Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Perubahan Gabriel


__ADS_3

"Kenapa anak-anak kelas A ada di sini? Bukankah kalian harus mengikuti kelas renang?" Sir Arlo yang tadi berlalu pergi, secara ajaib datang kembali sambil mengetuk jam tangannya.


Menerima teguran ini, Arianna yang notabenenya murid teladan meski bukan unggulan, menjawabnya "Camila tidak enak badan, jadi kami kemari untuk meminjamkannya plushie Gabriel."


"Tidak enak badan? Kalau begitu istirahatlah di ruang kesehatan, jangan memaksakan diri untuk mengikuti pelajaran. Perlu saya panggilkan pihak Blazemoche?" Pria tersebut mengambil ponsel begitu menanyakan ini, matanya sesekali akan jatuh pada Camila.


Yang ditatap membalas dengan senyum kecil dan menjawab sopan "Tidak perlu, saya sudah merasa lebih baik. Kami akan kembali ke kelas lebih dulu, Sir."


Pria itu mendekati para siswa dalam jarak wajar, lalu berkedip beberapa kali untuk memastikan bahwa gadis itu tidak sedang membohonginya "Kalau kau masih merasa kurang nyaman, mintalah obat di ruang kesehatan. Dokter sekolah kita cukup baik, jadi jangan memaksakan diri."


Tau bahwa guru yang masih bisa dikatakan sebagai senior mereka ini memiliki niat tersembunyi, Lance menghalangi pandangan Camila dan merespon pihak lain dengan senyum "Saya juga kurang enak badan, Sir."


Sadar sudah mengekspos perasaan pribadi yang kurang pantas, Sir Arlo merasa agak tidak nyaman. Dia menepuk kepala merah Lance dan mengacak-acak rambutnya dengan cara yang cukup dekat, membalas "Apakah kau juga butuh bantuan? Mau digendong?"


"Tidak, saya punya Camila" lelaki merah itu tersenyum menyebalkan saat mengatakan ini. Lalu bergeser mendekat dan memeluk gadis yang dia sebut dari belakang.


Camila yang sudah terbiasa diseret dalam pembicaraan, diam saja. Demikian pula Arianna yang paham betul dengan setiap gelagat Lance, memilih diam.


Sir Arlo yang merasa tidak memiliki kesempatan lagi, memilih mundur "Jangan terlalu dekat, rumor itu kejam dan ingatlah bahwa dinding juga punya telinga."


"Baik, Sir" enteng Lance, lalu menggeret pergi Camila dengan cara berjalan yang aneh, mengingat dia masih menempeli punggung pihak lain.


Keduanya mirip pinguin.


Gabriel menatap ini dengan cemberut, Arianna yang masih memegang plushie untuk diserahkan juga menangkap kejanggalan ini dan melihat garis pandang sahabatnya.


Ini adalah Camila.


Arianna menundukkan kepala dan merenungkan kehidupannya sebelumnya. Seingatnya pada waktu itu, Gabriel membenci Camila karena sudah 'membullynya', tapi setiap kali Arianna tidak ada di sisinya dan mengamati dari kejauhan, dia akan mendapati bahwa fokus Gabriel masih akan terkunci pada sosok tegap Camila.


Benci dan cinta itu beda tipis.


Kalau mencintai, maka orang itu akan selalu ada didalam hati.

__ADS_1


Kalau membenci, maka orang itu akan selalu ada di dalam pikiran.


Yang manapun itu, keduanya sama-sama membuat Gabriel hanya terfokus pada Camila. Baik di kehidupan pertama atau kehidupan saat ini, poros Gabriel masih ada pada Camila dengan dalih 'demi kebaikan Arianna'.


Gadis itu menghela nafas panjang, dan dengan keras menyepak kaki kiri Gabriel. Membuat lelaki perak yang beberapa saat lalu masih cemberut, kini jatuh ke lantai dengan posisi terduduk.


Suaranya cukup keras.


