
Semua orang membelalakkan matanya begitu dunia yang sudah berhenti menekan tombol jeda, memutar kembali waktu mereka bahkan sebelum bibir dua orang lain bersentuhan. Suara hiruk pikuk perjamuan atas kepulangan dan pencapaian baru Camila Bkazemoche juga terdengar dari tempat mereka.
Aiden tidak lagi peduli pada adegan fantasi ini, dan menjadi orang pertama yang berlari turun kembali ke lantai perjamuan dengan penampilannya yang masih tampak berantakan. Mata ungu gelapnya berkilat mencari seseorang, mengabaikan semua tamu perjamuan yang berniat menyapa dan mengajukan pertanyaan padanya.
Chester yang sejak awal masih berdiri di posisinya, membicarakan pengajuan kerjasama dengan beberapa anak keluarga lain terkejut mendapati bahwa Aiden yang selalu ada di sampingnya secara ajaib menghilang.
"Maaf, permisi" pamitnya, lalu undur diri.
Para nona serta tuan muda menatap sosok bingung Chester di kejauhan dengan mata iri, saat salah satunya tiba-tiba buka suara tanpa menahan diri "Aku iri pada Chester, dia mendapatkan pasangan yang bahkan mau melepaskan seluruh posisi dan haknya dalam keluarga hanya agar mereka bisa bersama."
"Jangan lupa, Chester juga melepaskan segalanya demi Aiden. Dasar, membuatku iri saja" keluh seorang nona muda lain.
"Benar, jarang sekali bisa menemukan cinta yang seperti itu. Mereka bahkan tidak terburu-buru mengadopsi anak, hanya fokus bekerja dan menikmati kehidupan dua orang. Kalau aku jadi dia dan seseorang seperti Aiden mencintaiku, aku juga akan melepas segalanya" balas salah seorang tuan muda.
"Aku masih ingat saat empat tahun lalu mereka mendatangi pintu perusahaan ayahku untuk mengajukan kerjasama, keduanya masih mahasiswa yang keras kepala dan diejek setiap saat karena keputusan mereka untuk menentang keluarga. Tapi lihat mereka sekarang ..." Lanjutnya.
Chester melihat sekeliling perjamuan dengan bingung, sebelum mendapati sosok berantakan Aiden yang juga tampak kebingungan di tengah ruangan. Dia akhirnya menjadi yang pertama berjalan mendekat dan memanggil "Aiden! Kau darimana saja?"
Mendengar suara ini, Aiden tanpa banyak bicara langsung menariknya kedalam sebuah pelukan.
Para tamu di perjamuan menghentikan aktivitas mereka dan melihat keduanya, ada yang tampak jijik dan ada juga yang tampak antusias.
Chester mengenalnya selama bertahun-tahun, oleh karena itu dia balas memeluknya selama beberapa waktu dan berbisik "Mau mencari udara segar diluar?"
Aiden mengangguk, melepaskan pelukannya dan menggandeng Chester keluar pintu. Meninggalkan kerumunan yang menatap keduanya dengan tatapan menusuk dan penuh penghakiman.
Lance melihat kepergian dua pria itu dari lantai perjamuan dan menghela nafas panjang, dia bahkan berlari ke pagar diluar untuk melihat apa yang akan dilakukan dua orang itu dari posisinya saat ini.
Dalam cahaya samar dari mansion dan juga bulan yang pucat, dia melihat Chester merapikan penampilan Aiden dengan senyum lembutnya dan keduanya kembali berpelukan dalam waktu yang lama. Itu saja. Tapi suasana diantara keduanya agak berubah dan menjadi lebih dan lebih hangat, mengingat Aiden tampaknya mengucapkan sesuatu berulangkali tanpa berniat melepaskan pelukan mereka, serta Chester yang tertawa dengan wajah merona dan mengeratkan pelukan mereka.
Saat dia kembali fokus pada Raymond, pria itu tampak sudah menyelesaikan tugasnya. Baik Fiona, Gabriel, 'Camila' dan Lance menunggu ini dengan penuh antisipasi, hanya untuk dikecewakan. Karena yang membuka matanya lebih dulu adalah Frost Harrison.
