
"Camila, mau coba mocktail punyaku?" Lance benar-benar antusias akan minumannya sendiri, yang memiliki bunga Telang yang bergoyang-goyang di dalam gelas.
Gabriel memberikan pengingat ramah
"Lance, kita masih dibawah umur."
Lelaki merah itu mendecakkan lidahnya, berusaha sabar dalam menjelaskan
"Aku bilang mocktail, bukan cocktail. Beda. Ini tidak memiliki alkohol sama sekali, hanya soda, sirup cocopandan, potongan mint, irisan mangga, es, dan bunga yang bisa dimakan."
Camila menanggapi dengan
"Terdengar enak."
Lance tampak sangat senang
"Iya 'kan? Bagian mana yang ingin kau coba?"
Gerakan Gabriel yang sedang makan kue membeku, menatap tak percaya pada laki-laki ini
"Tunggu, kau akan menyuapinya?"
Lance terkekeh sombong
"Biasanya memang begini 'kan?"
Dia mengaduk rata mocktail miliknya, menunggu setiap cairan disana menyatu menjadi warna kuning senja yang cantik dan menyodorkannya
"Camila, sini."
Gadis itu mendekat dan menyesap minuman, merasakan manis yang pas dan sensasi lidahnya sedang digigit kecil. Mengangguk penuh apresiasi dan mengusap kepala Lance, membuat senyumnya jadi jauh lebih lebar.
Gabriel menggigit bibirnya sendiri dari samping, melihat cake cantik di piringnya sendiri dan mengulas senyum sebaik mungkin saat menawarkan
"Camila, mau mencicipi cake mawarku?"
Perhatian Camila serta merta teralih
"Itu bukan stroberi?"
Lelaki perak itu tersenyum lebih lebar
"Bukan, ini mawar. Mau mencobanya?"
__ADS_1
Gadis tersebut mengangguk mempersilahkan
"Boleh."
Gabriel memotong bagian yang menurutnya paling enak dan serta merta menyodorkannya di depan mulut Camila.
Lance "??!"
Camila melihat makanan di depan mulutnya dan memiringkan kepala "Oh? Apa ini?"
Lelaki perak tersebut merona merah dengan tangan yang sedikit bergetar, menutup matanya rapat-rapat serta mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Bi ... Bilang 'ah'?"
Lance merasakan cringe teramat sangat dan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa
"Pffft! Hahahaha! Apa ini?!"
Camila hanya berkedip-kedip.
Dengan wajah tersenyum, Lance melayangkan tatapan tidak suka
"Gabriel, ini yang mau kau katakan padaku?"
"...."
"Heh. Sudah berpikir matang-matang soal yang kukatakan padamu waktu itu?"
Gabriel mengangguk kikuk
"Uh ... Mn."
"Huh. Kau memang bajingan" dengus si lelaki merah.
Camila menyisipkan sejumput rambutnya ke balik telinga, lalu memakan apa yang disodorkan oleh Gabriel. Memakan potongan cake dengan lembut sembari memejamkan mata, menebak rasanya. Lance sendiri hanya menggeleng pelan dan menyesap minumannya, sesekali memelototi Gabriel agar menyadari bahwa kehadirannya tak lagi dibutuhkan disini.
Lelaki perak itu cemberut dan menatap penuh harap pada Camila, berharap bahwa gadis ini membelanya. Tapi yang ditatap hanya fokus pada makanan serta minumannya sendiri, tidak memedulikan apapun.
Dia sontak merasa makin sedih.
Lance adalah pihak yang pertama kali buka suara
"Camila, apa kita jadi berkencan? Bukankah kau bilang kau akan menemui keluarga Harrison akhir pekan ini?"
__ADS_1
"Maaf soal itu, Lance. Kau tau sendiri aku benci berlama-lama menyimpan sampah. Mau dimajukan saja?" Tawarnya.
Lelaki merah itu cemberut dan menggeleng
"Aku hanya mengosongkan waktu di akhir pekan ini."
Camila hanya bisa mengatakan
"Maaf."
Lance mulai cemberut
"Aku sangat sedih, tau."
"Mhm."
Sadar bahwa Camila tidak menanggapi tingkah manjanya, Lance mendecih oh keras
"..... Cih!"
Camila mengusap mulutnya menggunakan tisu, lalu melambaikan tangannya pada Lance
"Sini."
"Ngapain?" Dia ngambek
Camila menjawab singkat
"Kompensasi."
Lance menggeser posisi duduknya dengan mulut yang terus menggerutu
"Apa?"
Tanpa banyak bicara, gadis itu meraih dagu Lance. Dan dibawah tatapan terkejut dua lelaki lain dalam bilik, Camila mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Lance.
Gabriel menjatuhkan sendok dan rautnya sontak mendingin.
Sementara mata Lance membola akibat terkejut, wajahnya seketika berubah warna menjadi semerah rambutnya.
Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali, tapi dia hanya bisa bertanya dengan suara terbata-bata
"Apa ... Barusan?"
__ADS_1
Camila menjawabnya dengan ringan
"Sebuah kompensasi."