
"Kenapa menanyakan sesuatu yang tidak berguna?" Fiona menanyakan ini sambil memicingkan mata penuh curiga.
'Camila' menjawab jujur "Karena itulah satu-satunya hal yang mengikatku dan Arianna, dan menjadi alasan terjadinya ini semua."
Semua orang termasuk Fiona, menjadi semakin bingung akan jawabannya. Tapi masih mengisntruksikan "Lanjutkan."
Tanpa menurunkan senjatanya, tentu saja.
Dia menyamankan posisinya saat memulai penjelasan "Mungkin terdengar sulit dipercaya. Tapi baik aku dan Arianna, kami berdua sama-sama memiliki kesempatan kedua."
"Maksudnya?" Lance sebagai orang yang memiliki iq paling rendah diantara orang-orang ini, menjadi yang kedua bertanya.
Rambutnya yang sehitam tinta bergoyang lembut setiap kali dia bergerak "Aku tidak bisa menjelaskannya secara detail, aku tidak mau mati untuk kedua kalinya dengan cara yang menyebalkan."
Merasakan emosi kompleks antara khawatir dan tidak yakin, Aiden sekali lagi menariknya menjauhi Fiona "Kau .... Baik, kami tidak akan bertanya mengenai detailnya jika itu melukaimu."
Namun raut Fiona menjadi lebih gelap dan dia sekali lagi menembakkan peluru yang menggores telinga Aiden, mmbuat pria itu melepaskan 'Camila' demi memegangi daun telinganya yang berdarah. Fiona menggunakan kesempatan ini untuk menarik kembali 'Camila' ke hadapannya sambil menempelkan moncong revolver ke tempat diantara kedua alisnya, mengancam "Katakan."
"Fiona!" teriak Aiden sambil memegangi telinganya yang mulai berdarah dengan amarah yang sangat kentara di wajahnya.
Dia menekan moncong senjatanya ke pihak lain sekali lagi dan berujar dingin "Mengorbankan satu orang untuk semua orang, itu adalah pilihan paling logis untuk saat ini."
"Kalau aku mengatakannya, Arianna akan mati bersamaku. Tidak apa-apa?" ia dengan santai mengatakan ini, tidak berniat untuk melawan Fiona sama sekali.
"Camila, jangan menurutinya!" jerit Lance. Meski dia tidak mengerti satupun poin pembicaraan orang-orang ini yang lebih seperti fantasi, tapi dia merasa bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika 'Camila' mengungkapkan semua kebenaran.
Namun Fiona tampaknya sama sekali tidak peduli "Tidak masalah, aku akan mencarikan tempat peristirahatan yang bagus untukmu."
Gabriel yang tidak tahan lagi melihat gadis yang ia suka diperlakukan tidak adil, langsung mencengkeram tangan Fiona yang masih menempelkan revolver kening 'Camila'. Matanya berkilat dingin "Fiona, aku tidak memukul wanita. Tapi bukan berarti aku tidak bisa membunuhmu saat ini juga."
Fiona dengan enteng menginjak kaki pria muda ini dan menendang lututnya, membuat pihak lain jatuh berlutut. Kali ini, moncong revolver ditempelkan ke ubun-ubunnya dan ia balas mengancam "Gabriel, mana yang lebih cepat? Tubuhmu atau peluruku?"
Sebagai akar dari permasalahan saat ini, 'Camila' menghela nafas panjang "Gabriel, hentikan. Dan Fiona, kau mungkin tidak tau ... Tapi kalau tidak ada Arianna, dunia ini juga akan kehilangan energinya."
__ADS_1
"Apa?" inilah respon Fiona.
Ia menepuk lengan Fiona yang mencekik lehernya "Dengarkan aku dulu, turunkan revolvermu dari kepala Gabriel."
Merasa bahwa anak ini berkata jujur, Fiona tidak lagi mengganggu Gabriel "Katakan."
'Camila' berpikir untuk beberapa saat, sebelum buka suara dengan pemilihan kata yang sangat hati-hati "Singkatnya, aku dan Arianna berasal dari tempat yang jauh berbeda. Tapi tenanglah, tempat ini adalah rumahnya, rumah kalian juga. Sedangkan aku ... Aku tau semua kisah kalian, dari media lain. Dan disana, Arianna dan Frost adalah anak emasnya."
Kening Gabriel berkerut saat suatu pemikiran melintasi benaknya "Jadi kau ..."
'Camila' mengulas senyum "Dari yang aku tau, Frost akan menikahi Arianna dan membunuh Camila serta Gabriel, menghancurkan Blazemoche serta Wundervei, dan mengambil alih Harrison dengan gemilang. Mungkin itulah alasan kenapa Aiden dan kau membencinya, bahkan saat Frost tidak melakukan apa-apa."
