
"Kakak bilang begitu?" Camila bertanya sambil meneguk air di gelas, menatap lempeng lelaki perak di seberang sana.
Gabriel meletakkan buku filsafat yang barusan dia baca, menatap sosok Camila yang tampak lebih pucat dibandingkan saat terakhir bertemu "Iya. Tidakkah kau pikir bahwa keluargamu agak terlalu keras pada calon pewaris?"
Sosok kakak yang tak bisa diandalkan itu lantas melintas di benaknya. Membuatnya menghela nafas panjang "Aiden bohong padamu, Gabriel."
"Eh?"
Rautnya tampak serius seperti biasa saat dia menjelaskan persoalan ini "Ayah kami tidak akan melakukan ujian yang tidak berguna seperti itu. Paling dia hanya akan membekukan semua kartu, menyita beberapa fasilitas dan memintaku merangkak sendiri dari posisi terbawah di perusahaan Blazemoche."
Lelaki perak itu merapikan perban yang melilit kepalanya, tersenyum "Oh begitu? Syukurlah ... Kupikir dia sungguh akan melemparmu keluar negeri."
Camila hanya menggelengkan kepala "Tidak mungkin."
Melihat latar belakang Camila dalam panggilan video mereka, dia bisa menebak bahwa ini adalah balkon kamar pihak lain. Semuanya didominasi oleh warna kayu dan putih gading, senada dengan gaun rumah yang dipakainya. Tapi yang membuat dia khawatir saat ini adalah betapa pucat dan keringnya bibir Camila, seolah gadis itu sudah menjadi tahanan rumah berhari-hari "Jadi ... Bagaimana keadaanmu? Maaf, aku tidak bisa banyak membantu."
Mendengar pihak lain menanyakan situasi sebelumnya, dia memberikan senyum kecil dan menjawab tenang "Aku baik. Kau juga tidak perlu merasa bersalah, Gabriel. CCTV sudah menjadi bukti solid dari kejadian ini, Frost akan pergi."
"Begitu? Syukurlah ..." Dia mengulas senyum yang sangat cerah saat mengatakan ini.
Situasi lantas menjadi canggung.
Camila terus mengamati Gabriel tanpa mengatakan apa-apa, hanya berkedip dengan tatapan lurus. Sementara Gabriel yang ditatap sedemikian rupa oleh gadis yang dia suka, tentu saja menjadi salah tingkah dan memainkan jari-jarinya dengan pupil mata yang mengedar kesana-kemari.
"Bagaimana keadaanmu, Gabriel?" Dia akhirnya bertanya, bagaimanapun juga tidak pantas jika hanya Gabriel yang menanyakan kondisinya disaat lelaki itu terluka demi dia.
Benar saja, sepasang mata ungu cerah Gabriel berbinar sangat terang dan menjawab dengan sangat antusias "Aku baik! Terimakasih sudah mengkhawatirkanku."
Andai saja ini serial anime, Camila yakin dia bisa melihat sepasang telinga serta ekor besar yang bergerak-gerak di tubuh Gabriel.
Sembari menuang air, Camila mengekspresikan rasa terimakasihnya dengan tulus "Bagaimanapun juga, terimakasih sudah ikut campur waktu itu."
"Mn. Mana bisa aku melihatmu diperlakukan seperti itu?" Gabriel mengatakan ini dengan bangga, bahkan dadanya sudah agak membusung.
Dengan jantung yang nyaris meledak tentunya.
Jawabannya juga langsung mematikan suasana barusan, keduanya kembali diam dengan Gabriel yang bergerak gelisah juga Camila yang menatap lurus ke arahnya.
"....."
"...."
__ADS_1
"Jadi?" Tagihnya.
Gabriel menunjukkan ekspresi seolah dia tidak tau harus menangis atau tertawa, sebelum akhirnya tertawa "Kepekaanmu benar-benar mengerikan, Camila."
"Jadi?"
"Kapan ... Kau akan putus dengannya?" Gabriel menanyakan ini kembali.
Jujur saja, dia terkejut mendapatkan pertanyaan yang sangat langsung seperti ini "Siapa bilang kami akan putus?"
"Eh? Tapi ..." Pihak lain tampak tertegun.
Camila dengan tenang menjawab "Karena satu dan lain hal, aku tidak akan putus dengannya."
Gabriel meraih ponselnya lebih dekat dan menyipitkan mata pada Camila di dalam layarnya, sangat tidak senang "Jangan bilang kalau kau menyukainya?"
Dia sungguh tidak tau harus mengatakan apa lagi pada orang ini "Gabriel, sebenarnya apa yang setiap hari kau pikirkan? Pertama Arianna, sekarang Frost."
"....."
"Jangan cemburu secara membabi buta. Kau memang manis, tapi ini membuatmu tampak mengerikan."
"Aku tidak cemburu kok!" Meski membantah, otaknya menyimpan baik-baik kalimat dimana Camila memujinya manis.
Gabriel seketika menjauhkan ponsel dengan wajah merona, berdehem "Oke, sedikit."
"Sudah kuduga."
Keduanya kembali jatuh pada keheningan, dan Gabriel tetap jadi orang pertama yang memecahkan keheningan dengan memanggil
"Camila?"
"Ya?"
"Bisakah kau juga membuat janji kencan denganku?" Dia mengulas senyum manis andalannya.
Sayang sekali, tidak mempan pada Camila.
"Kurasa tidak."
Pihak lain seketika kehilangan senyum dan bertanya menyedihkan "Kenapa?"
__ADS_1
Karena kau adalah second lead, perasaanmu terlalu murni dan itu akan sangat membebani.
Itulah yang dia pikirkan, tapi mulutnya berkata
"Aku tidak mau kau lebih jatuh padaku, bagaimanapun juga kita tidak akan cocok."
Gabriel membela diri dengan menyeret sebuah nama
"Tapi Lance-"
"Perasaan Lance dangkal, setelah dia lega dia juga akan bersikap seperti biasa" Camila memotong ucapannya tanpa perasaan.
Lelaki perak itu membuka dan menutup mulutnya hendak merespon, tapi yang keluar hanyalah ".... Kau jahat."
Si gadis hanya mengangguk "Sama-sama. Kalau begitu istirahatlah, akan kumatikan. Sampai jumpa."
Tepat sebelum Camila menutup panggilan, Gabriel refleks berkata "Tunggu, aku ..."
"Ya?"
Dia menelan kembali kata-katanya "Maksudku ... Kau juga, Camila. Sampai jumpa."
Panggilan terputus.
Gabriel langsung melempar ponselnya ke sisi lain ranjang, menarik paksa perbannya hingga lepas sebelum merosot di kasur. Dadanya bergerak naik-turun dengan sangat kentara, lengannya juga dia gunakan untuk menutupi matanya saat dia mulai bergumam pada diri sendiri
"Tidak apa, pelan-pelan saja."
"Benar, pelan-pelan saja."
"Ada banyak waktu."
Dia mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu menatap matahari yang masih bersinar terang diluar jendela, masuk dan menerpa tubuh serta ruangannya yang serba putih. Gabriel kembali mendapatkan senyumnya, berpikir bahwa matahari siang ini lebih hangat dibandingkan biasanya dan mendapatkan pemikiran positif.
"Kalau bukan hari ini, maka besok."
"Kalau bukan besok, maka besoknya lagi."
Mendengar apa yang keluar dari mulutnya sendiri, dia tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya tertawa sendirian "Hah ... Ini konyol."
"Kenapa aku jadi seperti ini?" Dia menggeleng singkat dan kembali menatap kejauhan cakrawala.
__ADS_1
"Camila, kau harus bertanggungjawab."