaksa untuk menikahimu."
"Tidak bisakah aku menghilangkan bagian kedua?" Dia menjadi kesal karena tidak mendapatkan sedikitpun keretakan dari wajah Camila.
"Untuk itu, kenapa tidak coba untuk memikirkannya sendiri?" Si wanita mengatakan ini sambil mengayunkan tinju sebagai umpan, sebelum menginjak keras kaki Frost.
Rasa sakit yang tercampur penghinaan tentu sangat melukai dirinya, dia sontak buka mulut tanpa memikirkan konsesuensinya "Tidak bisakah jika aku langsung membunuhmu saja?"
"Frost ..." Camila facepalm dan berhenti menyerang.
"Apa?" Balasnya.
Si wanita lantas memasang senyum polos sambil memainkan jarinya seolah sedang berhitung "Blazemoche, Wundervei, Aubrey, Cabang kedua Harrison, Grup Noah, Venatrix, Sweven, Livilence dan koneksiku di militer. Kau harus menghadapi mereka semua jika ingin membunuhku."
"Sial" umpat Frost.
"Aku pergi dulu, Frost. Semoga harimu suram" dengan ini, camila melemlarkan kedua ranting patah tersebut sekuat tenaga ke wajah Frost. Menggores sedikit pipi kiri dan daun telinga kanannya, sebelum meninggalkan pria itu begitu saja untuk menemui orang lain didalam sana.
Frost yang ditinggalkan untuk sesaat kehilangan kata-kata dan berdiam diri, sebelum balas memaki engan suara keras nyaris berteriak "..... Brengsek, semoga kau menelan rambutmu saat mengunyah kue!"
Tentu saja wwnita yang sudah jauh meninggalkannya sendirian dalam gelapnya taman samping mansion Blazemoche, tidak akan mau berusah payah untuk menanggapi makiannya.
__ADS_1
Diabaikan seperti biasa, frost entah untuk yang keberapa kalinya hanya mejgumpat lirih "Anak itu benar-benar tidak manis."