Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Ikan dalam jala


__ADS_3

Di sisi lain, rambut perak Gabriel bergoyang saat dia membaca cepat data yang terus bergerak di layar komputer sepupunya. Data ini cukup rumit dan memerlukan banyak perhitungan yang kurang dia mengerti, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kekagumannya lada sepupu ini melonjak ke tingkat baru, mengingat betapa cepatnya dia mendapatkan hasil dari setetes petunjuk.


"Ada perkembangan?" dia bertanya retoris, mengorek informasi dari sudut pandang sepupu kecilnya.


Gadis yang masih mengenakan almamater kampus ini menjawab singkat "Sama seperti yang dikatakan Frost dan sesuai dengan isi penjelasan Camila."


Kening Gabriel sontak berkerut tidak senang mendengar penuturan tersebut "Jangan memanggil namanya dengan akrab, aku tidak suka."


Gadis bernama Kairi tersebut hanya bisa facepalm memghadapi kecemburuan sepupunya yang tidak berdasar, memutuskan untuk melanjutkan tanpa memedulikan keanehan orang ini ".... Dari data yang kubuka dari ponselnya, Rushia jelas memainkan trik yang tidak akan bisa disadari oleh orang yang ceroboh seperti Frost."


"Jadi sekarang dimana posisi wanita itu?" Fiona yang untuk beberapa alasan bisa tiba-tiba muncul di kediaman cabang kedua Wundervei, bertanya tanpa sedikitpun kesopanan.


Mata hitam Kairi berbinar begitu melihat sosok Fiona, lalu memasang senyum terbaiknya dan menjawab "Pertanyaan bagus, dia sedang berada dibawah perlindungan kepala keluarga Icardi. Meski aku yakin perlindungan ini tidak akan bertahan lama."


"Alasan?" tagih si wanita, jelas menangkap binar aneh di sepasang mata itu.


Melihat bahwa pihak lain memutuskan untuk berpura-pura tidak tau, Kairi tidak lagi mengirimkan sinyal-sinyal ambigu dan kembali fokus pada bisnis mereka "Aku sudah mengutak-atik materi yang dia kumpulkan, jadi jika keluarga Icardi tetap dengan keras kepala menggunakan itu untuk menyerang Harrsion ... Maka mereka yang akan rugi besar."


"Bukankah Rushia menyimpan data itu dalam hard disk untuk alasan keamanan? Bagaimana mungkin kau bisa mengubah datanya?" Gabriel tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Merasa terganggu karena interupsi sepupunya, Kairi menjelaskan dengan sangat tidak sabar "Kau bo ... Lupakan. Jadi begini, mustahil mereka tidak melakukan pemeriksaan ulang pada data curiannya 'kan? Baik itu Rushia atau pihak keluarga Icardi, salah satu dari mereka pasti akan menggunakan laptop atau apapun itu untuk memeriksanya. Meski itu hanya sepuluh menit, lima menit, atau bahkan dua menit saja sudah cukup bagiku dan teman-temanku untuk menanam kejutan disana."


Teman-teman ... Jadi Kairi memiliki relasi yang sama jeniusnya dengan dia? Itulah yang dipikirkan baik itu oleh Fiona maupun Gabriel.


"Apakah persoalan ini bisa kuanggap sebagai selesai?" wanita itu jelas tidak sabar, dia bahkan tanpa sungkan mengeluarkan pistol di hadapan dua orang lain.


Kairi langsung kembali me mode bisnis dan menjawab serius dan memfokuskan seluruh perhatiannya pada layar komputer "Untuk data curiannya, maka jawabanku adalah iya. Tapi untuk urusan maupun alasan Rushia, kurasa kita masih perlu menggali lebih jauh."

__ADS_1


Tangan Fiona yang barusan menggoyangkan pistol langsung diturunkan dengan ekspresi wajah yang sedikit melunak, dia mengangguk puas pada jawaban langsung sepupu Gabriel dan kembali mengantongi pistolnya.


"Tidak perlu, aku tidak butuh latar belakang menyedihkan atau apapun itu untuk dijadikan alasan olehnya. Akan kubunuh dia"  tolak Fiona, sambil merapikan penampilannya seolah ia tidak mengatakan sesuatu yang mengerikan barusan.


Kairi berkomentar dengan nada lirih "Fiona, pembunuhan itu ilegal di dunia."


Fiona melambaikan tangannya pada Gabriel "Aku tidak butuh pendapatmu, sayang. Dia sudah berani meliukkan tubuh busuknya didepan hidungku, aku akan tetap memberinya pelajaran."


