
Awalnya Nathan mengira wanita itu terlalu sakit dan lemah sehingga tidak bisa melindungi putrinya, karena pihak lain tampak kurus dan pucat. Dia tidak menyangka bahwa orang ini sama saja dengan suaminya.
Pemuda lain bernama Avery itu tidak bisa menahan diri dari bertanya, tidak menduganya
"Apakah maksudnya kau mendukung pemukulan suamimu selama ini?"
Evi menjawab dengan kesal
"Kenapa tidak? Dalam masyarakat kita ada banyak orangtua yang memukuli anak mereka sejak kecil, ini semua dibenarkan karena demi kebaikan anak. Apakah polisi bahkan perlu membuat keributan hanya karena ini?"
Dengar orang-orang ini, apakah mereka masih bicara bahasa manusia? Masyarakat feodal sudah lama berlalu!
Gadis ini begitu sial memiliki orangtua seperti mereka.
Camila berjalan mendekati orang-orang dewasa ini dan mencibir
"Sebagai wanita, aku merasa malu padamu."
"Ada luka di lengan dan lehermu, pasti dibuat oleh orang ini juga 'kan?" Lanjutnya.
Evi refleks menutupi bagian tubuh yang dimaksud dan tergagap
"Aku ..."
Orner melotot di pintu, Evi seketika gemetar
"Aku tidak sengaja terantuk barang-barang saat membersihkan rumah, ini tidak ada hubungannya dengan suamiku."
Camila mengusap tangannya menggunakan tisu, penuh penghinaan
"Kau pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, dan sekarang dengan senang hati menjadi kaki tangan. Kau menderita rasa sakit yang sama, tapi memaksa putrimu untuk ikut menanggungnya. Kau tidak bisa lepas dari rasa sakit, oleh karena itu kau memutuskan untuk ikut mengambil peran."
"Apa kau tidak punya hati? Kau sungguh tidak pantas menjadi ibu seseorang."
"Menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga memang tidak bisa diprediksi. Tapi kau yang masih memiliki sepasang tangan dan kaki, justru memilih untuk tetap menjilat kaki pria ini. Menjijikkan."
Camila menatap kedua polisi ini begitu selesai bicara, tidak senang
"Kenapa masih belum membawanya? Apa yang kalian tunggu? Hujan uang?"
Nathan dan Avery segera tersadar dan memborgol Orner, lalu membawanya ke mobil polisi di seberang jalan. Orner memucat dan mulai meronta, sementara Evi menjadi histeris dan melemparkan dirinya ke polisi sambil menangis.
__ADS_1
"Tidak! Kau tidak boleh membawa suamiku! Aku tidak bisa hidup tanpa dia! Apa yang harus kami, ibu dan anak lakukan jika dia tidak ada?!"
"Aku tidak punya pekerjaan! Jika suamiku dipenjara, perusahaan pasti akan tau dan memecatnya! Tanpa pekerjaan, apa yang akan dia lakukan untuk mendukung kehidupan keluarga kami?! Apa yang akan kami lakukan untuk bertahan hidup?! Aku pasti akan mati kelaparan di rumah!!"
Nathan dan Avery adalah pria yang memiliki integritas, meskipun mereka terus ditarik oleh wanita ini, tapi mereka agak sungkan membalasnya dengan cara kasar mengingat kondisinya yang tampak sakit. Evi tampaknya mengetahui hal ini dan lebih gencar melemparkan dirinya sambil berteriak, menimbulkan keributan yang membuat para tetangga keluar rumah.
Evi melihat kerumunan ini dan makin histeris
"Jika kau ingin memenjarakannya, maka penjarakan aku juga! Anna, bukankah ini yang kau inginkan?! Kau membenci orangtuamu ini 'kan?! Apakah kau akan puas jika melihat keluarga ini hancur di penjara?! Bukankah ini yang kau inginkan, menjadi yatim piatu?! Apa kau senang?!"
Meski sudah begini, dia masih menolak untuk tidak mencoreng Arianna.
Arianna mengepalkan tangannya dan berdiri di samping Camila
"Jika harus memiliki orangtua sepertimu, aku lebih suka menjadi yatim piatu."
