
Arianna tidak sempat memikirkan ada dimana teman-temannya setelah terpisah dengan Raymond saat menyajikan minuman. Dia mungkin masih bisa melihat rambut mencolok milik Lance, yang tampaknya sedang berbincang dengan seorang wanita muda. Arianna memperhatikan lebih dekat bahwa keduanya memiliki cincin emas putih yang sama, sepertinya ini adalah wanita yang pernah disebutkan Camila padanya sebagai tunangan Lance bertahun-tahun lalu.
Manik hitamnya mengedar ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok Gabriel, tapi selain panatua Wundervei yang berkumpul di titik yang tidak mencolok, dia tidak bisa melihat sedikitpun jejak Gabriel di sini. Apakah sahabatnya itu sedang mencari Camila yang sedang bersama Frost saat ini?
"Nona, bisa tolong sebelah sini" suara wanita yang terdengar tegas namun flirty inilah yang menyadarkan Arianna dari pemikirannya sendiri. Dia hanya bisa melihat wanita bergaun merah ini melambaikan tangannya satu kali dari balik tirai yang memisahkan keluarga satu dengan yang lain, mengisyaratkan bahwa pihak lain ingin mengisi ulang gelas anggur di tangannya yang polos tanpa perhiasan apapun.
Namun semakin sederhana tampilan seseorang di perjamuan keluarga besar, maka semakin dalam pula keluarga mereka berakar dalam bisnis.
Itulah yang ia dapatkan berdasarkan ingatannya akan kehidupan pertama. Karena dia sangat mengenal wanita ini.
"Baik!" Arianna menghampiri Fiona yang sedang mengangkat gelasnya, tanpa ragu menuangkan anggur merah untuk si wanita yang tidak berhenti menatapnya seolah siap untuk mengupas dirinya selapis demi selapis hanya dengan tatapan mata.
Ini membuatnya merinding.
Dia tau jelas siapa wanita ini, Fiona adalah kakak kandung Frost Harrison. Yang di kehidupan masa lalu mempersulit dan selalu mengganggunya, tapi di kehidupan ini justru mempersulit Camila. Entah karena apa.
Arianna agak lama memperhatikan Fiona yang sedang menyesap anggurnya, wanita ini memiliki jenis kecantikan yang sama dengan Camila. Dingin dan tak tersentuh, dengan tatapan tajam dilengkapi arogansi yang sangat menyebalkan.
Benar-benar mirip dengan Camila.
"Nona, kau bisa melubangi wajahku jika terus menatap seperti itu" Fiona menegur ramah, tentunya dengan ekspresi yang sama sekali tidak ramah.
__ADS_1
Kalimat ini membuat Arianna memiliki sedikit nostalgia, lebih tepatnya saat Fiona mendorongnya dari ujung tangga lantai dua mansion Harrison, di kehidupan pertamanya. Kalau tidak salah, kejadian itu berlangsung saat Frost memenjarakan Camila di kehidupan pertamanya.
Fiona mengetuk mulut gelas menggunakan kukunya, sekali lagi menyadarkan Arianna.
Wanita yang rambutnya diikat ponytail itu langsung cepat-cepat membungkukkan badannya dan berseru sambil memeluk botol anggur merah "Maafkan saya! Saya akan permisi!"
Fiona menyipitkan matanya dengan senyum yang tidak mencapai mata, jelas merasa jijik dan merespon secara singkat "Oh. Kalau begitu hati-hati ya, imut."
Namun halo protagonis wanita dari novel sampah, akan selalu sama sampahnya. Karena begitu Arianna berbalik untuk mengganti anggur, dia segera bertabrakan dengan seorang pria hingga terjatuh ke lantai. Untung saja, baik Arianna dan anggur merahnya baik-baik saja. Karena kalau tidak, dia harus mengganti rugi anggur yang bahkan harga per botolnya sama dengan total gajinya selama dua tahun penuh.
Tapi pria yang ditabraknya jelas merasa sangat terhina dan tidak terima, dia merangsek maju dan menarik kasar lengan Arianna dari lantai hingga bangkit "Brengsek, apa yang-"
"Manner, Frost" potong Fiona yang masih asik menyesap anggur tanpa peduli akan insiden kecil ini.
