
"Saya tidak tau apakah saya memiliki suara untuk mengungkapkan pemikiran pribadi saya. Benar 'kan Tuan?" Nyonya Harrison, Ezili Harrison buka suara.
Dia memanggil suaminya sendiri dengan sebutan tuan, bisa dibayangkan sedangkal apa hubungan mereka mengingat kelakuan Tuan besar Harrison yang seperti kuda liar dan memiliki banyak simpanan.
Tuan besar Harrison, Beau Harrison membalas dengan senyum dangkal
"Katakan saja selama itu tidak kelewat batas, silahkan."
Nyonya Ezili segera meletakkan cangkir teh dan mulai mengutarakan isi hatinya
"Terimakasih. Jujur saja, mengingat hubungan baik saya dan Nyonya Blazemoche selama bertahun-tahun ... Saya mengenal Camila secara pribadi dan semakin mencintainya setiap tahun, menganggapnya sebagai Puteri saya sendiri."
"Dibandingkan dengan anak laki-laki yang sulit diatur, tentu saya lebih menyukai anak perempuan yang jauh lebih penurut dan lembut sepertinya" melirik Frost dari sudut mata, dia berkomentar.
Frost mengernyit tidak senang karena tiba-tiba diseret dalam pembicaraan dengan konotasi negatif
"Ibu, anda tidak boleh membuat komentar sexist semacam itu. Tidak sopan."
Nyonya Ezili melemparkan senyum lembut penuh rasa sayang
"Maafkan ibu, sayang. Tapi ini bukan berarti ibu tidak mencintaimu, Frost."
"Sudah menjadi rahasia umum bahwa kedua anak ini tidak saling menyukai, apalagi Frost sudah terbiasa dimanja dan tumbuh menjadi setan kecil yang hanya bisa membuat kekacauan" lanjutnya.
"Ibu!" Pekik Frost, yang membuat ruang tamu Blazemoche seketika jatuh pada titik beku.
Semua mata yang ada disana, termasuk para pelayan tampak jatuh pada tubuh Frost seolah sedang melihat tikus. Penuh penghinaan atas kelancangannya.
"Frost, dimana sopan santunmu saat panatua sedang buka suara?" Tegas nyonya Ezili, merasa bahwa harga dirinya sudah diinjak akibat putera kesayangannya.
Pihak yang barusan memekik langsung menyadari hal ini dan menciut di tempat
"Maafkan saya ..."
"Hm?" Kali ini Tuan Beau yang menatapnya dengan tajam.
Punggung Frost mendadak menjadi ngilu kembali dan dia cepat-cepat mengoreksi. Lelaki muda ini berdiri dengan tegak lalu membungkuk lambat ke arah panatua
"Maaf atas ketidaksopanan saya, mohon anda semua tidak keberatan ... Silahkan lanjutkan pembicaraan anda sekalian."
"Duduklah. Belajar tata krama dalam masa isolasi selama sebulan, tampaknya cukup membuahkan perbedaan signifikan. Bisa saya lanjutkan?" Tegas nyonya Ezili, menatap mata setiap orang yang ada di sini.
Tentu saja semua orang sepakat mengangguk dan berpura-pura bahwa kejadian barusan tidak pernah ada.
"Seperti yang Anda tau, cinta adalah hal paling konyol dan vulgar selain uang. Tapi sebagai pebisnis, kita membutuhkan sesuatu yang lebih pasti dan bukan emosional. Benar 'kan Camila?" Tanyanya.
Camila menatap Frost yang duduk dengan punggung kaku, agaknya bisa menebak sesuatu sebelum menjawab
"Benar, ibu."
"Anakku, kau punya pendapat?" Tuan Blazemoche bertanya dengan cemas, takut bahwa anaknya akan mengatakan hal-hal memalukan seperti Frost barusan.
Camila menatap wajah lelah ayahnya yang baru pulang dari perjalanan bisnis
"Pacaran bisa putus, tunangan bisa dibatalkan, menikah bisa bercerai dan kepercayaan bisa berubah menjadi pengkhianatan. Hal-hal berbau emosional pada dasarnya tidak akan bertahan lama semanis apapun masa lalu kita. Kita membutuhkan sesuatu yang serupa, tapi tidak sebodoh cinta."