"Lalu bagaimana denganku? Bukankah sekarang Harrison sepenuhya ada di tanganku?" Tanya Fiona, jelas tidak sabar.
"Aku? Bagaimana denganku?" Lance ikut menimpali.
Sebagai satu-satunya pihak yang bisa dikatakan serba tau, dia mulai lelah "Dengarkan dulu, kalian berdua."
Fiona memilih berkompromi, bahkan melonggarkan cekikannya "Oke, lanjutkan."
"Tapi akhir bahagia yang aku tau, adalah awal dari kemalangan Arianna."
"Dia mendapat karma karena menjadi orang ketiga, mengkhianati sahabatnya, dan mengorbankan orang tak bersalah yang tak terhitung jumlahnya. Memicu kesadaran Arianna dan membuatnya membunuh Frost, yang sudah membunuh anak mereka tanpa harus mengotori tangannya."
"Dan setelahnya ... Dunia itu hancur" 'Camila' mengakhiri penjelasannya dengan menjatuhkan bom bagi orang di sekitarnya.
Semuanya menjadi sunyi, menunggu kelanjutannya. Tapi begitu 'Camila' diam, semua orang menjadi lebih bingung lagi.
".... Itu saja?" beo Lance.
Gadis itu mengangguk "Secara singkat, iya."
"Tapi kenapa? Bukankah itu hanya akan memberi kesan bahwa Tuhan menciptakan seluruh dunia hanya untuk mereka, dan menghancurkannya saat mereka tiada?" tanya Aiden.
__ADS_1
"Itulah yang ingin kucari tau saat ini, dan membuatku menanyakannya pada Gabriel. Jadi, apa kau tau sesuatu?" tanya 'Camila' pada si second lead.
"Tunggu, darimana kau tau semua itu setelah menekankan akhir bahagia? Siapa yang memberitahumu?" Lance jelas masih bingung. Meski ia yakin mereka semua memikirkan kemungkinan yang sama dan berperang dengan fantasi, tapi ia masih merasa perlu bertanya.
'Camila' tampak berpikir untuk beberapa saat, lalu mengatakan "Arianna saat ini, adalah gabungan dari Arianna yang aku kenal."
"Dan kau sendiri? Apakah kau gabungan dari Camila?" timpal Fiona.
Ia menggeleng "Bukan."
"Lalu?" cecar Fiona.
"Dia memang Camila, tapi aku juga Camila. Dia Camila Blazemoche, dan aku Camila Khanzada" jelasnya, sesingkat mungkin.
"Jadi maksudmu kau adalah orang yang sama sekali berbeda didalam sana?" wajah Gabriel tampak terdistorsi saat menanyakan ini, mungkin sedang berkonflik akan Camila mana yang dia sukai.
Meski merasa canggung dan tidak enak hati, ia tetap mengangguk membenarkan "Tepat."
"Mustahil" ini adalah Aiden.
'Camila' semakin merasa tidak enak "Aiden, aku tau sulit untuk menerimanya, tapi-"
"Tidak, bukan itu maksudku. Wajar bagi mereka untuk tidak merasakannya, karena mereka tidak menemanimu tumbuh sejak kecil. Tapi aku berbeda" Aiden langsung memotong ucapannya, tampak sangat yakin akan apa yang ia pikirkan.
Menatap wajah orang-orang yang menunjukkan emosi beragam, Aiden mulai menjelaskan "Camila Blazemoche adalah adik kandungku, aku melihatnya tumbuh sejak dia masih di dalam perut ibu. Aku familiar dengan semua gerak-gerikmu, cara bicaramu, apa yang kau suka dan apa yang kau benci, aku tau semua itu. Dan sama sekali tidak ada perubahan darimu, selain keserakahan yang tumbuh setelah kau semakin dewasa."
"Maksudnya?" kali ini 'Camila' yang menjadi bingung.
Aiden menatapnya dengan ekspresi tertekan "Selain tubuh, aku sama sekali tidak menemukan sedikitpun perubahan darimu, Camila. Hanya saja ... Aura keberadaanmu menjadi jauh lebih kuat sejak empat tahun lalu, itulah kenapa aku sempat mengikutimu kemana-mana saat itu."
Empat tahun lalu ...
Itu adalah saat dia pertama kali masuk kedalam dunia novel ini ...
__ADS_1
"Kalau kau memang bukan Camila yang kami tau, bagaimana mungkin kau benar-benar sangat mirip dengannya? Mustahil ada kebetulan mendekati seratus persen sempurna di semesta" kali ini Aiden yang mengakhiri ucapannya dengan bom.