
Aiden menutup mata di samping sopir keluarga, lalu melihat tiga orang yang duduk di kursi belakang melalui kaca. Dia tidak mengira bahwa Gabriel yang dipikir akan pergi, justru mengikuti mereka ke kediaman Blazemoche.
Suasana di kursi belakang juga agak aneh. Arianna yang memiliki reaksi normal dan tampak gugup, adiknya yang tenang seperti biasa dan duduk di tengah, dan Gabriel yang melirik keduanya berkali-kali.
Dia tidak masalah dengan Arianna, bagaimanapun juga keduanya sama-sama perempuan. Aiden juga mengerti bahwa adiknya lurus dan bahkan sudah bertunangan, tapi Gabriel adalah masalah.
Apa urusan lelaki bau kencur yang bahkan bukan mitra bisnis keluarga mereka, untuk masuk ke kediaman Blazemoche? Untuk adiknya, atau teman adiknya?
Aiden melirik jam tangannya dan menatap adiknya, bertanya
"Makan diluar?"
Camila menggeleng, Aiden mengangguk saja dan kembali diam. Tidak ada seorangpun yang berani buka suara lagi setelahnya, bahkan saat mereka sudah memasuki gerbang kediaman Blazemoche.
Arianna dan Camila adalah yang pertama kali turun, keduanya masih bergandengan tangan seperti sesama gadis pada umumnya, jadi Aiden tidak keberatan. Tapi Gabriel yang terus terlihat seolah sedang duduk diatas paku benar-benar mengganggu pemandangan, jadi begitu Gabriel turun, Aiden juga ikut turun dan langsung memegang pundaknya.
Laki-laki berambut perak itu tersentak dan mendapati wajah serius Aiden
"Ada apa, kak?"
"Kau tampak aneh sejak tadi, ikut menginap juga?"
Gabriel terpaku di tempat, menatap tangan Aiden yang menempel di pundaknya dengan ketakutan seolah dia akan diapa-apakan. Lalu mencicit
"... Kak, jangan."
Sudut mulut Aiden berkedut kesal, ada apa sih dengan anak ini? Apa yang ada didalam kepalanya sejak tadi?
"Hah?" Meski kesal, Aiden tetap menahan diri dan hanya memelototi Gabriel sambil mencengkeram bahunya.
Tapi Gabriel justru bereaksi lebih hebat dan mulai meronta agar dilepaskan
"Jangan, kak. Aku laki-laki! Aku juga masih dibawah umur!"
Aiden benar-benar kesal sekarang dan berbisik penuh ancaman
"Ikut aku."
Camila menoleh karena tidak mendengar langkah kaki yang menyusul mereka, hanya untuk disuguhi pemandangan Aiden yang menggeret Gabriel ke taman samping untuk berbicara empat mata. Gabriel menatap ke arahnya dengan panik, tapi karena tubuhnya digeret maka dia tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Arianna melihat ini dan mengerutkan keningnya
"Ada apa dengan Gabriel? Kenapa kakakmu menariknya?"
"Temanmu itu pikirannya terlalu berwarna, Arianna. Jadi kakak mungkin ingin menyiramnya dengan air untuk melunturkan warnanya" jawab Camila.
Arianna masih tampak khawatir Gabriel akan diapa-apakan.
Camila menarik tangannya dan masuk ke dalam mansion keluarganya
"Tidak apa-apa, kakakku lurus."
Arianna kebingungan dan atensinya kembali pada Camila
"Lurus? Lurus apa?"
"Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, mau mandi bersama?" Tawar Camila.
Arianna tersentak dan wajahnya merona
"Eh?! Tidak perlu! Aku bisa mandi sendiri!"
"Camila, sungguh tidak perlu."
"Kalau begitu ya sudah, tapi biarkan aku membantumu merawat lukanya. Jangan menolak, aku hanya ingin."
Arianna mengangguk setuju, selama Camila tidak memintanya untuk mandi bersama. Lagipula dia belum siap mengekspos seluruh tubuhnya yang penuh luka pada orang lain.
Gabriel masuk kedalam kediaman Blazemoche dengan wajah pucat, Aiden menyusul di belakangnya. Camila sudah duduk didepan meja makan bersama Arianna, keduanya memakai gaun tidur besar yang sederhana. Mereka agak heran kenapa butuh waktu yang lama sekali bagi dua orang laki-laki untuk berbicara, bahkan tak ada satupun dari mereka yang berganti pakaian.
Pria perak itu berhenti sejenak dan menatap keduanya, lalu duduk dengan sedih di sebelah Camila. Camila memberi kakaknya pandangan bertanya, Aiden hanya menjawab dengan wajah datar. Tapi pundak lelaki itu bergetar seolah sedang menahan tawa, melihat ini Camila langsung tau apa yang terjadi.
Kakaknya ini benar-benar punya hobi aneh yang sangat tidak lazim.
Camila merasa kasihan pada Gabriel yang menyusut dan tidak tahan lagi, bagaimanapun juga second lead adalah tokoh yang paling disukai pembaca. Jadi dia merasa perlu untuk memberitahunya
"Gabriel, jangan diambil hati."
Pihak lain tersentak dan menatapnya.
__ADS_1
Camila sekali lagi berkata
"Kakakku sangat lurus, tapi dia memang suka berpura-pura menjadi gay. Aku sendiri tidak tau alasannya."
Aiden menutup wajahnya dan menundukkan kepala, seluruh tubuhnya bergetar akibat tertawa tanpa suara. Gabriel melihat semua ini dan cengo seketika, Arianna hanya berkedip bingung di samping karena tidak mengerti sedikitpun akan apa yang dibicarakan.
Camila menatap malas Aiden
"Kakak, kali ini apa yang kau lakukan?"
".... Tidak banyak" jawab Aiden setelah beberapa lama.
"Seberapa banyak?" Desak Camila.
"Sungguh tidak banyak."
"Seberapa banyak?" Camila terus mendesaknya, kali ini sambil memberikan tatapan ketus.
Aiden mengulum senyumnya dan menjawab dengan suara yang agak gemetar akibat menahan tawa
"Hanya memojokkannya, mencubit dagu dan mendekatkan bibirku dengan lehernya."
Arianna yang polos (ㆁωㆁ)
Camila (●__●)
Gabriel yang trauma ಥ_ಥ
Aiden (◡ ω ◡)
"Kak, jangan jadi binatang yang menyentuh anak dibawah umur" Camila lelah akan kelakuan pihak lain.
"Yah ..." Aiden menyeret kata-katanya, lalu melirik Gabriel lagi.
Yang dilirik sontak kembali gemetar seperti burung puyuh.
"Kakak ..." Camila memperingatkannya.
"Baiklah, tidak akan. Tidak dengan Gabriel" balas Aiden.
__ADS_1
Jadi maksudmu kau akan terus melakukannya?