
Fiona membuka jendela mobilnya dengan tangan yang sudah memegang pistol, terisi oleh empat peluru tajam. Rambutnya yang terurai disisir oleh angin saat dia mulai membidik mobil yang berjarak lima ratus meter dari posisinya, terhalang oleh dua mobil ekspedisi. Menghitung jarak, arah sekaligus kecepatan angin membuatnya urung melakukan apapun dan menurunkan pistolnya.
Wanita itu kembali masuk kedalam mobil dan menutup jendela, bertanya pada asisten pribadi yang duduk tepat disamping pengemudi "Yuju, situasi."
Yang disebutkan namanya menjawab seperti biasa "Baik. Berdasarkan kiriman rekaman kamera pemantau dari Tuan Aubrey, itu bukan Rushia. Tapi seperti yang anda minta, saya melakukan sedikit pengamatan dan itu adalah seorang pengawal bayaran yang disewa oleh Rushia, tepatnya beberapa bulan jauh sebelum data Harrison dicuri olehnya."
Fiona mengantongi pistol dan merogoh koper besar dibawah kursinya "Detail."
Yuju melihat si Nona yang sudah mengeluarkan alat tersayangnya, diam-diam melakukan peregangan badan di posisinya "Baik. Itu adalah seseorang yang mengubah identitasnya, tapi dia masih memiliki sedikit hubungan dengan keluarga Icardi."
"Salah satu anak haram mereka?" Dia menanyakan ini sambil mengeluarkan shotgun dan mengisinya dengan peluru tajam.
Si asisten mengangguk "Benar, nona. Dan Rushia juga saat ini sedang bersamanya, saat mobil kami berhasil melewatinya selama lima detik sebelumnya saya sudah merekamnya menggunakan inframerah. Posisi spesifik adalah kursi penumpang."
Fiona mengikat rambutnya dengan asal "Dia melubangi kursi penumpang dan bersembunyi didalamnya?"
"Benar."
Dengan shotgun sekaligus pistol yang terselip di balik gaunnya, Fiona berkata "Buka atap mobilnya, sayang."
Sang pengemudi menekan salah satu tombol dan membiarkan atap mobil terbuka sepenuhnya, membawa angin sekaligus debu jalan masuk kedalam "Baik, harap hati-hati."
Sambil tersenyum, ia hanya menjawab dengan "Tentu."
__ADS_1
Fiona memakai kacamata hitamnya dan memposisikan diri agar siap menembak kapan saja, tapi dua mobil asing segera mengepung mobilnya dari dua arah, kanan dan kiri. Tapi dia tetap santai, bahkan saat orang-orang bertopeng ini juga mulai membidik kepalanya. Ada sekitar enam orang, tiga dari masing-masing mobil yang sedang bersiap melubangi kepala sebelum menghimpit mobilnya hingga hancur. Bahkan saat ini, muncul tambahan sebuah mobil lagi di belakangnya dan telinga Fiona juga menangkap bunyi pelatuk yang akan ditekan kapan saja.
Earpiece yang sejak awal menempati telinga Fiona, mendadak menyuarakan suara seorang gadis muda yang ikut terlibat di belakang layar. Kartu As yang disuap olehnya selama bertahun-tahun, dan membuatnya nyaris melubangi dompetnya sendiri.
"Posisi."
Dari atap gedung, empat orang berpakaian hitam langsung mengambil posisi mereka masing-masing dan membidik kepala masing-masing orang yang mengepung mobil Nona pertama Harrison dengan senjata laras panjang. Badge militer mereka tampak menyilaukan setiap kali mereka bergerak.
Merasakan kehadiran anak-anak Camila, Fiona tanpa sungkan menembakkan pelurunya ke kepala pengemudi mobil dimana Rushia berada.
Tentu saja tidak mempan, mengingat setiap keluarga berpengaruh akan selalu menggunakan kaca anti peluru pada mobil mereka. Anak meluarga Icardi yang mendengar bunyi ledakan peluru dari kaca belakang tersentak kaget untuk sesaat, sebelum akhirnya menyeringai saat berpikir betapa naifnya seorang nona besar dari keluarga musuh mereka.
Namun tembakan ini hanyalah sinyal yang dilakukan Fiona dengan iseng, walau akan lebih baik kalau memang gertakan ini bisa langsung membunuh kedua bajingan itu.