"Dan menurutmu apa itu?" Sambung Tuan Beau sambil menusuk stroberi hingga tenggelam jauh kedalam kue di piringnya.
Camila memahami implikasi dari tindakan beliau dan menjawab
__ADS_1
"Sebuah komitmen, ayah. Saya tidak butuh cinta atau kesetiaan, melainkan komitmen dan kesetaraan. Tidak masalah jika calon saya tidak mencintai saya. Selama dia tidak menyakiti, menipu, dan menghargai saya. Maka saya lebih dari bersedia."
"Menurutmu apa bedanya itu dengan cinta, anakku?" Tuan Beau kembali mendesaknya.
"Berbeda, ayah. Cinta bisa memudar, tapi saat seseorang sudah berkomitmen ... Tak peduli sekalipun ada orang lain di hatinya yang balas mencintainya, dia tidak akan berpaling dan tetap berada di sisi saya" jawab Camila.
Mendengar ini, Fiona menutupi mulutnya menggunakan sapu tangan dan tertawa kecil dengan mata menyipit licik
"Itu memang sesuatu yang mirip cinta. Tapi jauh lebih sulit daripada cinta, kau benar-benar serakah, Camila. Itulah yang membuatmu menjadi jenius."
Beradu pandang dengan Fiona yang menatapnya seperti seporsi makanan, Camila tentu saja merasa tidak nyaman
"Terimakasih atas pujiannya, jadi apakah saya diizinkan untuk mengutarakan kesimpulan saya?"
Fiona melipat sapu tangannya kembali dan mengubah tampilan wajahnya dengan senyum kecil
"Silahkan, sayangku."
"Memang benar bahwa Frost dan saya tidak memiliki perasaan romantis, tapi yang membuat saya ingin memutuskan ikatan bukanlah alasan kekanakan semacam itu. Melainkan karena Frost tidak bisa memberikan tiga hal yang saya sebutkan barusan. Sederhana, tapi tidak kekanakan bukan?" Tanyanya pada para panatua yang menatapnya dengan penuh penilaian.
Tuan Beau menaikkan sebelah alisnya, tersenyum dengan cara meremehkan
"Anakku, apakah kau paham konsekuensi dari pemutusan ini? Sebagai seorang remaja, kau tidak akan bisa menanggungnya sekuat apapun dirimu."
Camila menangkap penghinaan terselubung ini dan membalas dengan senyumnya
"Saya tau, ayah. Itulah alasan Anda semua berada di kediaman Blazemoche bukan?"
Tuan Beau meletakkan garpunya ke piring dengan setengah membanting, menatap Camila seolah dia adalah anjing peliharaan
"Benar, untuk berdiskusi. Dan sebagai seorang panatua, satu-satunya hal yang bisa kukatakan sebagai jawaban adalah tidak."
"Anakku, baik kau dan Frost masih sangat belia. Terlalu tak bertanggung jawab memutus rantai kerjasama dua keluarga dengan alasan egois seperti itu, ingatlah bahwa ini bukan hanya persoalan antara dua keluarga, melainkan juga ratusan ribu karyawan perusahaan kita" lanjutnya.
Aku tau.
"Tuan Harrison, maaf menyela. Saya hanya berpikir bahwa tidakkah Camila, seperti yang anda katakan barusan ... Terlalu muda untuk dibebankan oleh hal-hal tersebut?" Tuan Blazemoche yang mendapati bahwa anaknya sedang digertak, menyela tanpa ragu.
Melihat kilatan tajam di mata pihak Blazemoche, Tuan Beau tersenyum simpul dengan cara yang tak berbahaya, sebelum melirik sepasang muda-mudi yang jadi fokus utama malam ini
"Benar. Maaf atas kecerobohan saya, Tuan Blazemoche. Anakku, Camila dan Frost ... Bagaimana kalau kalian berdua mencari udara segar saat kami, para panatua membicarakan persoalan ini?"
