Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Akhir


__ADS_3

Butuh waktu cukup lama untuk menghilangkan jerat kesadaran dunia. Baik itu pada Arianna, Frost, Camila, Gabriel, Fiona bahkan Lance serta Aiden. Bahkan setelah semuanya lulus dari perguruan tinggi dan mulai merintis karir masing-masing, kesadaran dunia masih belum mau melepaskan mereka.


Entah itu Camila dan Gabriel yang selalu bertemu Arianna saat kencan diam-diam, ataupun masalah yang selalu mengikuti protagonis wanita setiap kali Camila berada dalam radius dua puluh meter darinya.


Untungnya setiap orang yang terlibat sangat kooperatif dan menolak takdir yang dipaksakan oleh kesadaran dunia secara konsisten, secara bertahap mengurangi campur tangan kesadaran dunia dan bisa bebas memilih akhir bahagia masing-masing.


Dua bulan setelah lenyapnya pengaruh kesadaran dunia, artinya beberapa tahun setelah pemutusan hubungan Camila dan Frost, terlihat ada perjamuan lagi di kediaman Blazemoche. Yang membuat perbedaan terbesar antara perjamuan pertama dan yang kedua kali ini adalah keluarga Wundervei, dimana pewaris mereka bisa berdiri secara terang-terangan di sebelah pewaris Blazemoche.


Juga badai terbesar kedua dalam sejarah keluarga utama Harrison, bahwa kedua anak mereka tidak akan bisa melanjutkan garis keturunan dari keluarga utama Harrison karena seksualitas mereka. Camila dan yang lain tidak terkejut dengan Fiona yang secara terbuka mengakuinya, tapi kenapa Frost yang terkenal playboy justru mengikuti jejak kakaknya?


Camila melirik Frost dan Noah yang sedang berbincang-bincang dengan Chester dan Aiden, mungkin meminta pencerahan atau pengarahan mengenai akan dibawa kemana hubungan mereka. Keempatnya tampak rukun, apakah karena mereka berada dalam komunitas yang sama?


Padahal sebelumnya Camila hanya iseng menjodohkan Noah dan Frost untuk membalas dendam Gabriel, tapi kenapa akhirnya justru seperti ini?


Arianna yang sibuk mengambil makanan, diikuti oleh Raymond dengan wajah kakunya yang sibuk memelototi para Tuan muda yang menunjukkan minat mereka pada si protagonis wanita. Gadis itu tampaknya menyadari garis pandang Camila yang memperhatikan para pelangi disana, oleh karena itu dia mendekat dengan mulut penuh kue dan berkomentar "Tuhan mengabulkan doaku."


"Apa?" Sahut Camila.


"Aku menyumpahinya agar tidak pernah bisa punya anak dalam kehidupan ini, juga membalaskan rasa sakit Gabriel yang harus dihina sebagai penyuka sesama jenis padahal dia lurus!" Balasnya dengan mata berapi-api, jelas kebenciannya pada Frost masih belum lenyap.


Camila menatap Raymond yang tampak bingung di kejauhan, sepertinya sedang mencari gadis yang sedang memeluk lengannya saat ini. Gabriel juga mengetuk arlojinya dengan raut tidak sabar, mengisyaratkan bahwa keduanya harus menjauh saat ini juga. Tapi meski sudah memahami peringatan Gabriel, ia masih tidak bisa begitu saja mendorong Arianna jauh-jauh karena itu tidak sopan mengingat pihak lain masih bicara.


Arianna yang masih sama tidak pekanya seperti di tahun-tahun sebelumnya, melanjutkan pembicaraan mereka sebelumnya, yang masih berputar pada Frost Harrison "Sekarang, dia akhirnya mendapatkan karma. Meski aku kesal dia tampak bahagia bersama Tuan muda keluarga Evander, tapi setidaknya dia harus menahan mata menghina semua orang sampai akhir hayat karena cinta yang dipilihnya."

__ADS_1


Memang, masyarakat akan selalu menentang perbedaan sekecil apapun yang tidak sesuai standar mereka dengan alasan dosa. Padahal mereka mungkin sebenarnya iri, karena tidak bisa hidup lebih bahagia dibandingkan orang yang mereka cap sebagai pendosa.


Camila menghentikan lamunannya dan menanggapi protagonis wanita dengan sebuah pertanyaan "Kau berharap mereka berpisah?"


Itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya penasaran.


Namun Arianna justru menggeleng sebagai jawaban "Tidak juga, aku hanya benci padanya. Oleh karena itu dia bernafas saja sudah menyebalkan untukku."


Dia tidak perlu khawatir mengenai dua orang ini jika memang hanya itu alasan protagonis wanita "Masuk akal."


"Camila, sudah waktunya" Gabriel secara tiba-tiba sudah berada di samping keduanya dan menarik lembut Camila, menjauhkannya dari Arianna dan pergi dari sana.


