
Arianna terkejut melihat ibunya dan memanggil lirih dengan mata merah
"Ibu ..."
"Ibu, aku bisa menjelaskan-"
"Apa kau memukul ayahmu?" Potong Evi, ibu Arianna. Dia masuk sambil membawa dompet yang terisi penuh dengan berbagai kartu, kelihatannya baru selesai melakukan transaksi keuangan diluar.
"Katakan, apa kau memukul ayahmu? Bukankah aku sudah bilang bahwa tidak mudah bagi ayahmu untuk mencari uang agar bisa menghidupi keluarga ini? Wajar jika dia marah mengingat betapa lelahnya dia bekerja, kau hanya harus menahannya. Apakah itu sulit?"
"Dia ayahmu, Anna. Dia yang memberimu hidup dan memberimu makan selama ini, kenapa kau bisa setega ini dan memukulnya? Jika orang lain tau betapa durhakanya dirimu, tidakkah kau tau bahwa akan sulit bagimu untuk menikah saat dewasa nanti?"
Arianna diam dan menundukkan kepalanya, selalu saja seperti ini.
Dia benar-benar malu menunjukkan keluarganya yang berantakan pada satu-satunya teman perempuan yang dia miliki, dia tidak sanggup melihat wajah Camila.
Camila sendiri hanya tertawa di tempat sambil menggandeng tangan Arianna, dia tertawa karena merasa sangat marah.
Ini adalah pertama kalinya dia mendengar argumen konyol seperti ini.
__ADS_1
Ibu kandung macam apa ini?
"Maksudmu karena Arianna adalah anak yang kau lahirkan, maka wajar baginya untuk menanggung setiap hinaan dan pukulan karena dia harus berbakti pada orangtuanya?" Tanya Camila.
Dia tertawa kembali
"Lalu bagaimana jika Arianna dipukuli sampai mati? Apakah itu baru bisa disebut sebagai anak berbakti? Bahkan harus ada monumen nasional untuk memperingati betapa berbaktinya dia sebagai seorang anak?"
Orner hanyalah sampah yang tidak berguna, oleh karena itu dia tidak mau membuang waktu untuk mengucapkan sepatah katapun padanya.
Namun Evi adalah seorang wanita dan seorang ibu, bagaimana bisa dia mengatakan hal semacam ini pada anaknya yang jelas-jelas penuh luka? Bahkan dengan tak tau dirinya memaksa Arianna untuk menahan setiap hinaan dan pukulan?
"Kau masih gadis kecil, kenapa bisa mengucapkan kata-kata yang sangat keji seperti itu? Ini adalah urusan keluarga kami. Lagipula Ayah Anna tidak selalu seperti ini, dia hanya terlalu tertekan dengan pekerjaannya di kantor. Wajar jika dia memukul Anna beberapa kali, anak ini hanya harus menahannya saja. Nanti saat semuanya membaik, ayah Anna tentu tidak akan memukulinya lagi."
Kening Evi berkerut tidak senang saat melihat Arianna masih bergandengan tangan dengan Camila, melanjutkan
"Ayah juga tidak pernah memperlakukanmu dengan kejam, Anna. Sebagai putrinya, kenapa kau baper sekali?"
Dia beralih menatap Camila
__ADS_1
"Aku tau kau adalah teman sekolah Anna, tapi terlalu lancang bagimu untuk ikut campur masalah keluarga orang. Jadi kuharap kau segera pergi, jangan kemari lagi. Anna, bawa dia keluar."
Begitu mendengar kata-kata Evi, Orner berteriak marah
"Pel*c*r kecil itu tidak akan kemana-mana!!"
Setelah berhasil menahan rasa perih di wajahnya, dia berdiri dan berteriak kembali
"Pel*c*r kecil ini tidak akan kubiarkan pergi begitu saja setelah memukuliku!! Akan kubuat dia bersujud sambil minta maaf di kakiku!!"
"Apa?!" Evi terkejut akan perkataan suaminya.
Pada awalnya ketika dia pulang dari mengantarkan uang untuk anak pertamanya, dia melihat dua gadis dari pintu yang terbuka dan suaminya yang berlutut di lantai. Dia ingat bahwa Arianna pernah bilang bahwa dia tidak tahan lagi dengan ayahnya, oleh karena itu Evi menyimpulkan bahwa gadis itu sudah memukul ayahnya sendiri.
Namun jika dilihat sekarang, tampaknya hanya Camila yang memegang sabuk di tangannya. Jadi tentu saja suaminya sudah berkata jujur, dia menjadi marah
"Anna, apa-apaan ini?! Kau membawa teman-teman liar dari sekolah dan memfitnah ayahmu, lalu membuat mereka memukulinya?! Gadis itu adalah orang luar dan dia adalah ayahmu! Kenapa kau berkolusi dengan orang luar dan menjadi sekejam ini?!"
Mata Evi merah penuh kekecewaan saat memandang Arianna
__ADS_1
"Apa kau lupa siapa yang sudah memberimu makan selama bertahun-tahun?! Apa kau lupa siapa yang membayar uang sekolahmu?! Tapi apa ini?! Kau benar-benar mengecewakan ibu! Dasar anak durhaka!!"