
"Kau tidak berubah sama sekali, masih munafik" Frost mengatakan ini sambil menendang salah satu bunga yang gugur di samping kolam.
Camila sendiri juga menendang bunga tersebut kembali ke posisi semula, menyelipkan rambutnya di balik telinga dan balas mengatakan "Kudengar kau berubah dan dekat dengan seseorang saat ini ... Siapa namanya? Rushia Harrison?"
Pria berambut gelap itu berdehem singkat saat otaknya memproyeksikan rambut platinum gadis yang namanya disebutkan barusan "Anak itu menarik."
"Kau sadar bahwa ini termasuk inc*st 'kan?" Camila menanyakan ini seolah belum cukup menyodok titik sakit tunangannya.
Senyum manis di wajah Frost langsung pecah, dia lupa bahwa tunangannya ini suka merusak suasana hatinya "Aku sudah menyelidikinya, dia sama dengan Lula Asherah. Jadi ini bukan inc*st."
"Aku terkejut kau bisa menyebutkan namanya tanpa diiringi makian kali ini, sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah?" Camila masih memiliki hobi jelek, bahkan hobinya menebar sarkasme ini menjadi lebih buruk sejak masuk militer.
Frost benar-benar menahan dirinya kali ini karena banyak pengawas dari keluarga mereka "Semua orang akan tumbuh dewasa, sialan. Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?"
"Ada ide untuk memutuskan pertunangan?" Dia menanyakan ini dengan santai.
Frost sendiri jelas terbiasa akan topik ini dan ikut bertanya santai "Kau ingin membawa selingkuhanmu kedalam ikatan resmi?"
"Tentu saja. Bukankah kau juga sama?" Camila menatap salah seorang pria yang tampak berjalan kemari dari kejauhan.
Frost mengikuti garis pandang lihak lain dan mendalati rambut perak seseorang yang terus bergoyang-goyang setiap kali dia bergerak "Kau suka Gabriel? Aku tidak tau kalau tipemu adalah pria seperti itu."
Camila mencubit pinggangnya tanpa ragu "Dia manis, dan dia tidak sejelek dirimu. Jadi aku berencana menerimanya."
Pria itu terlonjak kaget akibat cubitan ini dan memelototinya "Camila, aku tidak memukul wanita. Tapi bukan berarti aku tidak bisa menjambakmu."
"Kalau kita berpisah, kau bisa bersama Rushia dengan tenang" gadis itu sekali lagi mengubah topik.
Frost mengamati tatapan Gabriel yang ditujukan pada camila, diam-diam merasa iri "Tidak semudah itu, dia masih menyandang status sebagai anggota keluarga Harrison. Cabang pertama pula. Kalau aku ingin memilikinya, otomatis aku harus membongkar rahasia gelap keluarga cabang pertama dan memicu perpecahan keluarga. Ini akan membuat murka patriark."
Camila langsung teringat pokok permasalahan tunangannya ini "Benar. Yang diketahui dunia adalah kalian memiliki hubungan sepupu. Kau tidak boleh egois."
Frost mengangguk "Itulah yang kupikirkan."
__ADS_1
"Kalau aku membuat jalan keluar untuk kalian, apakah kau bersumpah akan menjauhi Arianna?" Tanyanya.
"Kau juga selingkuh dengan Anna?" Frost menatapnya dengan sinis, tapi di tatapan ini jelas bahwa dia sepertinya sudah sedikit terlepas dari halo protagonis Arianna.
Camila tersenyum meremehkan "Ngaca. Kau yang duluan berselingkuh dengannya, kau bahkan berkelahi denganku hingga dikeluarkan dari akademi karena itu."
".... Aku masih dendam padamu soal itu."
"Frost, aku mendukung Fiona sebagai pewaris Harrison" celetuknya.
Tapi Frost tampak tidak terpengaruh sama sekali "Heh ... Aku tetap akan menjadi pewaris Harrison."
"Kau 'kan sampah, bakatmu sama sekali bukan bisnis. Meskipun kau menjadi pewaris, kau hanya akan dikendalikan seperti boneka oleh para petinggi. Kau mau selamanya hidup seperti itu?" Camila mulai menghasut Frost untuk menyerah.
Frost jelas tau bahwa orang ini mencoba untuk menghasutnya, tapi apa yang dia katakan cukup masuk akal "..... Setidaknya aku bisa bersantai dan hanya perlu menandatangani berkas, juga sesekali menunjukkan wajahku saat rapat. Tidak perlu susah payah memutar otak."