Arianna menatap kepergian mereka dengan perasaan geli, kenapa juga Gabriel masih cemburu padanya soal Camila? Sampai sekarang ia masih tidak mengerti alasannya. Arianna berbalik dan memperhatikan Raymond yang tampak kebingungan, sepertinya sedang mencarinya.


Dengan rona samar di wajah, Arianna berjalan ke arah mana pria itu berada.


Tentu saja, Gabriel tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuan Camila.


Dia mendaratkan kecupan singkat di kening pihak lain dan bertanya "Apakah dingin?"


"Tidak juga" meski memakai gaun, tapi gaun yang dipilihkan oleh ibunya kali ini cukup tertutup. Jadi dia tidak perlu merasa kedinginan, Gabriel juga tidak harus melepas jasnya untuk menghangatkan tubuh Camila.


Camila tidak akan berbohong mengenai kondisi tubuhnya setelah insiden bom bertahun-tahun yang lalu, insiden yang sebenarnya diprakarsai oleh salah satu kaki tangan Rushia. Oleh karena itu Gabriel bisa dengan tenang melepaskan pelukannya meski sebenarnya merasa agak tidak rela, kali ini dia mulai memainkan jari-jari di kedua tangan gadisnya seperti biasa.

__ADS_1


Gadis yang tau betapa pria ini menyayanginya dan punya obsesi aneh pada jarinya beberapa tahun belakangan, hanya bisa tersenyum dan menarik pria ini kedalam sebuah ciuman lembut yang tidak menuntut. Hanya untuk dikejutkan dengan sensasi dingin di jari manisnya.


Camila berniat menjauhkan Gabriel sejenak untuk memastikan apa itu, tapi pihak lain justru menarik dagunya untuk ciuman kedua. Gabriel baru berhenti saat ia tanpa sengaja menggigit dengan agak terlalu keras kali ini, dia menjauhkan diri untuk memastikan gadisnya baik-baik saja sebelum kembali memeluknya dengan sayang.


Camila yang akhirnya bisa melihat benda apa yang dipakaikan Gabriel di jari manisnya, seketika tertegun dan membatu. Tidak bisa mengatakan apa-apa, ia bahkan tidak membalas pelukan pria ini.


Gabriel yang merasakan keterkejutan gadis yang sedang dipeluknya, sontak tertawa dan merajuk dengan nada setengah memaksa dan setengah bercanda "Apa? Jangan bilang setelah bertahun-tahun mengencaniku, kau tidak berniat untuk menikahiku?"


Camila berkedip beberapa kali sebelum akhirnya bisa membalas pelukan Gabriel, merespon dengan perasaan campuraduk "Tidak, bukan itu. Hanya saja kapan kau menyiapkan ini?"


Gabriel mengeratkan pelukannya dan bahkan sedikit memutar tubuh Camila dari posisinya saking gemasnya pada reaksi gadis ini, sebelum dia menjawab setelah mendaratkan ciuman di keningnya sekali lagi "Sebenarnya sudah cukup lama, hanya saja aku sengaja memilih hari ini secara khusus."


Mendengar kata-kata ini, Camila mengubur kepalanya dalam-dalam di dada bidang Gabriel. Terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya. Pria itu tampaknya memahami perilaku ini mengingat betapa arogannya Camila, oleh karenanya ia tidak memaksa pihak lain untuk cepat-cepat meresponnya.


Setelah berada dalam posisi ini untuk beberapa waktu, Camila baru bisa melepaskan Gabriel begitu berhasil mengontrol ekspresi di wajahnya agar kembali tenang seperti permukaan danau. Tapi telinganya yang semerah darah membohonginya.


Gabriel tersenyum dengan hati yang penuh oleh rasa manis, lalu mengeluarkan cincin serupa dan meletakkannya di telapak tangan gadisnya "Camila, pasangkan milikku."


Mereka saling menyukai, keluarga mereka sudah lama menyetujui, perusahaan mereka juga sudah menjalin kerjasama selama beberapa waktu. Mereka punya seumur hidup untuk dihabiskan bersama, ia tidak perlu terburu-buru meminta jawaban. Karena yang jelas, Camila tidak akan menolaknya.


Mereka pasti akan bahagia, meski dalam kisah yang asli bukan mereka protagonisnya.


Pada akhirnya second lead yang sebaik malaikat dan tidak pernah bisa memiliki protagonis wanita itu, berhasil menyingkirkan racun dari seorang penjahat yang menyakiti hati dan menyesakkan pikirannya selama bertahun-tahun. Keduanya tetap tidak berubah, masih menjadi entitas penjahat dan second lead di sudut pandang orang yang berbeda.

__ADS_1


Namun second lead itu sudah menjadi lebih manusiawi, sementara sang penjahat sudah kehabisan racunnya. Kali ini mereka hanya tinggal menunggu untuk menjadi tua bersama.


Kisahmu dan kisahku mungkin akan berakhir di tulisan ini, tapi kisah kita yang sebenarnya masih skan terus berlanjut.


__ADS_2