"Kepalaku ... Dadaku ... Wah ...." Dia mengeluh penuh rasa sakit dan menggeliat di lantai, bergulingan diatas darah.
Mata hitamnya menatap wajah dingin kakak perempuannya dan sekali lagi mengeluh "Kakak ... Aku akan mati ... Bagaimana ini? Sakit sekali ..."
Fiona membantunya untuk duduk tanpa banyak bicara dan merogoh ponsel di saku jas adiknya, berkata pada orang lain "Aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan, untuk saat ini aku akan membawanya ke rumah sakit. Kau, bocah keluarga Aubrey."
"Ya?" Lance menunjuk dirinya sendiri begitu dipanggil.
Fiona mengulurkan tangannya "Berikan jasmu pada Frost, dan ikut denganku sebagai saksi 'kecelakaan' ini."
__ADS_1
Menyadari betapa besarnya pengaruh Harrison dan status Frost, dia mengangguk dengan gugup. Lalu berpamitan pada tiga orang lain sembari melepaskan jasnya untuk membungkus kepala Frost "Kami mengurus yang ini dulu, pastikan juga membawa Anna ke rumah sakit setelah ini."
"Bung, kenapa kau membungkus kepalaku?" Frost masih sempat protes walau dengan tubuh lemas akibat kekurangan darah.
"Berisik, Frost. Tidur saja dan berhenti protes seperti anak manja" Fiona menegurnya dan menarik paksa lengan sang adik agar bangkit dari lantai dan berdiri, tapi pihak lain terus saja merosot ke bawah tak peduli sebanyak apa dia mencoba membantunya.
Fiona bukan tipikal orang yang sabar, dia sekali lagi menunjuk hidung Lance dan memerintahkan "Kau, gendong dia."
"Kenapa aku?" tentu saja Lance tidak mau.
Fiona menatapnya selama beberapa waktu dan berkata "Aku akan memberi keluargamu tambahan satu persen."
"Deal."
Keduanya segera menghilang dengan Fiona yang terus membuat panggilan telepon.
Hanya Arianna yang belum bangun, membingungkan orang-orang ini.
Raymond menatap 'Camila' dengan bingung "Haruskah kita ke rumah sakit?"
Gabriel juga ikut melirik 'Camila', tapi gadis itu dengan tenang mengajukan pertanyaan pada si pria "Kau yakin sudah melakukan CPR dengan benar?"
'Camila' dengan lembut melepaskan genggaman tangan Gabriel darinya, lalu duduk disamping tubuh Arianna. Gabriel jelas tampak sangat tidak rela, tapi dia juga mengkhawatirkan kondisi sahabatnya yang jelas tampak hidup namun terlihat sudah tak bernyawa.
Entah karena Arianna sangat mempercayai 'Camila' atau memiliki perasaan yang cukup mendalam untuknya, fantasi sekali lagi memainkan mata mereka. Begitu 'Camila' menyentuh dagu gadis itu untuk meluruskan kepala, penampilannya segera kembali menjadi nona muda Blazemoche yang semula.
Rambut hitamnya meluruh menjadi rambut coklat sebahu, demikian pula seragam kantornya yang berubah menjadi gaun mahal yang sangat familiar. Matanya yang hitam memudar menjadi ungu gelap, dan kulit pucatnya berubah menjadi kemerahan seperti sebelumnya.
Dan tepat pada saat bibir keduanya bertemu, suasana di sekitar mereka entah kenapa menjadi lebih ... Hangat dan manis. Bahkan bintang di langit yang semula tertutupi oleh cahaya bulan, kini ikut berkelip-kelip seolah sudah memberikan restu mereka.
Gabriel dan Raymond menyadari semua perubahan ini sontak mematung dan menatap sengit dua gadis yang sudah tidak memiliki jarak apapun.
Pria berkulit gelap itu tanpa basa-basi langsung menariknya menjauh dari Arianna, menatapnya dengan waspada "Anda nona muda Blazemoche?"
