
"Camila, sudah waktunya" suara seorang pria terdengar agak teredam dari balik pintu, setelah beberapa ketukan tentunya.
"Chester akan datang?" Dia bertanya basa-basi sambil membuka pintu.
"Iya dan tidak, tapi aku sudah menghubungkan salah satu CCTV ruang pertemuan dengan ponselku" balas Aiden, membuat gestur agar sang adik memeluk lengannya.
Dia menurut dan menggandeng lengan kakaknya dengan cara yang sopan, gaun putih yang memiliki beberapa untaian perak di tubuhnya tampak bergoyang lembut seiring langkahnya
"Kenapa ponselmu?"
Aiden tampak mencoba menahan senyumnya saat menjawab ini "Chester ada di vila sebelah untuk menonton keributan secara live."
"Oh."
Ada banyak lukisan cat minyak di koridor yang memisahkan lantai kamar Camila dengan kamar Aiden yang berada di bagian sayap kanan mansion, keduanya berjalan bersisian hanya diikuti oleh gerakan kaku CCTV yang terpasang di setiap sudut, juga sistem rumah yang menunjukkan informasi detail mengenai suhu hingga kelembaban udara.
"Ngomong-ngomong kau tampak cantik malam ini" celetuknya tiba-tiba saat mereka menuruni tangga.
Camila menyisir rambutnya yang dijepit dengan teratai perak pemberian ibunya dan menyahut
"Malam ini?"
Aiden mendengus kecil, tersenyum saat menjawab dengan mata gelap yang menatap gaun sederhana adiknya
"Setiap hari. Hanya saja saat ini kau tampak lebih lembut dan jinak dibandingkan biasanya, warna putih?"
Mata ungu gelap Camila berkilat
"Untuk meningkatkan efek psikologis."
"Pintar."
Keduanya berhenti tepat di depan pintu, saat Camila tiba-tiba bertanya
"Fiona akan hadir juga?"
Mengingat perjanjian kerjasama yang tidak boleh dia lihat, Aiden menjawab dengan senyum yang bukan senyuman
"Tentu. Dia berperan sebagai penengah mengingat kedudukannya dalam keluarga, Tuan besar Harrison juga hadir mewakili Patriark Harrison."
"Kalau begitu apakah nenek juga hadir?" Dia bertanya lagi, saat sadar bahwa antingnya agak tersangkut.
Aiden membantunya tanpa diminta
"Tidak. Ayah mewakilinya."
"Oh."
Pria itu menyisir rambut sebahu adiknya sekaligus memberi pengingat
"Lakukan yang terbaik sebagai anak menyedihkan, lebih bersandarlah padaku."
"Mn."
"Sudah memakai produk yang dibawakan Chester?" Aiden menanyakan ini saat memaksa lengan kuris Camila agar lebih memeluk lengannya.
Meski kesal, dia tetap menjawab
"Sudah."
Dia tidak akan lupa memakai warna itu di wajahnya, untuk menambah kesan jinak.
Aiden mendengar bisikan pelayan dari balik pintu dan mengingatkan untuk terakhir kali
"Perhatikan postur dan ekspresimu, Camila. Frost juga ada disini, akan kubuka pintunya."
Lampu kristal dan meja yang penuh dengan set teh juga kue kecil, serta bunga mawar merah sebagai bentuk hormat menjadi hal yang paling mencolok mata mereka. Jangan lupakan juga beberapa senior dari generasi sebelumnya yang menduduki posisi penting untuk menandakan status mereka, empat orang dari Harrison dan dua orang dari Blazemoche.
Tuan dan Nyonya Harrison, juga Fiona dan Frost Harrison.
Serta Tuan dan Nyonya Blazemoche, ditambah Aiden dan Camila Blazemoche yang baru saja hadir.
"Selamat malam, Tuan dan Nona Harrison" Aiden membuka mulutnya dengan salam, membungkuk hormat bersama Camila yang melepaskan pelukannya dan agak limbung.
__ADS_1
Aiden menangkap tubuh kurus Camila tepat pada waktunya tanpa membuat banyak gerakan yang tidak penting. Wajahnya yang terpahat sempurna masih tampak dingin, hanya sorot mata saja yang memunculkan kekhawatiran.
Tuan Harrison menangkap ada yang tidak beres dengan menantunya dan segera menjawab salam
"Malam, Aiden. Jangan terlalu formal, bukankah kita semua keluarga? Jangan terus berdiri, duduklah."
Aiden menurut dan menarik lembut Camila agar duduk bersamanya, keduanya memilih posisi duduk yang paling nyaman tanpa mengurangi rasa elegan. Camila mengamati wajah-wajah yang tampak memiliki banyak pemikiran sendiri, dan hanya bisa menebak bahwa setiap orang memiliki kepentingan pribadi yang tidak menguntungkan satu sama lain.
