Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Dua gadis


__ADS_3

Camila menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan diri dari amarah, lalu meremas lembut tangan Arianna yang sedang digenggamnya. Dia tidak ingin protagonis mengalami krisis lebih dari ini dan mengisyaratkan bahwa mereka masih bersama, jadi gadis ini tidak perlu takut apalagi malu.


Bukan salahnya menjadi korban kekerasan.


Dia bicara setenang mungkin di hadapan Evi


"Meskipun kau sudah menjadi seorang ibu, kau masih rela menjadi kaki tangan pria dalam melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Apa kau tidak malu mengatakan hal-hal seperti kebaktian pada putrimu yang babak belur dan meminta bantuan?"


Evi balas berteriak


"Sudah kubilang bahwa ini adalah urusan keluarga kami dan kau tak berhak ikut campur! Anna, kenapa kau membawa gadis seperti ini ke rumah? Kau benar-benar menjadi semakin durhaka seiring berjalannya waktu! Kenapa kau suka sekali membuat ayahmu marah?!"


"Taukah kau bahwa kami, aku dan kakak lelakimu harus bergantung pada ayahmu di masa depan?! Kenapa kau selalu nakal dan membuat masalah?! Apakah kau tidak ingin kami hidup tenang?!"


Arianna membuka mulutnya.


Dia ingin mengucapkan kalimat 'aku bisa menghidupi ibu' yang selalu dia katakan berkali-kali, tapi urung. Evi tidak akan pernah mau mendengarkannya. Ibunya selalu memiliki gagasan bahwa perempuan itu lemah dan lelaki itu kuat, bahwa perempuan harus bergantung sepenuhnya pada lelaki. Ibunya bahkan tidak percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan apapun, karena dia adalah seorang perempuan.


Melihat Camila yang terlalu muak untuk bicara dan Arianna yang diam karena konflik internal, Orner berteriak pada mereka


"Kau memukuliku dan sok mengguruiku, jangan harap kau bisa lari! Akan kulaporkan bahwa kau masuk ke dalam rumahku tanpa izin dan melakukan kekerasan padaku! Sayang, awasi dia! Akan kupanggil polisi kemari! Biar mereka memenjarakan p*l*c*r ini!"


Arianna tersadar dari lamunan dan mendorong panik temannya


"Camila, cepat lari!"


Evi membuka lengannya dan menghalangi pintu


"Anna, temanmu sudah memukul dan menghina ayahmu! Jangan harap dia bisa berbuat seenaknya lagi disini! Biar dia diadili oleh hukum!"

__ADS_1


Camila menatap malas orang-orang ini dan menarik lembut Arianna agar duduk di sofa, membiarkan Orner melakukan panggilan telepon dengan polisi daerah. Dia menggaruk ringan jari Arianna yang tampak murung, menuai atensinya.


Camila meraih sesuatu dari kantung tas sekolahnya dan menawarkannya pada pihak lain


"Mau permen? Aku punya banyak dan rasanya enak, Lance memberikannya."


Arianna tidak merespon, matanya basah dan bibirnya bergetar.


Camila membuka bungkus permen secara acak dan menyuapi Arianna, tersenyum lembut saat bertanya


"Enak?"


Rasa dingin merambati rongga mulutnya, disusul sedikit rasa manis yang memiliki sedikit kebekuan. Permen ini bukan permen terenak yang pernah dia makan, tapi dalam situasi dimana seluruh tubuhnya terasa panas akibat dipukuli, ini adalah permen terbaik yang pernah dia rasakan.


Dingin, tidak manis, tapi membawa rasa penyembuhan.


Seperti sosok Camila Blazemoche.


"Camila, aku ..."


Tanpa bicara, Camila memeluk lembut tubuh pihak lain dan mengusap pelan kepalanya beberapa kali. Membiarkan gadis ini menggunakan pundaknya untuk menangis.


Begitu Orner menyelesaikan panggilan telepon, dia penasaran kenapa Camila tidak terlihat takut sama sekali. Kemudian dia berpikir bahwa pihak lain adalah perempuan kecil, jadi tidak mungkin dia memiliki otak untuk mengetahui konsekuensinya. Orner yang sudah mendesak polisi agar bergerak cepat, menjadi lebih berani dan mendekati dua gadis yang sedang berpelukan.


Camila menyadari ini dan melambaikan sabuk yang masih dipegangnya


"Apa? Mau dipukul lagi?"


Orner sangat marah akan penghinaan ini, tapi dia mundur dan hanya bisa berteriak

__ADS_1


"Sudah kuduga, keputusan untuk menyekolahkan anak perempuan benar-benar suatu kesalahan! Lihat saja teman sekolahnya! Benar-benar membuang uang! Setelah aku selesai dengan p*l*c*r ini, akan kubuat dia berhenti sekolah!!"


Evi menjawab dengan nada penuh cinta dan kelembutan


"Baik, baiklah. Setelah ini selesai, Anna bisa berhenti sekolah dan membantuku mengurus rumah. Dia juga bisa mencari kerja sampingan untuk membantu membiayai studi kakak lelakinya, bukankah ini bagus? Karena itu jangan marah lagi, sayang."


Arianna menatap pemandangan ini dengan kepahitan di matanya.


Hampir setiap hari dia dipukuli hanya karena alasan sepele, tapi ibunya tidak pernah peduli sama sekali. Hanya ada kakak lelakinya dan ayah di mata ibunya.


Dia menahan pukulan serta penghinaan setiap hari, tapi tiga orang lain adalah potret dari keluarga yang bahagia.


Hatinya benar-benar hancur.


Saat inilah dia merasakan bahwa pelukan Camila semakin erat, tanpa menyakitinya. Telinga Arianna bisa mendengar saat pihak lain berkata


"Arianna, aku tau bahwa tidak pantas ikut campur dalam urusan keluargamu. Tapi aku tidak bisa melihatmu memendam luka lebih dari ini, bagaimanapun juga kita adalah teman."


"Jadi jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian, kau masih memilikiku."


Hati Arianna yang hancur dan disiram oleh dinginnya rasa pahit, seolah mendapat sedikit cahaya hangat. Camila benar, dia tidak sendirian.


Dia menyamankan diri dalam pelukan Camila dan bergumam


"Terimakasih."


Camila membalas lembut


"Sama-sama."

__ADS_1


Begitu dia selesai mengatakan ini, ada suara dari pintu.


Polisi sudah datang.


__ADS_2