"Aku belum bilang?" bingungnya, dia pikir pria ini sudah tau sejak awal.
Raymond mendorongnya sedikit sebelum menjaga Arianna dibalik punggungnya, memberinya tatapan seolah Camila adalah binatang buas yang hanya ingin cari-cari kesempatan. Pria itu tampak menahan diri dari melontarkan makian mengingat Camila adalah bosnya, tapi dia tidak menghentikan mulutnya untuk berkata "Kalau begitu anda dilarang dekat-dekat Anna."
Camila "......"
Kau tidak cemburu pada si sahabat masa kecil Gabriel, tidak cemburu pada si kekasih masa lalu Frost, tidak cemburu pada si lesbian Fiona, tidak cemburu pada si teman baik Lance ... Tapi malah cemburu padaku? Si penjahat Camila?
__ADS_1
Kenapa semua orang selalu menganggapnya mencintai protagonis wanita?
"Sudah kubilang aku lurus, aku tidak menyukai Arianna seperti itu" dia membela diri entah untuk yang keberapa kali dan entah untuk siapa, karena Gabriel juga menatapnya dengan tatapan terluka seolah pria itu bisa menangis kapan saja.
"Gabriel, jangan bilang kau masih memiliki pemikiran itu?" Camila benar-benar lelah.
Gabriel tersenyum dengan ekspresi yang bahkan tampak lebih menyedihkan dibanding menangis, berkata "Tidak ... Aku ... Aku percaya padamu."
"Kau jelas tidak percaya padaku!" kesal Camila.
Seolah menambahkan garam pada luka, Arianna yang tidak sadarkan diri tak peduli sebanyak apapun mereka mencoba sebelumnya ... Kali ini membuka mata.
Raymond yang sedang setengah memeluknya menyadari gerakan kecil ini dan memanggil dengan lega "Anna! Akhirnya kau sadar! Bagian mana yang sakit? Apa kau baik-baik saja?"
Gabriel tersenyum dengan sudut bibir yang berkedut saat menyapa "Anna, selamat datang kembali ..."
Namun meski ada dua pria terdekat yang menanyakan kondisinya, mata Arianna justru terpaku pada Camila. Protagonis wanita juga tersenyum lembut dengan mata bulatnya yang berair saat mulutnya terbuka.
Kata-kata pertama yang keluar dari sana adalah "Camila ... Aku tau kau pasti akan menyelamatkanku ..."
Ekspresi Raymond berubah drastis seolah dia sudah dijejali sekeranjang kotoran.
Dan Gabriel ... Sudah menangis dan berlari ke bawah, dia merasa sangat sakit hati saat meninggalkan kalimat "Semoga kalian bahagia!"
Camila dengan putus asa mengejarnya dan berteriak "Astaga, Gabriel! Sudah kubilang bukan seperti itu! Kau salah paham!!"
Saat inilah Arianna tampaknya baru sadar bahwa ada orang lain yang sedang memeluknya, dan begitu dia mendapati wajah yang familiar. Dia sekali lagi tersenyum, walau senyuman itu tidak semanis saat gadis ini melihat Camila.
"Ah ... Ternyata Ray" hanya itu yang keluar dari mulutnya, sebelum dia jatuh tertidur seperti Frost.
"....... Cewek sialan" maki si pria, kepalanya mulai terisi oleh konten yang tidak seharusnya dan dia menghela nafas panjang.
Ini bukan kisah tentang Rapunzel dan pemburu, melainkan Rapunzel dan si penyihir menara ...
Bukan kisah tentang Peterpan dan Wendy, melainkan Wendy dan Tinkerbell ...
Bukan kisah Putri salju dan pangeran, melainkan putri salju dan ibu tirinya ...
"Hah ...." Raymond sekali lagi menghela nafas panjang dan menggendong tubuh Arianna yang terkulai, perlahan turun ke bawah dengan penuh keluahan.
Batinnya tidak berhenti mengeluarkan makian ... Cewek sialan, pelangi sialan!
__ADS_1