Akibat serangan tiba-tiba ini, orang Icardi yang melindungi Rushia seketika menjadi panik dan menginjak gas. Dua mobil ekspedisi di sana juga terkejut setengah mati akibat aksi baku tembak yang tiba-tiba terjadi di depan dan di belakang mereka, mereka ikut menjadi panik dan ikut-ikutan menginjak gas.
"Kejar" titah Fiona.
Namun tiga mobil yang kehilangan pengemudi mereka secara tiba-tiba menjadi tak terkendali dan menabrak mobilnya, sebelum terpental ke samping kanan dan kiri jalan. Dampak dari ini adalah ban mobilnya yang pecah dan ikut-ikutan oleng akibat melaju dengan kecepatan diatas rata-rata sebelumnya, tubuh Fiona dipaksa jatuh kembali kedalam mobil dan terpental beberapa kali.
Wajahnya masih tenang saat dia berkata "Cepat."
Sopir keluarganya tanpa ragu menginjak gas, mengacuhkan percikan api pada aspal yang ditimbulkan oleh pergerakan mereka. Asisten Fiona juga menaikkan kacamatanya saat dengan kalem mengeluarkan pisau lipat dari saku jasnya, melempar benda tersebut pada si Nona seolah ini sudah biasa.
__ADS_1
Fiona mengantongi pisau sambil tetap memegang pistolnya, tangannya tanpa ragu merobek rok gaun bodycon untuk pesta anggur nanti hingga pinggang. Dia memegangi atap mobil yang terbuka, lalu melompat ke atas saat sudah berhasil menyusul salah satu mobil ekspedisi.
Wanita bergaun merah anggur itu mematahkan hak sepatu yang memiliki pisau didalamnya, dan melempar itu dengan penuh momentum ke ban mobil berisi mayat di belakangnya, mengirim mobil itu ke pembatas jalan dengan bunyi benturan yang menghancurkan. Sebelum melompat ke pintu belakang salah satu mobil ekspedisi dan berpegangan pada grendel pintunya, melambaikan tangan pada dua bawahannya yang setia.
Dia memanjat hingga berhasil mencapai atap mobil ekspedisi, menstabilkan posisi dan lanjut berlari ke depan, mengulangi tindakan sebelumnya pada mobil ekspedisi kedua. Kali ini, dia berhasil memotong jarak dengan Rushia.
Tersenyum, Fiona tanpa ragu menembak ban mobil keluarga Icardi dan membuat mereka berputar di jalan sebelum menabrak pagar pembatas dan berhenti. Fiona mendekat ke arah kaca dan mengarahkan moncong pistol ke arah pengemudi yang ketakutan.
Dia dengan centil mengancam "Hentikan mobilnya."
Gemetar, pengemudi malang itu menepi dan menghentikan mobilnya. Fiona melompat turun dari atap, menulis sejumlah nominal pada cek dan meletakkannya pada kap mobil dan berkata "Uang tutup mulut. Pergi."
Mata pengemudi yang sebelumnya gemetar seperti burung puyuh langsung bersinar, dia mengangguk cepat seperti boneka di dashboard mobilnya dan mengambil cek itu. Sebelum dengan panik meluncur pergi dari lokasi, tanpa sedikitpun menoleh lagi.
Putera keluarga Icardi sepertinya baru saja berguling turun dari mobil yang sudah setengah hancur, tanpa beeniat menyelamatkan Rushia dan berniat kabur. Fiona yang melihat ini langsung menembak salah satu kaki pria itu, membuatnya berteriak kesakitan akibat peluru tajam yang melubangi tulang kakinya.
Asisten Fiona yang menyusul ke posisinya dengan cara berlari bersama si pengemudi, langsung menyumpal mulut orang yang sedang berteriak ini menggunakan sapu tangan. Fernan di sisi lain segera mengikat dan menghentikan pendarahan di kaki orang ini.
Sementara Fiona, menyaksikan dalam diam sesosok gadis berambut hitam yang tampak sedang berusaha merobek tempat persembunyiannya dari dalam begitu merasakan benturan. Butuh beberapa menit sampai tubuhnya bisa keluar dari sana, seperti ulat yang coba merobek kepompongnya.
Rushia selertinya menyadari sedang ada di posisi mana dirinya saat ini, oleh karena itu dia menatap Fiona dengan mata penuh benci dari dalam mobil yang terbakar dan menguncinya dari dalam.
Tinggal menunggu waktu saja sampai api dan ledakan kedua menghancurkan tubuhnya.
__ADS_1