Pria yang barusan ditegur secara singkat, segera melepaskan cengkeraman tangannya pada si pelayan wanita sebelum mematung. Dia menajamkan tatapannya seolah tidak percaya akan apa yang sudah dilihatnya dan buka suara dengan wajah kosong ".... Oh? Anna?"
Keringat dingin mulai membasahi pelipis si wanita, wajah putih bersih milik Arianna juga memucat seolah sudah kehilangan banyak darah. Jantungnya lagi-lagi berdetak cepat dengan cara yang aneh seperti bertahun-tahun lalu, seolah ada sesuatu yang memaksanya untuk menyukai sosok Frost Harrison.
Frost juga merasakan hal yang sama dan bahkan sampai meremas posisi dimana jantungnya berada, memastikan bahwa ini memang bukan ilusinya. Ini adalah perasaan serupa yang dia rasakan bertahun-tahun lalu kepada Arianna, jantung yang berdetak cepat sekaligus euforia seolah dia sudah menghirup narkoba.
Andai saja saat ini dia masih lelaki lima belas tahun yang labil, tentu dia akan dengan mudah mengakui bahwa dia mencintai Arianna Mackenzie.
__ADS_1
Namun dia sudah delapan belas tahun, rasional, dan mengenal terlalu banyak orang saat dihukum keluar negeri. Apakah ini yang saat itu ingin disampaikan Camila padanya?
Dia belum sempat memahami apa arti dibalik semua ini, tapi setidaknya dia tau bahwa perasaan yang dia miliki dan rasakan saat ini sangat jauh dari kata alami.
Melihat reaksi Arianna yang baru dia sadari selalu aneh sejak lama, Frost menjadi lebih yakin bahwa wanita muda di hadapannya ini juga pasti memiliki reaksi tubuh yang sama. Dan yang lebih parah adalah bahwa Arianna menyalahkan Frost akan semua ini pada saat Frost juga berada di posisi dimana dia sama sekali tidak tau apa-apa.
"Anna, kau ..."
Frost belum sempat mengatakan apapun, saat Arianna tiba-tiba memecahkan botol anggur dan mengacungkannya ke wajah si pria. Tangan serta pupil hitamnya bergetar dengan penuh emosi, seolah dia akan langsung menikamnya jika pria itu sampai berani mengambil satu langkah ekstra.
Tentu saja ini mengusik harga diri Fiona sebagai perwakilan utama Harrison untuk menghadiri perjamuan, saat adik lelakinya menerima perlakuan seperti ini. Dia tanpa basa-basi meraih revolver yang dia sembunyikan di bagian pahanya, lalu dengan cepat menembak botol anggur di genggaman tangan Arianna hingga hancur.
Pecahannya berhamburan dan menggores wajah serta leher Arianna, menjadikan ini sebagai senjata makan tuan.
Frost yang semula memiliki refleks untuk melindungi Arianna, sontak kembali ke akal sehatnya dan mundur ke hadapan Fiona. Dia turut mengeluarkan pisau lipatnya dan hendak membalas Arianna, gadis yang dulu pernah sangat dia suka. Dua orang yang harusnya saat ini sedang dalam fase saling mencintai dan bahkan pernah tidur bersama, justru sedang berbagi tatapan ingin saling menjatuhkan.
Akan sangat bodoh jika Fiona sampai tidak menyadari anomali keduanya. Terlebih saat dua orang ini secara mendadak terhuyung-huyung dalam waktu bersamaan, sebelum akhirnya pingsan dengan kondisi hidung yang mengeluarkan banyak sekali darah.
Waktu seakan melambat, bahkan seolah terhenti saat itu juga. Hanya Gabriel, Fiona, Aiden, Lance dan Camila yang bisa mendengar suara desing angin didalam kepala mereka, disusul oleh bunyi keras sesuatu yang pecah.
Dunia mereka segera berubah menjadi hitam dan putih.
__ADS_1
Dan ini bukan ilusi mereka.