Orner berteriak pada kerumunan
"Semuanya, lihat betapa durhakanya dia! Kami melahirkan dan membesarkannya selama bertahun-tahun, dan dia membalas budi dengan menjebloskan kami ke penjara! Padahal kami sudah memberikan makanan, pakaian dan tempat tinggal! Dia sangat tidak berperasaan!"
"Semuanya, lihat dia! Putriku ingin menuntut dan menjebloskanku ke penjara! Kalian harus berhati-hati sebagai orangtua! Siapa tau anak yang kalian besarkan akan berbalik dan memenjarakan kalian suatu hari nanti!" Lanjutnya.
Evi mencengkeram lengan Nathan dan Avery, histeris
Camila memutar bola matanya pada dua pria berseragam yang masih tampak ragu-ragu mendorong Evi, dia hendak maju. Tapi Arianna menghentikannya dan keluar dari rumah tanpa memakai pakaiannya kembali, kerumunan sontak terkesiap melihat tubuh kecilnya yang penuh luka dan lebam.
Arianna sudah muak dengan sandiwara ini dan menatap kerumunan
"Karena semua orang kebetulan ada disini, saya ingin meminta anda semua menjadi saksi."
Dia dengan sengaja menyibak rambut panjangnya dan memutar tubuhnya didepan kerumunan orang, menunjukkan semua lukanya
"Ayah melakukan kekerasan padaku dan ibu mendukungnya. Dimata kalian mungkin ini bukan apa-apa, tapi setelah bertahun-tahun aku tidak bisa menerimanya lagi."
"Baik, kalian adalah orangtuaku. Aku tidak bisa menjadi 'tidak berbakti' dan menuntut kalian. Sebagai gantinya, maka aku ingin memutuskan hubungan orangtua-anak dengan kalian. Aku tidak akan lagi menginjakkan kaki disini, dan kalian juga tidak boleh mencariku di masa depan apapun alasannya."
Orner tersenyum miring dan berujar sombong
"Untungnya kau masih tau diri!"
Pria itu ganti menatap kedua polisi yang memborgolnya dan meneriaki mereka
__ADS_1
"Kalian tuli ya?! Tunggu apalagi?! Dia sudah mencabut tuntutan! Lepaskan borgol sialan ini!"
Meski Nathan dan Avery sangat tidak mau, tapi mereka tidak bisa mengacuhkan permintaan korban dan melepaskan borgol.
Orner meraih istrinya dan menyeret wanita itu masuk, berujar tanpa malu
"Tunggu apalagi? Pergi sana! Aku yang membeli semua barang di rumah, jadi kau tidak berhak mengambil satupun!"
Arianna membawa seragam dan tas sekolahnya, lalu melangkah keluar
"Baiklah."
"Semua biaya sekolah harus kau tanggung sendiri di masa depan! Jangan meminta uang sepeserpun padaku!" Teriak Orner.
Arianna mencibir
"Semua biaya sekolah, aku selalu membayarnya sendiri sejak awal. Apa hubungannya denganmu?"
Gadis itu meraih tangan Camila dan tersenyum
"Ayo pergi."
Orner teringat sesuatu dan kembali berteriak
"B*jing*n! Kau sudah menghancurkan pintuku! Jangan harap kau bisa lari!"
Camila bahkan tidak mau repot-repot menatapnya, merogoh cek dari tas sekolahnya dan menuliskan angka. Lalu melemparnya ke tanah
"Sepuluh juta, apa masih kurang?"
Dia menggandeng tangan Arianna dan berujar dingin
"Jika suatu saat kau berani mencari masalah dengan Arianna, awas saja."
Orner berteriak pada polisi yang hendak masuk mobil
"Pak polisi, dengar itu! Dia mengancamku!"
Kedua gadis itu bergandengan tangan dan pergi menuju pintu komunitas, tanpa mengatakan apapun. Mereka sontak dihadang oleh sebuah mobil putih dan hitam yang familiar, dua sosok segera keluar dari masing-masing mobil.
Mereka bertemu wajah khawatir Gabriel yang akan mengucapkan sesuatu, tapi sontak membeku begitu melihat tangan mereka yang bergandengan. Pikirannya berkecamuk.
__ADS_1
Camila malas meladeni second lead saat ini, jadi dia melihat sosok kakaknya yang masih terbalut seragam SMA dan menatapnya dalam diam. Gadis itu memanggil nama pihak yang lebih tua
"Kak Aiden."