"Menjadi boneka itu berarti kau tidak memiliki hak apapun dalam membuat keputusan, Frost. Mulai dari pernikahan, gaya busana, jumlah anak, bahkan caramu bicara saja akan diatur oleh mereka" kalimat ini langsung membungkam Frost.
Camila sekali lagi buka suara "Bagaimana dengan ini ... Biarkan Fiona menang, perbaiki hubungan kalian dan buat perusahaan sendiri."
"Biarkan saja dia jadi pewaris, Camila. Saat itu terjadi akan kuinjak dia sampai mati" potong Gabriel dengan wajah yang merah karena berlarian, tapi hidung sensitif satu-satunya gadis disana bisa mencium aroma anggur yang samar dari tubuhnya.
Second lead sepertinya sedang mabuk.
"Bajingan, Gabriel. Sebenarnya kau punya dendam apa padaku?" Frost tidak menyadari anomali ini dan langsung tersulut emosi.
Pria perak itu tersenyum sangat manis dengan matanya yang berair dan melengkung seperti bulan sabit, tapi kalimat yang dia ucapkan adalah "Tidak ada, aku hanya tidak suka melihatmu."
Camila mulai lelah menghadapi orang-orang ini. Dia menahan lengan Gabriel yang sudah mulai terhuyung-huyung "Gabriel, jangan lakukan apapun. Aku masih bernegosiasi dengannya."
Gabriel yang merasakan tangan Camila di lengannya justru tersenyum lebih manis, tapi kata-katanya juga menjadi lebih kejam "Dia tidak akan memahami satupun perkataanmu, Camila. Dia itu bodoh dan pemalas, lambat laun dia juga akan mati dalam pelukan wanita."
"Brengsek, kau bilang apa barusan?!" Frost sudah menarik paksa kerah Gabriel dan memisahkannya dengan Camila.
__ADS_1
Tapi Gabriel malah tertawa riang "Maksudku adalah ... Kenapa kau masih terus hidup saat kau begitu tak berguna seperti ini, Frost? Sungguh buang-buang oksigen."
Perkataan ini sontak membuat Frost langsung mencekiknya "Gabriel!!"
"Hentikan, kalian! Jangan lakukan apapun!!" Camila secara paksa memisahkan keduanya.
"Camila, kau masih membelanya?! Buka matamu dan lihat baik-baik pria macam apa yang menjadi selirmu!" Frost jelas tidak terima akan penghinaan ini.
"Aku tidak membelanya! Tapi jangan mengacau di perjamuanku! Bertarunglah di tempat lain!" Balas Camila.
Frost hanya bisa mengumpat begitu ingat mereka semua sedang diawasi "... Aku benci kalian, bangs*t semua."
Tapi Gabriel malah menggenggam tangan Frost sambil tersenyum sangat manis "Aku ingin membunuh Frost."
"Kau apa?!" Jerit Frost.
Kepalanya seketika pening dan dia mulai mendorong pergi satu orang "Untuk saat ini, Gabriel ... Masuklah kedalam."
Gabriel memeluknya erat-erat dan merajuk "Tidak mau."
Camila langsung menggunakan kartu trufnya karena tidak mau memperpanjang masalah "... Ada hadiah untukmu, tunggu aku di dalam."
"Sungguh? Kau tidak berbohong padaku 'kan?" Gabriel melepaskan pelukan mereka saat menanyakan ini.
"Mn."
Begitu mendengar konfirmasi dari mulut Camila sendiri, Gabriel segera melangkah pergi. Pikirannya tampak menjadi lebih sederhana dan jujur saat mabuk, benar-benar klasik.
"Hadiah huh? Kau benar-benar tau cara membujuk pria, Camila. Kenapa dulu kau tidak seperti ini padaku?" Sindir Frost sambil merangkul bahu Camila.
Camila dengan alami balas merangkul pinggangnya "Jangan jadi binatang, dulu kita masih dibawah umur. Kalau saja kau mau bersabar seperti Gabriel, aku tidak keberatan menciummu satu kali. Untung saja kau itu seorang bajingan, karena aku tidak mau mencium bibir yang sudah menjadi bekas banyak orang."
Raut wajah Frost langsung berubah dan dia mengumpat lirih"F*ck you, Camila."
__ADS_1
"Kapan?" Tantang Camila.
Frost langsung tidak bisa berkata-kata.