
"Mana Gabriel?" Tanya Lance dengan tangan yang menggandeng Camila.
Arianna melihat kedua tangan yang saling bertaut tersebut, lalu menjawab
"Aku tidak tau, dia tidak menjawab telepon."
Camila melihat Arianna yang menuntun sepeda pemberian Gabriel saat memasuki sekolah, merasa bahwa memang sudah seharusnya hubungan mereka seperti ini.
"Mungkin dia sedang tidak enak badan" Camila berusaha menghibur Arianna yang tampak murung.
"Atau sedang tidak enak hati" celetuk Lance, sambil melepaskan genggaman tangan mereka. Bagaimanapun juga, ini di lingkungan sekolah, dan mereka sama-sama sudah memiliki tunangan. Tidak baik mengekspos perjanjian ke publik.
"Tidak enak hati? Apakah sesuatu sudah terjadi?" Arianna tampak penasaran dan melihat Lance lekat-lekat.
"Urusan laki-laki, hanya sedikit beradu argumen saja" jelas Lance, singkat dan rancu.
Camila tampaknya tertarik pada perubahan pembicaraan ini dan bertanya pada lelaki berambut merah
"Kalian bertengkar?"
Lance agaknya tampak bosan menjelaskan ini berulang-ulang
"Tidak sampai separah itu."
"Lance, kau memukulnya?" Arianna mengulangi pertanyaan Camila dengan kata-kata yang berbeda.
Lance tidak tahan lagi dan memutar bola matanya karena jengkel
"Sudah kubilang tidak sampai separah itu, percayalah padaku sedikit."
"Apakah terjadi sesuatu pada Gabriel?" Arianna menggumamkan pertanyaan untuk dirinya sendiri, yang tentu masih bisa didengar oleh dua orang lain.
Camila adalah yang memilih untuk menjawab ini
__ADS_1
"Tidak tau, tapi sekalipun jika benar ada apa-apa. Sekolah pasti akan mengabari kita jika anak itu tidak mau melakukannya."
.............................
Dan benar saja, second lead menghilang selama tiga hari penuh.
Dengan absennya Gabriel, hal-hal lantas menjadi benar-benar kacau.
Seperti saat Camila izin dari pelajaran olahraga dan hanya melihat dari kursi tribun gedung olahraga, dia mendengar suara langkah kaki sekelompok orang dan samar-samar pintu gudang olahraga yang terbuka.
Sebelum digerendel agar terkunci dari luar.
Camila menghela nafas dan bangkit dari posisinya, berjalan menuruni tribun untuk melepaskan seseorang.
Siapa lagi yang akan dikunci jika bukan protagonis wanita?
Lagipula novel tempatnya tinggal sekarang, adalah novel sampah tentang bad boy dan good girl.
Hari kedua, Arianna disiram dengan cat minyak oleh kakak kelas karena gosip 'menggoda Frost'.
Dan hari ini, hari ketiga. Arianna dikunci di gudang olahraga.
Jika besok Gabriel masih tidak masuk, Camila yakin Arianna pasti akan didorong ke kolam renang sekolah. Atau mendapati bahwa seragam olahraganya sudah dirobek-robek.
Camila tidak berharap lebih dan langsung memanggil guru olahraga yang memegang kunci, agar pergi bersamanya dan menyelamatkan orang.
"Camila, kau yakin mendengarnya?" Guru bernama Alea tersebut tampak kurang yakin melakukan ini, sekalipun tangannya sudah menempelkan kunci ke kenop pintu gudang olahraga.
"Yakin, Miss. Percayalah, naluri saya sangat kuat."
Begitu diyakinkan dengan ini, dua orang tersebut membuka pintu gudang dan membukanya lebar-lebar untuk melihat siapa korbannya. Benar saja, itu adalah Arianna yang sedang meringkuk di lantai dengan tubuh gemetar.
"Arianna."
__ADS_1
Camila adalah yang pertama kali buka suara, tapi pihak lain hanya tersentak dan menatap sumber suara dengan wajah penuh teror. Membuat bingung sekaligus panik orang-orang yang berada disini sekarang.
Meski bingung, Camila masih berusaha untuk berpikir positif dan mendekati pihak lain. Suara langkah sepatu kulitnya, menggema ringan didalam gedung olahraga yang sunyi dan hanya terdengar suara isak tangis si protagonis.
"Arianna, kau tidak apa-apa?"
Mendengar ini, si protagonis berhenti gemetar dan tatapannya menjadi kosong seketika.
"Arianna?"
Masih tidak ada jawaban.
Sadar bahwa ada sesuatu yang salah, Camila segera memanggil guru yang menemaninya
"Miss Alea, tolong kemari. Ada yang salah dengan Arianna."
Yang dipanggil lantas berjalan mendekati kedua gadis tersebut sambil mengajukan pertanyaan
"Apa? Ada apa dengannya? Gejala sesak nafas? Serangan panik?"
"Bukan" jawabnya.
Namun dua orang ini tidak tau bahwa Arianna mengalami rasa sakit yang luar biasa di kepala dan jantungnya, seolah seseorang sudah menyulut api untuk membakar sesuatu di dalam dirinya hingga habis.
Dan orang itu berhasil.
Arianna merasa bahwa setengah hatinya hilang menjadi debu yang berserak,menyebabkan tatapan matanya menjadi kosong seketika. Sebelum suara Camila yang memanggil namanya, memperparah sakit kepala yang dia derita.
Arianna mulai berteriak kesakitan, sebelum jatuh pingsan dalam pelukan Miss Alea.
Samar-samar, ada sesuatu yang muncul dari retakan kecil di udara tipis dan masuk kedalam tubuh Arianna.
Itu adalah jutaan potongan mikro dari suatu fragmen, yang bisa disebut sebagai ingatan.
__ADS_1