
"Jadi? Bisa jelaskan kenapa Arianna sampai menanyakan itu padaku?" Dia mencengkeram kedua pergelangan seorang pria, menahannya di punggung dengan posisi si pria telungkup di meja.
"Uh ... Bisakah kau melepaskanku lebih dulu?" Gabriel menjawab dengan sorot mata mengedar kesana-kemari.
Pada awalnya dia pikir dirinya adalah yang pertama datang, hanya untuk selanjutnya dibanting Camila keatas meja secara telak begitu membuka pintu bilik.
"Sakit?" Tanya pihak lain, agak melonggarkan cengkeramannya.
Gabriel menatapnya dengan sisi wajah kiri dan tersenyum polos "Tidak. Tapi ... Aku takut tubuhku akan bereaksi."
Gadis itu merasa merinding sejujur tubuh, tangannya secara refleks melepaskan cengkeramannya "Pikiranmu benar-benar penuh dosa, Gabriel. Sangat tidak cocok dengan nama dan wajahmu."
Yang dicibir hanya berdiri lurus serta merapikan penampilan anak baiknya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa "Aku hanya mencoba jujur, bukankah kau lebih suka ini?"
Camila menarik keras kerah almamater Gabriel untuk membantu, dengan tegas menjawab langsung "Tidak juga. Tapi akan lebih baik kalau kau bisa menyaring apa yang keluar dari mulutmu."
"Akan kulakukan" dia dengan cepat menyanggupi.
Camila memilih duduk di kursi terluar, menyilangkan kedua lengan dan kakinya dalam posisi defensif "Jadi?"
Gabriel tidak lagi menggodanya, melewati tubuh Camila dan duduk di bagian terdalam kursi, untuk mengurangi kerisauan pihak lain "Aku tidak mengatakan apapun pada Anna, kurasa dia hanya membuat kesimpulan sendiri. Bagaimanapun juga aku sangat menyukaimu, dan semua orang tau itu."
Camila masih tetap dalam posisi kedua kaki yang disilangkan, wajahnya menunjukkan campuran dari rasa bingung sekaligus heran "Aku benar-benar tidak mengerti."
"Tanyakan saja" rambut Gabriel bergoyang lembut saat dia mengistirahatkan kepalanya keatas meja, masih terus tersenyum menatap orang lain.
Camila mengambil lolipop lemon dan menyodorkannya pada Gabriel, tidak lagi sungkan untuk bertanya "Menurut kepribadianmu, aku yakin bahwa preferensimu sama sekali bukan aku. Aku butuh alasan."
__ADS_1
"Tidak semua hal butuh alasan, Camila" sanggahnya.
Dia jelas sering menerima alasan semacam itu, tapi memutuskan untuk tidak menodongnya lebih jauh lagi "Oke, kalau begitu biar kuganti pertanyaannya. Apa yang membuatmu pertama kali memikirkanku?"
Gabriel menunjukkan senyum yang lebih manis dan menjawab dengan mata menyipit penuh pemujaan "Karena kau jahat."
Camila jelas tidak mengharapkan jawaban semacam ini.
"Hah?"
Gabriel membuka bungkus lolipop lemon dan memakannya tanpa ragu "Kau adalah anak yang jahat waktu itu, jadi aku mau tidak mau memperhatikanmu. Bagaimanapun juga, keluarga Wundervei membesarkanku seperti itu."
Kurang nyaman akan posisinya saat ini, Gabriel kembali duduk tegak begitu memulai penjelasannya "Terbiasa memperhatikanmu, aku jadi tau lebih banyak dan kesan pertama itu tumpang tindih dengan kesan-kesan baru yang kudapatkan darimu."
Pria muda ini menarap rambut Camila yang masih memiliki panjang sama sebelum gadis itu masuk militer "Kau jahat. Itulah sebabnya kau menghajar tunanganmu sendiri dan memaksa Anna untuk menjadi sebatang kara. Kau jahat. Karena kau akan dengan keras kepala menjaga apa yang menurutmu benar, meski harus menerima penyiksaan dan menentang orangtua."
Camila mulai kembali merasakan perasaan tidak nyaman seperti sebelumnya, tubuhnya tanpa sadar memasang posisi siap tempur
"Jadi?"
Seolah tidak memperhatikan agresi dari pihak lain, dia menyimpulkan setiap hal yang barusan dia ucapkan "Aku menyukaimu, karena Camila adalah orang jahat."
"Kau ... Masokis ya?" Rasa tidak nyaman dalam dirinya semakin meningkat, padahal anak ini second lead yang biasanya memberi perasaan aman untuk protagonis wanita.
Apakah karena dia bukan protagonisnya?
Gabriel memilih untuk tertawa saja "Untukmu, kurasa iya."
__ADS_1
"Gabriel, kurasa kau harus ke psikolog" dia menyarankan ini dengan niat baik, bagaimanapun juga perubahan Gabriel terlalu kentara.
Pihak yang menerima sorot khawatir yang terselubung, menjawab senang "Oke."
Dia jelas tidak mengharapkan orang ini akan serta merta menurutinya "Tidak, tunggu. Kenapa sih denganmu? Kau yang seperti ini benar-benar ..."
"Camila, kapan kau akan putus dengannya?" Seperti biasa, tak peduli apapun yang mereka bicarakan Gabriel pasti akan menanyakan ini.
Yang ditanya bahkan sudah tampak malas menjawab pertanyaan ini "Gabriel, aku sudah pernah mengatakan alasannya."
"Aku hanya pergi sebentar untuk menerima panggilan patriark, dan coba tebak apa yang kudengar? Kalian benar-benar sesuatu" Lance memutar bola matanya, tanpa permisi masuk kedalam bilik dan duduk dihadapan keduanya.
"Camila, ingatlah kalau janji kencan kita tiga tahun lalu belum terlunasi" tagihnya tanpa basa-basi, bahkan tidak menyapa Camila yang baru dia temui lagi hari ini. Dia memakai almamater kampus yang sama seperti Gabriel, bedanya dia tidak memakai pin emas seperti dulu.
Itu pin perunggu, pin khusus untuk anak baru.
Ditambah dengan melihat gelagat orang ini, jelas bahwa Lance sudah tidak memiliki perasaan khusus untuknya dan hanya ingin menagih janji lama, itulah kenapa Camila merasa lebih tenang.
Karena dia tidak harus bertanggung jawab atas perasaan orang padanya "Kalau begitu setelah ini saja."
Melihat bahwa gadis ini masih mengiyakan ajakannya dengan mudah, Lance diam-diam merasa lega karena tidak ada yang berubah "Bagus. Makan malam lalu jalan-jalan ke Observatorium?"
"Oke."
"Kalau begitu aku akan menyewa tempat duduk sekaligus restorannya" pria muda berambut merah itu mengeluarkan ponsel dan langsung melakukan apa yang harus dilakukan.
"Camila, aku masih disini" Gabriel menyela dengan cemberut.
__ADS_1