Wanita itu melangkah pergi bersama pengawalnya di luar pintu, tanpa menimbulkan sedikitpun suara.


"Abaikan dia. Aku penasaran, apakah patriark keluarga Icardi adalah ayah kandung Rushia?" Gabriel kali ini bertanya, merasa lebih leluasa karena gangguan itu sudah pergi.


Dengan mata yang sepenuhnya masih terfokus pada pekerjaan di depan layar, meluruskan posturnya dan dengan sengaja menyelipkan rambut ke belakang telinga "Besar kemungkinan bukan, hanya saja ibu Rushia beberapa tahun ini menjadi selirnya walau sudah menjadi selir patriark Harrison. Pergaulan ibu Rushia itu cukup kacau, dengar-dengar wanita itu sendiri tidak tau yang mana ayah asli Rushia. Sementara alasan Rushia melakukan ini, menurutku hanya sebatas upaya balas dendam sekaligus agar dia memiliki pijakan yang tepat dan bisa ia sebut keluarga."


Keduanya diam, karena penjelasan Kairi memang cukup masuk akal dengan dugaan mereka sebelumnya.


Keheningan ini terpecah saat gadis itu bertanya pada sepupunya "Berapa lama sejak terakhir kali Rushia mencuri datanya?"


"Itu waktu yang cukup lama untuk mengamankan beberapa aset sebagai jaminan" dia mengatakan ini dengan nada sarkas yang sangat jelas.


Gabriel mengangguk setuju "Rushia ini cukup pintar, dia pasti tau mustahil posisinya akan aman dengan menggunakan cara licik seperti ini. Jadi setelah dia mengamankan beberapa aset, dia pasti akan segera menguangkannya sebelum pergi ke antah berantah untuk memulai hidup baru. Kalau perkiraan kita benar, sekarang pasti sudah cukup berisik di keluarga Icardi."


"Kita bisa mulai menyisir kota untuk menangkap Rushia dan ibunya, panggil orang Harrison!" seru Kairi sambil memutar kursinya untuk mendramatisir suasana.


Namun yang ia dapati hanya wajah berkilau sepupunya, sudah tidak ada satupun jejak keberadaan Fiona disana.


Menyadari apa yang dipikirkan sepupu kecilnya, Gabriel membalas dengan nada setengah mengejek "Fiona sudah keluar daritadi untuk membunuh orang."

__ADS_1


"Ah."


...........................


Fiona mengisi selongsong pelurunya dan bertanya pada alat komunikasi "Lance, posisi."


Pihak lain yang sedang mengawasi CCTV bersama beberapa saudaranya membalas cepat begitu terdengar suara statis sebanyak satu kali "Oke, salah satu kamera pengintai di properti keluargaku menangkap sosok yang kalian curigai sebagai ibu Rushia. Wanita itu bergerak sendiri, aku tidak bisa melihat sedikitpun keberadaan Rushia disini."


"Camila?" Tanya Fiona, yang langsung disambut oleh suara setengah malas dan setengah arogan.


"Fiona, aku juga tidak menemukannya. Tapi kusarankan agar kau mulai memyisir area sekitar bandara" sarannya.


Wanita itu memainkan listol dan membuat permintaan pada gadis itu melalui alat komunikasi mereka "Bagus, pinjamkan anak-anakmu padaku."


Camila dengan cepat menjawab "Bantuanku tidak gratis."


Sambil menggertakkan gigi, Fiona berkata "... Akan kuberikan cek."


Camila menanggapi dengan nada girang yang sangat kentara "Bagus, akan kupinjamkan lima belas orang."


"Hanya lima belas? Pelit sekali" cibir Fiona, secara sadar langsung mengurangi nominal yang ingin dia tuliskan.


Namun pihak lain justru dengan santai menjawab "Ada harga ada kualitas dan kuantitas, Fiona."


Gerakan Fiona terhenti dan dia kehilangan postur elegannya seketika saat memaki ".... B*tch. Suruh mereka mempercepat langkahnya, mobilku sudah berada di dekat lokasi penyisiran."


Camila masih menanggapinya dengan santai "Oke. Ngomong-ngomong kau boleh langsung menembakkan pelurumu, Fiona. Disana kebanyakan adalah orang-orangku dan Lance."

__ADS_1


Fiona jelas puas akan perkembangan situasi ini dan mulai melakukan peregangan kecil "Bagus, jangan sampai anak buahmu yang pertama kali menembakkan peluru atau akan kulubangi kepala mereka."


Gadis di seberang sana tertawa "Jangan khawatir, mereka anak baik."


__ADS_2