Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Kekerasan dalam rumah tangga


__ADS_3

"Kau membuang-buang uang! Apa gunanya memiliki anak perempuan sepertimu?!"


"Aku mendapat serangan jantung setiap kali aku melihatmu! Kenapa kau bukan laki-laki?! Lihat anak perempuan keluarga lain! Mereka sudah tau bagaimana cara bekerja dan memakmurkan keluarga di usiamu! Tidak sepertimu yang durhaka!!"


"Kau anak perempuan satu-satunya! Kenapa susah-susah belajar?! Terus kenapa kalau kau pintar?! Bukankah pada akhirnya kau hanya akan menikah saat dewasa?!"


"Kau sebagai perempuan hanya akan menikah, melahirkan anak-anak, merawat mereka dan mengurus rumah! Sampah tak berguna! Sama seperti ibumu!!"


"Sejak kau lahir, uangku selalu saja berkurang dan habis! Setiap hari aku bekerja keras, tapi selalu kau yang mengambil uangku! Pelac*r tak berguna! Benar-benar durhaka!!"


Pria itu terus berteriak seperti orang gila, bahkan sesekali terdengar suara berdebum dan barang-barang yang berjatuhan.


Camila menarik tangan yang barusan dia gunakan untuk mengetuk pintu, keningnya berkerut.


Seingatnya plot ini terjadi saat Arianna baru lulus SMP, tapi sekarang protagonis baru memasuki SMA. Apakah plot melambat tanpa disadari?


Camila tersentak begitu mendengar suara botol yang pecah, disusul dengan suara mendesis pelan yang sangat familiar. Harga dirinya seolah diinjak-injak, dia marah.


Tanpa pikir panjang, Camila menendang pintu kayu di depannya hingga terbuka.


Orner Mackenzie masih akan melayangkan sabuknya pada Arianna, tapi gerakannya langsung terhenti begitu mendengar suara keras dari pintu. Dia masih belum sempat mencerna perubahan situasi saat sabuk kulit yang dipegangnya menghilang, disusul dengan rasa sakit luar biasa di pipi kanannya.


Arianna yang telungkup di lantai juga mendongak dan bertemu dengan figur perempuan yang paling dia kenal, Camila Blazemoche. Rambut cokelat muda sebahu miliknya selalu terurai dan berkibar lembut, punggungnya yang lurus selalu tampak teguh dan tegap. Rok putih selutut seragam musim panas mereka, juga masih tampak rapi tanpa sedikitpun kerutan.


Serta sepasang mata ungu gelap miliknya, menatap tajam pria yang selama 15 tahun ia sebut ayah seolah sedang melihat kotoran.

__ADS_1


Mata Arianna seketika basah oleh air mata, ini adalah pertama kalinya seseorang berani berhadapan dengan sang ayah untuk membelanya.


Pria itu mengusap wajahnya yang terluka dan bertemu pandang dengan mata dingin Camila, dia menunjuk wajah pihak lain


"Siapa kau?! Apa yang kau lakukan di rumahku?!"


Namun begitu sadar bahwa seragam yang dipakai Camila sama dengan milik anaknya, dia menampilkan sorot wajah penuh penghinaan


"Teman sekolah Arianna, pantas saja sama-sama j*l*ngnya! Ada apa denganmu yang tiba-tiba menjadi gila dan memukul orang tua?! Tidak tahan melihat?! Ingin memberi paman ini pelajaran?!"


Dia meludah ke lantai dan menghina


"Jangan ikut campur dalam urusan keluarga orang lain! Dasar pel*c*r! Tidakkah kalian orang kaya selalu menjunjung tinggi nilai moral dan pendidikan?! Cepat keluar dari rumahku, atau kubuat kau berlutut di pinggir jalan!!"


Mata Camila berkilat dingin.


"Kau ... Kau berani memukulku?! Dasar tak punya sopan santun! Apa orangtuamu sudah mati?! Apa tidak ada yang mengajarimu bahwa kau harus menghormati orangtua?! J*l*ng!! Kembalikan sabukku!! Kau pasti produk haram yang dibuang ke panti asuhan!!"


"Kalau aku punya anak perempuan sepertimu, aku pasti sudah membuangmu ke pinggir jalan agar tidak menjadi sampah pemboros makanan di rumah!!"


Camila menarik tubuh Arianna dan menghindari serangan membabi buta pria di hadapan mereka, mata Arianna tampak merah karena amarah dan dia berteriak pada ayahnya untuk pertama kali


"Cukup!!"


Tidak masalah jika dia yang dihina, tapi beraninya orang ini menghina temannya?!

__ADS_1


Camila adalah perempuan baik-baik yang pantas dihormati! Dia sama sekali tidak pantas mendengarkan kata-kata sekotor ini dari mulut manusia rendahan!!


Mendengar teriakan Arianna dan bukannya suara tangis, Orner tertegun dan menjadi lebih marah


"Kau berani berteriak di depanku?! J*l*ng! Dasar durhaka! Tidak punya sopan santun pada orangtua!!"


Begitu Orner menyelesaikan kata-katanya, Camila sudah melilitkan sabuk ke leher pria itu dan mengencangkannya. Membuat pihak lain jatuh berlutut sambil memegangi lehernya yang dicekik, kesulitan bernafas.


Arianna segera menarik lengan gadis itu


"Camila, jangan! Hentikan!"


Dia tau betapa opini publik akan terus menganggap orang kaya sebagai penjahatnya, dan dia tidak mau keluarga Blazemoche mengotori reputasi mereka karena sudah membantu gadis miskin sepertinya.


Camila melepaskan cekikan pada leher pihak lain, Orner seketika tersungkur ke lantai sambil menarik nafas sebanyak-banyaknya seperti ikan yang menggelepar di darat.


Arianna menggenggam pergelangan tangan Camila yang masih memegang sabuk dan bertanya lirih


"Camila, kenapa kau disini?"


Dia melirik barang-barang yang berserak di lantai dan penampilannya yang penuh lebam, sudut bibirnya yang berdarah mengulas senyum bersalah


"Maaf, rumah ini kotor. Kenapa kita tidak bicara di lu-"


Belum sempat Arianna menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara seorang wanita dari arah pintu yang sudah didobrak Camila sebelumnya. Wanita itu bertanya heran

__ADS_1


"Anna, siapa ini? Temanmu?"


__ADS_2