Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Kencan (?)


__ADS_3

"Itu Canis major bukan? Atau Canis minor?" Lance bertanya sambil memutar-mutar teleskop di sebelah Camila, tampak sedang mencari rasi bintang yang paling cantik dan ingin menamainya sendiri.


Camila memutar bola matanya untuk yang kesekian kali dan menjawab "Itu Orion."


Lance yang untuk entah keberapa kali terekspos didepan pasangan kencannya, hanya bisa tertawa kering sebagai respon "Oh ... Kalau begitu, yang itu pasti Hercules."


"Itu Taurus."


Lance berpura-pura tidak mendengarkan kalimat barusan "Ophiucus disana terang sekali, tidakkah menurutmu cantik?"


"Itu Phoenix" tukas camila, lalu menarik Lance menjauh dari teleskop agar mereka kembali pada bisnis.


Pria berambut merah itu hanya merasa kesal sekarang "... Oke, kau menang. Akan kukatakan siapa orangnya."


"Biar kutebak, ayah Arianna?" dia membuat tebakan acak, bagaimanapun juga yang namanya masalah pasti tidak akan jauh-jauh sumbernya dari protagonis wanita.


Lance tampak bingung akan orang yang ditebak Camila "Bukan. Ini kakak lelakinya."


"Oh" meski agak tak terduga, nyatanya memang masih ada hubungannya dengan protagonis wanita.


Lance menunjukkan foto seseorang yang merupakan versi pria dari Arianna di ponselnya "Dia memiliki kontak beberapa kali dengan anak bungsu keluarga utama Selvina, mantan tunangan Fiona Harrison."


"Kalau begitu jelas yang ditargetkan bukan aku" jawab Camila.


Lance tidak membantah ini "Benar. Tapi kau adalah yang paling sering memiliki kontak dengan Fiona, oleh karena itu pihak lain menganggapmu sangat merusak pemandangan."


"Ada bukti?" ini adalah pertanyaan yang sangat penting.


Sayangnya jawaban yang dia dapat dari pria ini adlah sebuah gelengan kepala "Kurang memberatkan."


"Kenapa bisa yakin kalau kakak Arianna terlibat?" Camila mengajukan pertanyaan kedua.

__ADS_1


Lance tersenyum miring dan menunjukkan map berisi informasi dari dalam mantelnya, dengan bangga berujar "Hutang pada casino dan hidup yang glamor dengan latar belakang keluarga seperti itu."


Namun jelas hal semacam ini tidak cukup kuat untuk menindaklanjuti seseorang "Lance, kau tidak boleh seenaknya mengubah asumsi dsn membuatnya menjadi bukti. Siapa tau dia diam-diam menjadi atlet E-sport atau bekerja secara online, dunia itu luas."


Ini kelas merupakan instruksi agar Lance mencari lebih banyak informasi "Oke. Kalau memang kau berpikiran seperti itu, lantas siapa lagi yang akan kau curigai? Memeriksa informasi pribadi seseorang tanpa alasan yang jelas adalah perbuatan ilegal."


"Banyak yang bisa dicurigai, Lance. Saingan bisnis, orang pemerintahan yang gagal menarik keuntungan, kerabat jauh Blazemoche. Tidak harus kakak Arianna, terutama dengan alasan kemiskinan" Camila mengatakan ini sambil mulai membereskan barangnya.


Lance menjadi kesal dan mencibir "Jangan hipokrit, Camila. Jelas bahwa faktor utama tindak kejahatan adalah keserakahan dan kemiskinan. Yang terpenting adalah siapa dan apa motifnya, cepat selidiki kalau tidak mau mati. Aku sudah memilih pihakmu di rapat pemegang saham, jangan membuatku rugi dengan seenaknya mati."


Camila meliriknya melalui sudut mata "Biar kupikirkan caranya."


"Kapan? Bukankah kau bilang besok ada kencan dengan Fiona, kemudian esok harinya lagi dengan Gabriel? Kau benar-benar suka bermain api, Camila" pria merah tersebut kembali melayangkan sarkasme.


Camila menusuk ringan saku mantel pihak lain menggunakan jari telunjuk "Habiskan dulu kue osmanthus milikmu, Lance. Kita bisa berkelahi setelahnya."


