Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Arianna


__ADS_3

Seisi kantin jatuh pada keheningan, Scarlett yang semula sesumbar juga diam dan terus membuka-buka mulutnya untuk menyanggah, tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


Terlebih, saat ini wajahnya memerah.


Camila sudah tau jawabannya, jadi dia menghela nafas panjang dan bertanya retoris


"Kenapa semua orang bisa menyukai laki-laki seperti Frost Harrison?"


Scarlett tampak tidak terima


"Apa maksudmu, Camila? Dia tunanganmu! Bagaimana bisa kau mengatakan hal semacam itu?! Taukah kau berapa banyak gadis yang ingin bertunangan dengannya?!"


"Karena itulah aku bertanya ... Kenapa semua orang bisa menyukai laki-laki seperti itu?" Tanya Camila.


"Bukankah sudah jelas? Dia tampan, berasal dari keluarga yang berpengaruh, ramah pada perempuan, dan pewaris masa depan grup Caesar! Siapapun yang punya otak juga pasti menginginkannya!" Scarlett keras kepala.


"Kalau begitu maaf mengecewakan, jika memiliki otak berarti diharuskan untuk menyukai laki-laki sepertinya. Maka aku dan Arianna pastilah tidak punya otak, kami juga tidak menyesalinya" Camila tersenyum kecil.


Arianna yang mendengar bahwa Camila tidak menyalahkannya, menjadi bersemangat dan moodnya membaik. Bagaimanapun, dia sudah terbiasa dimusuhi. Asalkan bukan Gabriel atau Camila yang mengucapkan kalimat menyakitkan, dia tidak akan sakit hati.


"Nona ini ... Aku takut ekspetasimu tentang Tuan muda Harrison harus hancur, bagaimanapun juga definisi ramah pada perempuan ... Bukan berarti laki-laki tersebut harus mengencani setiap perempuan" Lance turut tersenyum.


"Jangan memfitnah Frost Harrison!" Pekik Scarlett.


"Kalau kau tidak percaya, coba saja hampiri dia. Mau bertaruh? Kalau saat ini Frost sedang berada di ruang kelas tiga jurusan teknik bersama perempuan, maka aku menang. Jika tidak, maka kau yang menang. Taruhannya adalah undangan fashion show brand D1or, tertarik? Tapi kalau kau kalah, minta maaflah pada Camila dan Anna" Gabriel yang sejak awal diam, akhirnya menawarkan sesuatu yang menarik.


Scarlett yang memang berasal dari keluarga bisnis fashion, mau tak mau menjadi tertarik dan mengangguk setuju

__ADS_1


"Baik! Kalau begitu, beri aku tiga tiket!'


Gabriel menyanggupi


"Sepakat."


Scarlett berbalik pergi sembari mengibaskan rambutnya dengan angkuh, meninggalkan cafetaria tanpa rasa bersalah sedikitpun. Lance adalah pihak pertama yang mencibir


"Apa sih? Kenapa semua perempuan menyukai bajingan? Dan lucunya ... Saat mereka dicampakkan, mereka akan bilang kalau semua laki-laki itu sama."


"Tidak semuanya" sanggah Camila.


Lance menjentikkan jarinya


"Benar! Kau dan anak ini mungkin adalah spesies langka yang menyukai pria baik-baik! Siapa namamu tadi? Arianna?"


Lance mengamati gelagatnya yang memang seperti anak baik dan berkomentar


"Orang baik pasti akan bersanding dengan orang baik, jadi aku agak heran dengan ini."


"Bukan saatnya memikirkan hal-hal acak tersebut, perbaiki nilaimu di pelajaran Bahasa Jerman. Kemarin kau hanya dapat C 'kan?" Seloroh Camila.


Sebagai respon, Lance mengumpat lirih.


Gabriel ikut menambahkan


"Kita masih berada dalam usia sekolah, masa dimana kita harus menggali potensi kita dan mengasahnya dengan rajin. Jangan sampai jadi tua yang tak berguna."

__ADS_1


Lance menatap orang-orang ini dengan cemberut


"Kau bukan ayahku, Gabriel. Tolong diingat."


Gabriel merespon dengan seulas senyum


"Maaf menyinggungmu."


Seolah teringat sesuatu, Gabriel bertanya pada sahabatnya


"Ngomong-ngomong, Anna. Aku mengunjungi tempat kerjamu kemarin, tapi aku tidak menemukanmu. Apa yang terjadi?"


Camila juga memandang Arianna berkat pertanyaan ini, bisa menebak apa tepatnya yang terjadi pada protagonis wanita. Kalau ingatannya tidak salah, ini adalah waktu dimana dia diberhentikan akibat memukul pelanggan yang melakukan pelecehan *****al padanya.


Kemudian ayah dan ibu Arianna yang patriarki, mengetahui bahwa anak mereka diam-diam menghasilkan uang dan mereka sangat marah. Keduanya mulai memukul Arianna karena tidak menjadi anak berbakti yang menafkahi keluarga, dan justru menikmati hasilnya sendiri.


Karena tidak mau Arianna menghabiskan uang untuk sekolah, mereka memaksanya untuk berhenti sekolah dan menikah saja. Sehingga uang maharnya bisa mereka gunakan untuk menguliahkan anak lelaki kesayangan mereka, Deon Mackenzie.


Semenjak kejadian inilah Arianna yang awalnya lugu dan pemalu, menjadi lebih berani dan membuat male lead semakin menyukainya. Walaupun Arianna masih akan terus denial dalam novel tersebut dan membuat kisah tetap berputar-putar


"Tidak ada apa-apa, aku hanya berganti ke pekerjaan baru" jawab Arianna pada akhirnya.


Gabriel tidak mempercayainya, tapi karena pihak lain menolak untuk menjawab, maka dia menghargai keputusannya


"Benarkah? Anna, kau bisa meminta tolong padaku kapan saja jika memang terjadi sesuatu. Jangan sungkan."


Camila mengamati Arianna yang hanya mengulas senyum sambil menganggukkan kepala, dia tidak terlalu suka dengan set karakter protagonis yang terlalu baik. Oleh karena itu dia bertanya

__ADS_1


"Arianna, sekarang sudah saatnya berganti ke seragam musim panas. Kenapa kau masih memakai seragam musim semi?"


__ADS_2