
"Jadi kesimpulannya ... Apakah kau masih Arianna yang kukenal, atau Arianna yang lain? Jawablah" pertanyaan ini adalah yang terpenting baginya, sebagai pihak yang bertransmigrasi kedalam novel.
Karena jika jiwa Arianna di dunia ini sepenuhnya digantikan oleh jiwa Arianna dari dunia lain, maka efek kupu-kupu yang akan ditimbulkan akan jauh lebih mengerikan. Bahkan mungkin bisa saja kedua dunia saling bertabrakan dan tercampur, karena mendeteksi jiwa dari salah satu anak dunia.
"Aku masih Arianna yang kau kenal, Camila. Aku hanya membagi ingatan akibat kepingan jiwa yang menyatu dengan Arianna dari dunia lain" si protagonis menjawab ini denganĀ mata berbinar penuh keyakinan dan tekad.
Untungnya, itu adalah jawaban yang cukup menenangkan situasi.
Camila menghembuskan nafas panjang dan bertanya
"Apakah kau mengingat semua hal saat ini?"
Pihak lain mengangguk
"Ya. Termasuk setiap perbedaannya."
Namun masih ada yang mengganjal pikiran si nona antagonis
"Kalau begitu biar kutanya satu hal padamu, Arianna."
"Ya?"
Camila menatap Arianna dengan raut serius
"Aku jelas tau kau tidak akan memilih untuk bersama dengan Frost Harrison di dunia ini, tapi bagaimana jika ... Seandainya kau tanpa sengaja menginjak jalan yang sama."
Bagaimanapun juga, mereka adalah pasangan yang dipilih oleh kesadaran dunia. Pasangan yang merupakan anak dunia dan sangat berpengaruh.
__ADS_1
"Tidak akan!!" Dia menjawab tanpa berpikir.
Camila sekali lagi mengatakan
"Ini hanya jika, Arianna."
Pihak lain terdiam untuk beberapa saat, ada pikiran berkecamuk yang tumpang tindih satu sama lain jika dilihat dari sorot matanya.
Karena itulah Jawa Arianna menjadi
"...... Aku tidak bisa memikirkan kemungkinan itu, Camila. Tapi kalaupun benar suatu saat aku sampai hamil anak Frost, maka akan kubesarkan anak itu sendirian."
"Terlepas dari mata orang?" Dia memiringkan kepalanya.
Arianna langsung mengangguk tanpa ragu, menjawab tegas dengan sedikit nada penuh rasa bersalah
Camila merasa lega, untungnya anak ini belajar dari pengalaman dan mau mengakui kekurangannya sendiri sekaligus bahwa dia tidak bisa selalu jadi yang terbaik.
Oleh karena itu Camila memujinya
"Anak pintar."
Arianna meraih sebelah tangan Camila dengan takut-takut saat bertanya
"Jadi ... Apakah kau memaafkanku, Camila?"
Camila hanya menjawab
__ADS_1
"Di dunia ini kau belum melakukan apa-apa, Arianna. Jadi aku tidak punya apapun untuk menerima permohonan atau memaafkanmu, itu dendam dari dunia sebelumnya."
Mata jernih Arianna kembali meneteskan air mata, tapi kali ini ada senyum tulus dan hangat di bibirnya
"Camila ..."
Camila memberinya senyum kecil, balas menggenggam tangan Arianna
"Aku tau kau anak baik, Arianna. Kau dan aku sama-sama korban dari Frost Harrison."
Mendengar ini, Arianna langsung berhambur memeluk Camila. Dia menangis meraung-raung, Camila hanya diam dan menepuk-nepuk punggungnya sambil sesekali mengatakan kalimat menenangkan. Dia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan pribadi orang lain.
Sayangnya, raungan Arianna yang sangat menyedihkan tersebut membuat orang diluar sana termasuk guru-guru, menjadi salah paham. Semuanya dengan panik mengetuk pintu kamar mandi ruang kesehatan, khawatir bahwa Camila sudah menyiksa Arianna atau semacamnya.
"Camila, Arianna! Apa yang kalian lakukan?!"
"Arianna?! Kau baik-baik saja?!"
"Keluar!!"
"Camila, jangan impulsif! Kita selalu bisa membicarakannya!!"
"Camila, Arianna!!"
Teriakan dan pekikan panik mulai bermunculan di sekolah.
Bahkan hingga mengacaukan forum sekolah.
__ADS_1