Jelas yang dirasakan Lance lebih dibandingkan geli biasa, membuatnya mengubah arah protes "Kau baru saja pulang dari militer, ini tidak akan menjadi perkelahian yang adil."


Lance jadi merinding sendiri "Hentikan. Baiklah, aku akan diam. Kau sendiri yang dulu menghinaku dengan sebutan toxic masculinity, lihat dirimu sekarang."


Keduanya dengan tenang berjalan menuju mobil sambil membicarakan apa yang mereka lalui saat berpisah selama tiga tahun.


"Camila, menurutmu apa yang harus kulakukan?"dia bertanya tiba-tiba saat membukakan pintu mobil.


Karena nadanya terdengar serius, Camila menyebutkan dua opsi sebagai pembuka "Soal bisnis atau asmara?"


"Yang kedua."


"Kalian sudah putus, mau bagaimana lagi?" balasnya sambil menyamankan posisi duduknya didalam mobil.


Camila sendiri terkejut saat tau bahwa Lance berkencan dengan gadis dari sekolah puteri St.Louis, dan lebih terkejut lagi begitu tau keduanya putus dua bulan lalu setelah bersama selama satu tahun. Masalahnya mungkin terdengar sepele, tapi sangat fatal dalam sebuah hubungan.

__ADS_1


Keduanya mencintai bisnis dan pekerjaan, hingga pada tahap tidak mau lebih inferior dari pasangan. Keduanya saling menyukai, tapi saat mereka bersama mereka akan lebih sering adu mulut tentang bisnis dibandingkan membicarakan hal-hal manis tentang arah hubungan mereka.


Mereka cocok, saling menyukai, tapi akan menderita saat bersama.


"Yang akan kukatakan hanya satu, lepaskan. Tidak semua cinta pertama harus berakhir bahagia. Kalian mungkin sempurna untuk satu sama lain, tapi yang akan dominan kalian rasakan adalah sakit alih-alih bahagia. Karena kalian berdua sama kuat dan memiliki kepala yang juga sama batunya" lanjut Camila.


Lance tertawa kecil sebagai respon dan menjawab "Aku tidak bisa ... Tidak dalam waktu dekat."


"Pelan-pelan saja" ujar Camila sambil menepuk pelan pundak orang ini.


Pihak lain menjawab tanpa menoleh "Mn."


Menerima respon ini, camila ganti menepuk pundaknya sendiri "Kau boleh meminjam pundakku kalau ingin menangis, Lance."


"Aku laki-laki, aku tidak akan menangis."


Kau harap aku akan percaya dengan mata yang sama merahnya dengan rambutmu itu?


"Oh."


"Tapi aku akan tetap meminjam pundakmu, ngantuk" tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Lance mengistirahatkan kepalanya di bahu si gadis.


"Mn."


Camila tidak melakukan apa-apa saat Lance benar-benar menggunakan dirinya sebagai bantal, dia hanya diam dan merapikan rok tulle berwarna moka miliknya. Sesekali tangannya akan mengacak-acak rambut Lance yang gemetar di pundaknya, tampak menahan tangis walau dua bulan sudah berlalu. Untungnya sopir keluarga Aubrey tampak mengerti tanpa harus menunggu instruksi tuannya, mereka melaju dengan cepat menembus kegelapan malam.


Tidak ada satupun yang bicara, bahkan Lance tetap diam saat membukakan pintu untuknya. Camila juga tidak mengatakan apapun dan hanya membungkuk sebagai bentuk pamit, lalu masuk kedalam rumah. Memberi satu sama lain privasi, juga suatu bentuk untuk peduli. Camila tau bahwa Lance pasti akan merasa lebih baik saat mereka bertemu lagi, jadi dia juga tidak ambil pusing.


Mansion Blazemoche menjadi sunyi sejak Aiden sudah direstui, para pelayan memang masih menunggunya pulang. Tapi hanya itu, semuanya menjadi interaksi satu pihak. Yang mau tak mau membuatnya agak merindukan pelatihan militer, tempat dimana semuanya menjadi setara dan ramai tanpa perlu takut bangkrut hanya karena salah bicara.


Saat inilah ponselnya berbunyi.

__ADS_1


Menunjukkan panggilan dari Gabriel.


__ADS_2