Dia baru saja tiba, tapi sudah ada perang dingin.
Aiden memasang senyum tempelnya dan memulai sanjungan
"Bagaimana bisa saya menjadi lebih lancang dari ini? Anda semua masihlah generasi yang lebih senior dibandingkan saya dan adik saya, suatu kehormatan bagi Blazemoche untuk bisa bertemu dengan keluarga Harrison yang terhormat. Anda semua adalah dermawan kami."
Tuan Harrison mengangkat cangkir teh dan menatap pria itu dengan mata menyipit
"Pada akhirnya status hanyalah nama dan angka, Aiden. Kau masih muda, peluangmu jauh lebih besar dibandingkan aku yang sudah renta. Jangan terpaku pada gelar kosong dan perhatikan reputasimu. Andai saja kami memiliki seseorang yang secakap milik Blazemoche di Harrison. Tentu saja aku bisa jadi lebih tenang."
Fiona yang memakai jas dan selalu menjaga tampilan bisnisnya, lantas buka suara dengan nada menegur yang jenaka
"Ayah, bukankah Anda bilang bahwa kita semua adalah keluarga? Itu artinya pembicaraan semacam ini tidak diperlukan, anda hanya akan membuat generasi muda menjadi canggung."
Tuan Harrison mengeluarkan tawa kecil yang sangat palsu
"Aduh, aku dan otak tuaku. Kalian tidak keberatan bukan?"
Aiden menangkap penghinaan ini dan balas tersenyum, memainkan sapu tangan diatas meja
"Tentu saja tidak, bukankah jarak memang terkadang diperlukan? Dengan ini kita bisa menyadari betapa berharganya suatu hal dan tidak secara keliru membuangnya ke tempat sampah."
"Oh? Bukankah kalau hal tersebut memang berharga, maka seseorang tidak akan pernah keliru menganggapnya sebagai sampah?" Pancing beliau, senyum palsunya menjadi semakin lebar saat mengatakan ini.
Aiden membalas dengan tawa kecil
"Ahahaha ... Anda benar sekali, Tuan. Tapi kita pada dasarnya masih manusia, ada kalanya mata kita menjadi buta karena bias. Melihat sampah menjadi seperti harta karena hanya itu yang kita punya, dan memandang harta orang lain sebagai sampah karena itu bukan milik kita."
Dada Tuan Harrison bergemuruh atas penghinaan ini
"Hahaha ... Penenangan diri dan iri dengki memang bedanya tipis sekali."
"Benar, demikian pula memeluk sesuatu dengan dalih melindungi atau memeluknya untuk menghancurkannya sampai mati."
Dasar sinting.
Provokasi ini terlalu terang-terangan.
Pantas saja Aiden tidak akan bisa menduduki tahta Blazemoche, dia memiliki kepala yang panas.
Kilatan mata Tuan besar Harrison sangat tidak sedap dipandang, wajahnya masih tenang dan mempertahankan senyuman. Tapi dari matanya saja bisa terlihat bahwa dia ingin menguliti Aiden sampai mati karena sudah menghinanya.
Orang ini sangat membenci Aiden Blazemoche.
Seolah belum cukup, Aiden menggandeng lembut lengan tipis Camila dan setengah memeluk tubuhnya. Bicara dengan nada sembrono remaja pada umumnya "Maaf atas kelancangan saya, Tuan. Saya harap anda tidak tersinggung, bagaimanapun juga bukankah Anda mengatakan sebelumnya bahwa saya masih muda dan kita adalah keluarga?"
Tuan Blazemoche yang mengamati situasi, akhirnya tidak bisa tidak menghentikan aksi saling merobek wajah ini
"Aiden, tutup mulutmu."
Aiden mengangguk sopan dan langsung tutup mulut
"Baik, ayah."
Tuan Blazemoche memandang penuh rasa bersalah pada pihak lain
"Tuan Harrison, maaf atas kelancangan anak pertama saya. Dia masih terlalu muda dan kurang bijaksana dalam memilih kata-kata."
Namun kata-kata yang keluar dari mulutnya sebelas dua belas dengan anak pertamanya, mereka merendah agar bisa meroket di depan calon besan ini. Semua orang juga tau betapa sempurnanya anak-anak dari keluarga inti Blazemoche, sementara di Harrison sendiri mereka hanya memiliki Fiona dari keluarga utama dan Chester dari keluarga cabang.
Keluarga cabang jelas tidak bisa dihitung, karena status mereka hanyalah 'bawahan' keluarga utama meski memiliki marga sama.
