
"Bagus, Camila!!" Lance menyentak tangan dua orang yang sedang memeganginya hingga terlepas, lalu berbalik dan memukuli keduanya hingga mereka tidak sempat melayangkan penghinaan seperti sebelumnya.
Arianna yang jatuh lemas ke tanah juga tersadar dan bergerak cepat untuk melihat keadaan Gabriel, panik "Bagaimana ini ... Kalau dia mati ... Kalau sampai mati ..."
Camila menepuk pundak anak ini "Arianna, dia tidak akan mati. Dia hanya pingsan. Mari bawa dia ke ruang kesehatan."
Lance membalik lembut tubuh Gabriel untuk memeriksa keadaannya, menemukan bahwa ada lebam biru di pipinya dan sudut bibir robek serta hidung yang berdarah. Dia berniat memeriksa bagian dalam mulut pihak lain, sebelum tiba-tiba teringat sesuatu.
Dia bicara pada para antek yang sedang berjuang untuk bangun, dengan jari yang menunjuk Frost "Kalian para antek, seret Frost ke ruang kesehatan juga."
"Camila, bagaimana jika mereka memutarbalikkan fakta lagi pada guru?" Tanyanya pada gadis yang tampak sedang mengusap punggung Arianna.
Gadis itu menjawab dengan tenang "Tidak apa-apa. Aku 'kan murid teladan, para guru tidak akan mempercayainya dengan mudah. Terlebih lagi ada bukti kamera pengawas."
"Arianna, kau bisa bangun?" Dia bertanya pada anak yang masih gemetaran panik ini.
Arianna sudah tampak pucat dan mengguncang tubuh sahabatnya "Gabriel ... Gabriel ..."
__ADS_1
Tau bahwa Arianna untuk sementara tidak bisa meresponnya, Camila menarik paksa gadis ini untuk berdiri menjauhi Gabriel dan berujar "Tidak akan terjadi apa-apa. Lance, bisa menggendongnya sendiri?"
Lelaki merah itu mengangguk "Bukan masalah, tapi bisakah setidaknya kau membersihkan hidung anak ini? Aku tidak mau ada darah di bajuku."
Arianna mengangguk cepat dan kembali mendekat untuk membersihkan hidung Gabriel menggunakan tisu, tangannya masih bergetar. Camila membiarkan saja, bagaimanapun keduanya sudah seperti keluarga.
Lance menarik lengan kiri Gabriel dan mulai meletakkan lelaki ini di punggungnya, gerakannya begitu pelan dan hati-hati.
Mendadak, Camila merasa hatinya gatal karena ingin bertanya padanya "Lance, kenapa tidak menggendongnya di depan?"
Gerakan Lance yang sedang menyesuaikan tubuh Gabriel di punggungnya sontak membeku, dia menjawab dengan agak sinis setelah memelototi teman kencannya ini "Camila, aku bukan Aiden. Lagipula yang kusukai itu kau."
Arianna masih diam tanpa suara di samping mereka, tangannya terus memainkan jari-jarinya sendiri dengan gugup. Sebelum memberanikan diri untuk bertanya "Camila, bagaimana jika orang tidak memihak kita meskipun sudah tau kita korbannya?"
Dua orang yang sedang berjalan langsung memusatkan atensi mereka pada Arianna, yang namanya barusan disebutkan dengan tenang menjawab "Aku bisa mengatasinya, Arianna."
Arianna menggenggam lembut tangan Camila, dan berujar dengan gemetar "Tapi entah kenapa ... Sepertinya aku selalu mendatangkan masalah untukmu. Setiap kali kita bersama, kita sangat sering berpapasan dengan Frost dan mengalami masalah."
__ADS_1
"Arianna ..."
"Ya?"
"Apa kau percaya pada takdir? Atau sesuatu seperti benang merah jodoh?" Tanya Camila, hanya mereka berdua yang tau jelas bahwa bukan masalah ini saja yang sedang mereka bicarakan.
Melainkan masalah sebelumnya.
Juga rasa sakit dari ending pertama kisah asli mereka.
Meski sudah disakiti sedemikian rupa di kehidupan pertama, Arianna tetap menjawab meski dengan ragu-ragu ".... Mn."
Camila berujar enteng padanya "Kalau begitu, salahkan saja takdir itu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."
Dia menunjuk jantung Arianna "Kalau kau mau menolak takdir, kau harus menaikkan nilai dirimu sendiri lebih dulu. Sampai kau punya kualifikasi untuk meneriakkan 'tidak' pada takdirmu yang asli."
"Tapi, Camila ... Bagaimana bisa seseorang menentang takdir?" Tanyanya.
__ADS_1
Camila mencubit wajahnya sekali "Kau tidak akan tau sebelum mencobanya, jadi lakukan saja dulu. Jangan membuat kesempatan kedua ini sia-sia, karena yang menjadi hamba Tuhan bukan cuma dirimu saja Arianna."
"Semesta terlalu luas hanya untuk memedulikan penderitaan satu orang. Hidup tidak bisa dikatakan sebagai hidup jika tidak ada rasa sakit" finalnya.