
Dia turun dengan langkah berat dari mobil militer yang membawanya, dengan tenang memperhatikan teman-teman seperjuangan yang bersamanya dalam pelatihan selama tiga tahun. Masing-masing dijemput oleh keluarga mereka yang kebanyakan berasal dari masyarakat menengah ke bawah, dengan senyum haru di wajah bangga mereka.
"Camila, sudah waktunya" Aiden tidak berbasa-basi begitu menemui adiknya yang baru pulang pelatihan, tidak seperti anggota keluarga orang lain.
Bagaimanapun juga, mereka bukannya tidak pernah bertemu selama tiga tahun ini.
Setidaknya Aiden menjenguknya setiap kali ada kesempatan, secara pribadi bergosip mengenai hal-hal yang terjadi selama dia tidak ada.
Mulai dari Gabriel Wundervei yang sudah berevolusi dari anak anjing menjadi serigala.
Lance Aubrey yang berubah dari monyet kecil menjadi kuda hitam di keluarganya.
Juga gosip miring tentang Frost Harrison, yang dikabarkan memiliki kedekatan tidak wajar dengan salah satu anak haram ayahnya.
"Kalau Arianna? Bagaimana dengan dia?" Tanya Camila, akan sangat menyusahkan jika sampai terjadi sesuatu pada protagonisnya.
Aiden melirik adik yang melepaskan topi militernya dan menjawab
"Bocah itu masih bekerja di restoran, orangtuanya beberapa kali membuat keributan. Untung saja manajer yang baru sangat menyukai perempuan itu."
"Manajer? Siapa?" Di tidak pernah tau ada bagian seperti ini di novel.
Pihak lain mengeluarkan jadwal kegiatannya untuk Minggu ini dari balik kursi pengemudi, menjawab "Hanya orang biasa, kau tidak perlu tau."
"Laki-laki?" Tanyanya, memastikan.
"Mn."
"Nama?"
Aiden mendengus kesal dan berhenti membolak-balik jadwal kegiatan "Sudah kubilang kalau dia cuma orang biasa."
"Namanya, Kak Aiden" tagih Camila.
Aiden tampak mengingat-ingat sambil masih mendengus kesal, tapi ada senyum penuh minat di wajahnya "Camila, kau benar-benar keras kepala. Namanya Raymond Floyd, pria kulit hitam yang sangat seksi. Sayang sekali dia lu-"
"Kuadukan kau ke Chester" potongnya.
Wajah Aiden sontak berubah kecut, lalu mulai menampilkan senyum lembut yang sangat tidak biasa "Adikku sayang, apa kau mau set perhiasan giok keluarga Xiao yang terbaru?"
__ADS_1
Camila mulai mencari kontak informasi Chester Harrison.
Aiden kembali coba membujuknya "Adikku sayang, bagaimana kalau ditambah set cangkir keramik dari keluarga Wang?"
Panggilan sudah mulai terhubung, hanya saja masih belum ada orang yang mengangkatnya.
Aiden mulai berkeringat dingin "Adikku sayang, bisakah kau tidak menelpon kakak iparmu?"
Camila tanpa ekspresi melirik Aiden dan mengaktifkan loud speaker, panggilan terhubung dan terdengar "Halo?"
Itu adalah suara Chester, masih lembut seperti yang ada dalam ingatannya.
Aiden memucat, gemetar begitu mendengarkan suara tersebut "Camila ..."
"Ada apa, Camila?" Suara Aiden tadi tertimpa oleh suara Chester diseberang panggilan.
Camila melirik wajah panik sang kakak dan membuka mulutnya untuk menyapa pihak di seberang panggilan "Kak Chester, aku sudah pulang dari pelatihan militer. Tidakkah kau akan menyambutku?"
Terdengar suara kertas dari seberang sana, mungkin Chester sedang membolak-balik dokumen di kantor "Pulang? Sudah tiga tahun?"
Nadanya terdengar bingung, penuh ketidakpercayaan bahwa waktu berjalan secepat itu.
Suara membalik kertas sontak berhenti, lalu terdengar jawaban "Tanyakan soal itu pada kakakmu."
Camila langsung bisa menebak "Memangnya kalian tinggal bersama? Sejak kapan?"
Chester terdengar kembali membolak-balik kertas di kantornya "Hm. Baru setengah tahun lalu."
Camila melirik Aiden yang masih menatapnya penuh waspada, tapi sorot matanya sudah tampak melunak begitu mendengar suara Chester.
"Di komunitas vila mana? Dekat perusahaan gabungan kalian?" Dia kembali fokus pada panggilan telepon.
Chester kembali menjawab tenang "Iya. Kapan-kapan mampirlah ke Amorist."
"Kenapa namanya aneh begitu? Bukankah ini perusahaan game, bukan parfum?" Dia kebingungan.
Sekali lagi, responnya adalah "Tanyakan pada kakakmu."
"Oh."
__ADS_1
"Camila, kau mau hadiah apa?" Chester balas bertanya.
"Kak Chester, bisakah kau memberiku hadiah dividen perusahaan kalian?" Camila menanyakan ini secara iseng.
Terdengar kekehan pelan di seberang "Tidak. Kalau kau cukup mampu, cobalah membelinya sendiri dari tangan para petinggi perusahaan kami."
"Cih."
"Kita memang keluarga, tapi bisnis tetap saja bisnis. Selain dividen, apa yang kau suka?" Tanyanya.
Camila menjawab tanpa sungkan "Uang dan perhiasan."
Chester tidak tau harus menangis atau tertawa mendengarkan adik ini "Kau ... Oke, akan kubawakan satu set dari Ch*nel."
"Aku tidak bilang seri pakaian" bantahnya.
"Bukankah aku yang harus membawa hadiah? Suka-suka akulah."
"Lalu kenapa masih menanyakan pendapatku? Kau benar-benar menjadi semakin mirip dengan kakak, menyebalkan."
"Akan ku anggap itu sebagai pujian. Ngomong-ngomong aku sibuk, akan kututup teleponnya. Selamat atas kepulanganmu, Camila."
"Mn. Terimakasih. Pastikan kau datang."
"Tentu."
"Sudah lega?" Sinis Camila pada sang kakak yang menahan tawa.
Aiden tersenyum kecil dan kembali ke postur rileks seperti sebelumnya "Sangat. Terimakasih sudah menutupiku."
Camila mengetuk kepala pria besar ini menggunakan sudut ponselnya "Kak Aiden, jangan selingkuh. Kalau kau jenuh, lebih baik cepat putuskan. Jangan mencari orang luar sebagai objek kebosanan."
Aiden langsung menatap adiknya, jelas tidak senang soal pertanyaan ini "Camila, kau memikirkan hal aneh apalagi? Memangnya siapa yang bosan? Aku juga tidak akan pernah selingkuh. Aku hanya memuji orang lain sedikit, ini normal."
"Heh."
"Lebih baik mati daripada selingkuh. Aku sudah menerima 50 papan saat mengaku, dan patah tangan serta kaki saat meminta restu. Bagaimana mungkin aku akan melepasnya?" Jelasnya.
"Bahkan jika tidak ada anak?" Camila langsung menanyakan pertanyaan yang sangat berpengaruh bagi mayoritas orang.
__ADS_1