Tuan Harrison mengeratkan genggaman pada cangkir teh
"Jika Aiden disebut kurang bijaksana, maka sama saja dengan mengatai keluarga kami sebagai kumpulan otak kosong."
__ADS_1
"Anda tau bahwa bukan itu yang kami maksud bukan?" Semua orang masih mempertahankan senyum mereka saat Tuan Blazemoche menanyakan ini.
Tuan Harrison menyipitkan mata dan meneguk teh di cangkirnya
"Tentu saja, bagaimanapun juga kita adalah keluarga. Tentu saja kita tidak harus merobek wajah satu sama lain, terutama pada saat yang begitu penting untuk para penerus keluarga."
"Camila, kemarilah dan duduk di sampingku, anakku" beliau melambaikan tangan agar Camila memindahkan posisi duduknya.
Meski terganggu dengan cara Tuan Harrison memanggilnya, Camila tetap menurut dan duduk di sebelahnya. Segera saja perhatian pria tua ini teralih padanya, yang merupakan tunangan anak lelaki kesayangannya.
"Camila, sudah berapa lama kau mengenal Frost?" Beliau bertanya sembari menggeser mangkuk kecil berisi buah kering ke hadapan menantunya.
Camila menerima buah dengan sopan dan menjawab lembut
"Sudah sepuluh tahun, ayah."
"Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar, bukan?" Fiona Harrison masih menjadi orang yang menebar ranjau dalam diskusi ini.
Camila tidak menyukai orang ini
"Benar."
Tuan Harrison melirik singkat Puteri tertuanya sebelum beralih fokus pada topik yang diangkat barusan
"Sepuluh tahun yang lalu, kalian berdua masih anak-anak yang naif dan bersih. Dan saat ini kalian sudah mulai memasuki masyakarat, terutama kau anakku. Kalian tidak lagi bersih dan polos karena terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan, benar?"
"Benar, ayah."
Pria paruh baya ini tampak sangat puas dengan menantunya
"Kalau begitu bukankah menurutmu, sepuluh tahun dari sekarang sudah cukup? Sama seperti sepuluh tahun lalu yang mengubah kalian menjadi ke titik sekarang. Akan kuberi waktu sepuluh tahun."
"...."
"Anakku, Camila ... Kau pasti tau apa maksudku bukan?" Cecarnya dengan cara halus.
Camila hanya bisa tersenyum dan menjawab
"Mengerti, ayah."
Itu artinya, pertunangan ini sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Setidaknya menurut para tetua Harrison.
Dan di mata mereka, Camila adalah pihak yang harus mengalah dan dengan lemah menerima semua sampah.
Karena Blazemoche lebih inferior dibandingkan Harrison, dan juga karena dia adalah seorang wanita.
Camila menatap Tuan Harrison dengan mata patuh, mata yang selalu dia tunjukkan setiap kali mereka bertemu.
Frost Harrison diam dan hanya melirik keluar ruangan, tampak muak melihat wajahnya dan tidak ingin menambah masalah.
Fiona Harrison dan Aiden sama-sama memasang senyum bisnis yang dangkal, dengan mata yang memancarkan kelicikan. Tampaknya mereka masih ingin terus menebar ranjau dan menambah bubuk mesiu dalam pertemuan keluarga ini.
Panatua Blazemoche tampak sangat enggan untuk diam, tapi tidak ingin menambah kekacauan setelah kelancangan putra pertama mereka barusan.
Semua orang tampak menunggu, dengan asumsi dan ide untuk memberikan penyelesaian masalah ini.
"Bolehkah saya dengan lancang menginterupsi pembicaraan ini? Dengan sudut pandang seorang ayah" Tuan Blazemoche menyela setelah mengetuk gelasnya satu kali.
Pihak yang sedari tadi hanya diam dan fokus menonton perdebatan, pada akhirnya menjawab dengan enggan
"Apa?"
Mengingat fakta bahwa istrinya dan Nyonya Harrison adalah kawan lama, Tuan Blazemoche memutuskan untuk bertanya serius
"Memang terdengar kurang pantas, tapi sudahkah Nyonya Harrison mendengar perlakuan Frost terhadap Camila?"
Nyonya Harrison melirik Camila yang juga sedang menatapnya dan tersenyum
"Ya, tentu."
Mendengar nada positif dalam suara pihak lain, Tuan Blazemoche menjadi sedikit lebih tenang
"Karena saya mengambil sudut pandang sebagai seorang ayah saat ini, maka saya juga ingin dengan lancang meminta anda mengambil sudut pandang seorang ibu."
__ADS_1
"Lalu izinkan saya bertanya secara spesifik ... Bagaimana jika itu adalah Puteri anda sendiri?" Tanyanya kemudian, yang berhasil membungkam mulut semua orang dalam pertemuan.