Frost diam, tampaknya masih malu akan teguran yang didapatnya barusan.
"Baik, ayah" Camila menyisir rambutnya, bangkit dari kursi dan membungkuk sopan.
Gadis itu berjalan memutari meja untuk mengetuk bahu tunangannya, berbisik "Mari bicara."
Frost tampaknya juga lebih sensitif berkat atmosfer yang semakin berat oleh para panatua ini, tanpa banyak bicara juga ikut bangkit dan membungkuk satu kali. Lalu berjalan pergi bersisian bersama Camila dengan tenang, untuk pertama kalinya tanpa keributan.
"Tidakkah mereka cocok secara visual? Sayang sekali ..." Fiona berkomentar sambil melayangkan tatapan provokatif pada Aiden.
Aiden sedikit mengangkat dagunya saat menyesap teh, menatap Fiona dengan merendahkan sebelum buka suara dengan nada jinak pada para panatua
"Baiklah. Lupakan soal mereka sejenak, bagaimana sebaiknya kita mencari jalan keluar untuk masalah ini?"
Frost mengikuti Camila tanpa mengucapkan apa-apa, bahkan sampai mereka sampai di kebun bunga pribadi Nyonya Blazemoche. Angin malam mendesir dan membuat gaun putih berlapis Camila bergoyang seperti ombak laut di tengah malam, dia duduk di salah satu kursi dan menatap Frost yang juga duduk di sebelahnya tanpa bicara.
"Kau masih membenciku?" Tanya Camila.
__ADS_1
Seolah tersadar, Frost mendengus
"Sangat. Kenapa bertanya?"
Camila menatapnya dengan ekspresi default tanpa senyum, tenang
"Karena kau tidak berteriak-teriak dan memakiku seperti biasa, itu agak aneh."
Melihat wajah cantik Camila yang tidak bisa menggerakkan hatinya sedikitpun, Frost hanya mendengus
"Aku sudah banyak diceramahi soal itu, jadi kurasa memang masalahnya terletak padaku. Kalau tidak, yang dikirim keluar negeri tentu saja bukan aku."
"Heh."
Mendengar respon setengah hati itu, Frost mulai ngegas
"Kau masih menjijikkan di mataku."
"Yah ... Aku juga jijik padamu" balas Camila.
Namun anehnya, Frost tidak membalas provokasi ini.
Lelaki itu malah bertanya
"Setelah kita putus, apa kau akan bersama Gabriel? Atau Lance?"
"Kau sendiri?" Tantangnya.
Lelaki itu menjawab lempeng
"Aku masih suka Anna."
Mendengar respon tanpa perasaan ini, Camila lantas penasaran
"Kau yakin benar-benar menyukainya?"
Ini adalah pertanyaan yang cukup tiba-tiba dan membingungkan
"Kalau tidak?"
Melihat wajah bingung Frost, Camila lantas bisa menebak satu dua hal
"Keputusan mengirimmu keluar negeri mungkin bisa memberimu jawaban, Frost. Jadi berhentilah bertanya padaku seperti orang tolol."
Frost tidak percaya Camila bisa menghinanya dengan wajah lurus, protes
"Hah! Bagaimana bisa kau langsung merobek wajahmu di depanku? Apa yang terjadi pada menantu idaman barusan?"
"Untuk apa juga aku berpura-pura di depanmu? Kau pada akhirnya juga akan tetap berasumsi yang terburuk tentangku. Bagaimanapun juga, kau membenciku" balas Camila.
"Sakit hati?" Godanya.
Camila melempar sehelai daun ke wajah menyebalkan pihak lain
"Kau menginjak harga diriku, Frost."
Menerima ini, Frost balas melemparkan beberapa rumput ke wajah Camila
"Kau juga menginjak harga diriku, tepat di depan Anna."
__ADS_1
"Kau yang duluan mencoreng reputasiku dengan berselingkuh disana-sini. Bodoh. Sebenarnya apa masalahmu? Butuh perhatian?" Tantang si gadis.