Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Mari bertarung


__ADS_3

"Tuan muda, ada tamu dari kediaman Blazemoche."


"Blazemoche?" Mata Gabriel seketika cerah, dia tanpa sadar merapikan dirinya dan mencari posisi nyaman untuk berbaring.


Seolah dia tidak pernah ditolak oleh nona muda Blazemoche sebelumnya, kemungkinan besar dia juga sudah melupakan fakta bahwa dia pernah menangis di depan gadis yang dia suka, sampai gadis itu tidak bisa berkata-kata.


Dia hanya mengingat kenangan manis dimana Camila nyaris menciumnya.


Antara polos dan bodoh, bedanya sangat tipis.


Namun menyimpan kenangan baik dan membuang kenangan buruk, itu adalah sesuatu yang bagus. Karena setidaknya Gabriel bisa terus berpikir positif.


Sampai dia melihat siapa orang yang membesuknya.


Wajah cerah Gabriel seketika berubah menjadi: ಠಗಠ


"Apa-apaan dengan ekspresimu yang jelek itu?" Tanya Aiden sambil mengunyah apel dari bingkisan yang harusnya ia berikan pada Gabriel.


Chester yang baru saja selesai meletakkan sebungkus teh di sebelah tangan Gabriel, lalu mendengus kecil "Kau yang apa-apaan, Aiden."


"Kau pasti melakukan sesuatu padanya saat aku keluar negeri bukan?" Senyum di wajah Chester berubah drastis menjadi seringai.


".... Tidak kok" kilahnya.


"Kita bicarakan ini nanti" dengus Chester, lalu kembali pada dirinya yang cerah dan positif seperti biasa.


Gabriel bukan orang bodoh, hanya saja dia sebelumnya terlibat kesalahpahaman konyol dengan Camila. Jadi dia tidak mau berasumsi akan preferensi orang lain, meskipun dua orang ini memancarkan aura semacam itu.


Karena Chester adalah pria yang peka, dia segera menyadari anomali "Mencari Camila? Anak itu tidak apa-apa kok. Dia cuma titip salam dan akan menelpon nanti, jadi tenanglah."


Jawaban ini membuatnya merasa lega "Benarkah? Kalau begitu terimakasih, sampaikan juga padanya bahwa aku sudah tidak apa-apa."

__ADS_1


Setelah membuang sisa-sisa apel dan membersihkan tangan serta mulutnya menggunakan tisu, Aiden bersuara "Gabriel."


"Ya?"


Pria yang lebih tua tersebut berkata "Terimakasih sudah menjaga Camila untukku."


Gabriel tentu tidak menduga ucapan ini akan keluar dari kakak Camila "Ah. Bukan masalah. Aku senang melakukannya."


"Tapi bukan berarti aku akan merestui pengejaranmu" dengus Aiden, sembari menyilangkan tangan didepan dadanya.


"Eh?"


Aiden dengan angkuh menunjuk kepala cantik Gabriel yang masih terbalut perban "Kau masih terlalu biasa untuknya. Kalau kau sungguh-sungguh dengan perasaanmu, setidaknya kau harus bisa melampauiku."


"......"


Chester hanya menginterupsi dengan "Kalian masih dibawah umur, jadi lupakan saja pemikiran itu."


"Dan selama penantian itu, mari kita bertarung."


"Kau kembangkan Wundervei, dan akan kukembangkan Blazemoche. Tenggat waktu adalah tujuh tahun dari sekarang, kau sanggup?" Tatapannya begitu tajam saat mengucapkan ini.


"Aku tidak punya pilihan 'kan?" Pasrah Gabriel dengan wajah yang selalu tersenyum, tapi kali ini senyum itu tampak agak berbeda.


"Aiden, sungguh tidak tau malu menantang anak kecil" sahut Chester sambil menepuk pundak temannya.


Aiden menimpali dengan sebuah kalimat panjang, yang lebih bisa dikatakan sebagai flashback singkat, di masa remaja mereka "Kau masih seusianya saat dicoreng dari kandidat orang cakap keluarga utama Harrison, Chester. Terkubur lumpur dan nyaris tak bisa bangkit lagi."


"Dan aku masih seusianya saat ayah melemparku ke antah berantah untuk bertahan hidup selama satu bulan, hanya bermodalkan pakaian yang melekat di tubuhku dan sebilah pisau buah."


"Dan sebentar lagi giliran Camila" sahut Chester.

__ADS_1


"Eh?!" Dia tidak pernah mengira bahwa keluarga besar memiliki tradisi aneh semacam ini.


Aiden merangkul pundak Chester "Kalau Gabriel tidak bisa bertarung denganku, aku tidak akan pernah merestuinya mengejar Camila."


"Tunggu sebentar, kalian akan melemparkan Camila ke antah berantah untuk ujian bertahan hidup?!" Gabriel memekik hingga nyaris terjungkal dari tempat tidur.


"Tentu saja tidak" enteng Aiden.


Kalimat singkat itu sontak melegakan Gabriel.


"Tapi ..."


"Tapi?" Dia masih meremehkan kakak Camila dalam mengejutkannya.


Aiden menjawab enteng "Karena Camila lebih superior dariku, mungkin ujiannya akan lebih berat dari sekedar bertahan hidup di antah berantah."


"Apa?!"


Chester mengacuhkan pekikan dari si bocah Wundervei, dan mengangguk "Aku sependapat. Semakin baik seseorang, semakin berat pula ujiannya. Camila harus terbiasa agar tidak menjadi mati otak seperti tunangannya."


"Jadi ... Apa ujiannya?" Gabriel bertanya dengan harap-harap cemas.


Aiden dengan santai melemparkan apel ke kasur Gabriel dan menjawab "Mungkin ayah kami akan melemparnya ke daerah kumuh, lalu memintanya untuk mengembangkan daerah itu dalam waktu sebulan."


Gabriel yang awalnya hendak menangkap apel, akhirnya terkena telak di bagian pundak. Tapi dia mengacuhkannya dan memekik "Hah?! Itu terdengar sangat mustahil! Pemerintah daerah bahkan tidak akan bisa melakukannya!"


Aiden tertawa meremehkan "Itu hanya kemungkinan."


Chester merenung sejenak saat memperhatikan raut cemas Gabriel, lalu menambahkan minyak kedalam api "Kurasa paman akan melemparnya ke luar negeri tanpa apa-apa, lalu memaksanya untuk kembali kesini selama seminggu."


"!!!!"

__ADS_1


__ADS_2