Gabriel menatap Arianna dengan sorot tak percaya dan memprotes "Anna, apa maksud-"


"Ah! Gabriel, kenapa kau tiba-tiba jatuh?! Apakah kepalamu sangat sakit?! Pusing?!" Arianna berjongkok sambil menjerit panik, lalu mendorong-dorong tubuh Gabriel agar terbaring sempurna di lantai.


"Berbaring! Cepat berbaring!" Gadis itu menekankan setiap suku kata ini saat berbisik di telinga Gabriel.


"Hah?" Lelaki perak itu kebingungan, tapi masih menuruti sahabatnya dan berbaring di tanah.


Arianna dengan cepat mengotak-atik posisi Gabriel, memosisikannya di lantai seperti


"Ada apa?" Mendengar pertanyaan Camila yang berlari kembali kedalam untuk memastikan keadaan, Gabriel langsung memahami niat Arianna.


Wah, dasar licik.


Dia berkompromi dan berpura-pura hendak bangkit, dengan memasang ekspresi kesakitan dan memeras satu dua air mata buaya saat menjawab "Aku tidak apa-apa."


"Kau pusing?" Camila ikut berjongkok setelah merapikan roknya, memeriksa perban di kepala lelaki perak. Lalu berlanjut dengan sedikit menyisir rambut perak tersebut dan mengusap pipinya, memastikan tidak ada keringat dingin.


Gabriel merona seperti kepiting rebus dan melirik Arianna melalui sudut mata.


Wajahnya menunjukkan ekspresi 'Idemu boleh juga'.


Arianna membalas dengan senyum angkuh.


"Aku tidak apa-apa, sungguh" Gabriel tersenyum saat mengatakan ini dan bangkit untuk duduk, gerakannya agak lambat dan cukup tersendat-sendat.

__ADS_1


"Sepertinya sekarang Gabriel yang butuh digendong" ini adalah Lance yang mengamati dari samping.


Dia tidak suka Gabriel, tapi bukan berarti dia akan membiarkannya tergeletak begitu saja.


"Kalau begitu tolong ya, Lance" Camila mengungkapkan persetujuannya dan menarik pergelangan tangan Gabriel dengan lembut.


Gabriel yang untuk pertama kalinya sedekat ini dengan Camila "....."


"Duh. Aku melatih tubuhku agar bisa menggendong Camila, kenapa aku hanya terus mendapatkan kesempatan untuk menggendong anak anjing ini?" Lance mengeluh, tapi masih tetap menggendong Gabriel di punggungnya.


"Maaf selalu merepotkanmu, Lance" Gabriel berujar lembut, lalu memeluk kedua pundak Lance dari posisinya.


"Bung, jangan memelukku! Aku tidak mau ada rumor miring tentangku! Lagipula, ini bukan novel begituan!!" Lelaki merah itu memprotes dan mengguncang tubuh Gabriel di punggungnya.


"Lance, kalau kau memperlakukannya dengan lembut maka akan kubuatkan pancake di kelas memasak minggu depan" tawar Arianna.


"Aku menolak!" Desisnya, sambil masih terus mengguncang tubuh Gabriel yang tetap ngotot memeluknya seperti gurita.


"Lance, kau boleh memakan masakanku di kelas memasak besok" tawar Camila.


"Oke" dia langsung menggendong Gabriel dengan mantap, lalu berjalan ke klinik sekolah.


"Haruskah kita mengikuti mereka?" Tanya Arianna, masih memeluk plushie Gabriel.


"Tidak. Lagipula, dia hanya pura-pura" jawab Camila, sambil menatap Arianna dengan penuh arti.


Arianna seketika merasa canggung "..... Aku bisa jelaskan."


Dia lupa bahwa Camila adalah gadis yang sangat tajam.


Sementara itu, Sir Arlo yang masih ada di gedung olahraga dan menyaksikan semuanya dalam diam "........"


'Saya hanya figuran, anggap saja saya sebagai lampu tribun.'

__ADS_1


__ADS_2