Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Kencan dengan Gabriel (1)


__ADS_3

"Selesai."


Camila mengepak barang bawaan yang dia perlukan kedalam backpack beruangnya, hadiah dari Chester beberapa tahun lalu. Celana pendek berwarna putih, hoodie sherpa lengkap dengan telinga beruang, juga sepatu docmart berwarna hitam mengkilap, sekaligus kacamata.


Dia tidak akan keluar dari lobi, karena pengawasan kamera di mansion Blazemoche benar-benar ketat. Jadi dia bergerak menuju balkon kamarnya, memperkirakan jarak antara lantai tiga dengan salah satu cabang pohon, atap gudang peralatan, atap asrama pelayan, dan pagar belakang.


"Jaraknya cukup."


Dia melakukan pemanasan tepat diatas pagar balkon, lalu dengan mantap melompat ke bawah.


........................


Gabriel menaikkan kacamatanya begitu selesai mengecek ponsel, menatap komunitas tidak jauh dan menghela nafas.


"Pacarnya masih lama ya, kak?" Tanya pengemudi taksi yang gemas melihat tingkah laku Gabriel dari tadi.


Mendengar panggilan itu untuk Camila, dia langsung salah tingkah "Tidak, pak. Saya saja yang terlalu awal menunggunya."


"Sudah berapa lama kakak berkencan?" Tanyanya, tersenyum penuh arti.


Pria berambut perak tersebut menunduk dalam-dalam dan menjawab jujur, jelas gugup "Ini ... Kencan pertama kami."


Bapak sopir taksi lantas tertawa "Pantas saja dari tadi saya perhatikan kakak gugup sekali, baru pertama kali toh."


Gabriel merona tak terkontrol.

__ADS_1


Brak!


Keduanya dikejutkan oleh suara pintu yang sepertinya ditabrak oleh sesuatu, Gabriel melihat sosok gadis muda dengan telinga Hoodie yang bergoyang diatas kepalanya. Pria muda itu berkedip beberapa saat sebelum berseru terkejut


"Camila?!"


"Buka ... Pintunya ..." Balas pihak lain, kehabisan nafas.


Gabriel cepat-cepat membuka pintu, Camila langsung ambruk menimpanya dengan nafas tersengal seolah sudah dikejar warga.


Pria itu membeku, wajahnya merona seolah bisa meneteskan darah "Camila, jangan seperti ini. Duduklah yang benar, kenapa kau sampai kehabisan nafas? Jangan bilang kau berlari kesini?"


Dia tampak melirik pengemudi yang gemetar menahan tawa di depan, untuk selanjutnya memasang sekat pemisah, memberi keduanya privasi. Untungnya sopir taksinya cukup pengertian, ingatkan Gabriel untuk memberinya tip nanti.


Camila duduk dengan gemetaran, dia bersandar pada kursi taksi. Keningnya berkerut tidak nyaman "Gabriel, geser."


Camila lantas berbaring sambil meluruskan kakinya, dengan kepala yang bertumpu pada paha Gabriel tanpa sungkan, mungkin karena terlalu kelelahan.


Tindakan ini membuat tubuh Gabriel kaku seketika, dia juga sampai tidak tau harus meletakkan tangannya dimana. Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa mengucapkan apapun, hanya terus memanggil pihak lain "Camila? Camila? Apa-apaan ini?"


Gadis itu sadar bahwa posisinya sangat tidak pantas sekarang. Awalnya dia memang sengaja karena ingin sedikit menggoda Gabriel, penasaran sampai mana batasan pria muda yang penuh api tapi terkubur norma ini.


Reaksi Gabriel sesuai ekspetasinya, jadi dia tidak menggoda pihak lain lebih jauh dan duduk bersandar "Lelah sekali."


"Kau berlari sampai kesini dari Blazemoche?" Dia tidak bisa tidak terkejut saat menanyakan ini, jika dihitung dari luas halaman samping mansion sekaligus jarak dari kediaman Blazemoche kemari, setidaknya itu 2,8 kilometer.

__ADS_1


"Tidak juga" balasnya.


"Lalu?" Gabriel sudah memiliki firasat yang tidak enak saat menanyakan ini.


Camila menjawab dengan enteng "Parkour."


Dia terlalu tertegun untuk mengatakan apapun akan hal ini ".... Kau tidak perlu sampai melakukan itu, bagaimana jika terjadi apa-apa?"


Camila terkadang tidak peduli akan tubuhnya sendiri, tapi mendengarkan seseorang menceramahinya soal prosedur keselamatan, tetap saja terdengar manis. Jadi dia tersenyum kecil menatap pria muda yang sedang fokus menceramahinya.


Gabriel tau bahwa Camila sama sekali tidak menyimak, dan hanya fokus menatap wajahnya. Tatapan ini membuatnya kembali merasa gugup, Gabriel berhenti bicara untuk beberapa saat dan Camila masih menatapnya.


Dia langsung menyudahi ini dengan "Lain kali aku tidak akan setuju kalau kau meminta backstreet, aku akan minta izin langsung pada keluargamu."


Benar saja, fokus Camila kembali "Aiden tidak menyukaimu."


"Sebagai pebisnis dan posisinya sebagai kakak, wajar baginya untuk tidak menyukaiku" dia merasa lebih tenang saat mengatakan ini.


"Bagaimana dengan reputasimu?" Tanyanya lagi.


Gabriel menahan diri untuk tidak mengusap kepala pihak lain "Itu urusanku, Camila. Lagipula sejak awal yang kuincar bukan posisi sebagai selir."


"Aku-"


"Kalau alasanmu tidak bisa putus disebabkan oleh alasan bisnis, akan kubuat kau putus" tukasnya dengan wajah tersenyum, tidak ingin mendebatkan ini lebih jauh.

__ADS_1


Tekadnya sudah bulat.


__ADS_2