Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Keinginan Camila selama ini


__ADS_3

Meski merasakan konflik serta krisis identitas, 'Camila' masih bisa mengendalikan ketenangannya dan menatap Aiden "Kurasa itu adalah hal yang bisa kita cari tau nanti, untuk saat ini fokusnya adalah Arianna dan Frost."


Semua orang memiliki pemikiran yang berbeda, tentu saja. Tapi memiliki pemahaman diam-diam bahwa memang dua orang inilah prioritas mereka. Lance tampak memikirkan sesuatu sebelum melambaikan tangannya ke arah krang-orang ini, bertanya "Aku punya pertanyaan dan kurasa 'Camila' tau jawabannya."


"Apa?" respon si gadis, dengan lambat melepaskan diri dari cekikan Fiona tapi tidak berduri jauh dari si wanita.


"Kalau dari kisah yang kau kenal sebagai akhir bahagia adalah Frost dan Anna yang bersama, apakah ini terjadi karena mereka melakukan yang sebaliknya saat ini? Menimbulkan sesuatu seperti efek kupu-kupu?" tanya Lance.


"Tepat. Dan aku berpikir bahwa karena Arianna adalah pihak yang paling disayang oleh kesadaran dunia, maka bukankah kita bisa mengganti peran Frost dengan orang lain selama Arianna tidak keberatan?" 'Camila' akhirnya mengatakan rencananya dengan jujur.


Orang-orang ini tidak bodoh, mereka langsung tau apa maksud semua perkataan sebelumnya begitu ia menyebutkan tentang 'kesadaran dunia'.


"Kau benar. Tapi kenapa harus? Bukankah lebih cepat jika langsung membiarkan mereka bersama?" Balas Lance, tidak mengerti.


Gabriel bangkit dari posisinya dan menepuk-nepuk debu yang menempel di jas sekaligus celananya, lalu menatap Lance dengan cemberut "Tidak bisa, Lance. Karena jika kita membiarkan mereka bersama, maka tragedi Anna dan Frost sebelumnya pasti akan terulang. Ditambah, aku dan Camila harus mati untuk memenuhi akhir bahagia mereka. Blazemoche dan Wundervei juga harus menjadi tumbal."


Fiona menatap 'Camila' dengan rumit, lalu ikut buka suara "Mencari alternatif akhir bahagia lain tanpa harus mengorbankan siapapun, 'Camila' benar-benar sesuatu. Jangan bilang bahwa kau mendukung suksesiku di Harrison demi niatmu yang satu ini?"


Yang ditanya mengangguk membenarkan.


"Kalau begitu rencanamu yang membuatku diakui keluargaku juga demi ini?" Lance ikut bertanya.


Ia sekali lagi mengangguk.


Aiden juga menatap wajah adiknya saat bertanya "Apakah kau mendukungku mati-matian dengan Chester juga karena ini?"


'Camila' sekali lagi mengangguk, juga menambahkan dengan raut menyayangi seolah dia memang hanya ingin Aiden bahagia "Lebih baik bersama pria yang kau cintai dengan jujur dan menyingkir dari pemantik api seperti Blazemoche, dibandingkan harus menjadi pewaris dan harus memerangi Harrison saat ada sesuatu yang terjadi karenaku."

__ADS_1


Mendengar ini, mata Aiden menjadi basah. Sepertinya dia kembali teringat dengan Chester yang sudah 'tiada' dibawah sana. Keduanya sudah saling kenal sejak lama, dan sama-sama memperbaiki nilai diri masing-masing agar cocok untuk satu sama lain. Keduanya tentu pernah bertengkar, bahkan pernah saling pukul mengingat mereka sama-sama pria. Tapi bukan berarti pertengkaran kecil semacam itu bisa membuat Aiden menyesali keputusannya untuk memilih Chester, demikian pula sebaliknya.


Chester dikeluarkan dari keluarga cabang kedua Harrison demi dia, Aiden dicoret dari kandidat pewaris Blazemoche karena seksualitasnya dan bahkan dilarang menangani urusan bisnis Blazemoche sekecil apapun itu.


Keduanya mengorbankan segalanya agar bisa bersama, bahkan memulai bisnis mereka sendiri demi membuktikan bahwa mereka masih bisa bahagia meski tanpa bantuan dari kekayaan murni keluarga mereka.


Bagaimana bisa Aiden melepaskan Chester setelah mereka melewati itu semua bersama?


Dia mencintainya, sangat mencintainya. Mereka bahkan baru melangsungkan upacara kecil dan tinggal bersama setengah tahun yang lalu, setelah bertahun-tahun menerima caci maki keluarga lain dan merasakan kesulitan memulai segalanya dari nol tanpa bantuan keluarga sedikitpun.


Meski menderita, dia tidak pernah merasakan sedikitpun kepahitan karena ada Chester di sisinya. Tapi sekarang ....


Aiden menghela nafas panjang dan berujar penuh tekad "Aku pasti akan mengembalikan semuanya seperti semula."


'Camila' tersenyum menatap kakaknya.


Pertanyaan ini membuat fokus semua orang teralih pada pria berambut perak disana. Yang berdiri dengan wajah terdistorsi dan memancarkan aura yang sangat tidak mengenakkan. 'Camila' sontak merasa waspada. Gabriel adalah second lead, kesadaran dunia pasti menyayanginya sama seperti Frost si tokoh utama. Jika karakter Gabriel yang harusnya menyandang julukan murni dan lembut sampai menghitam, konsekuensi apa yang harus mereka ambil kedepannya?


Batin Gabriel bergolak, emosinya campur aduk dan kepalanya kacau. Camila sepertinya sudah memperhitungkan segalanya, mulai dari hal paling kecil dan secara berurutan menjalankan rencananya demi membuat Arianna bahagia.


Arianna .... Sejak bertahun-tahun lalu, fokus Camila selalu menjadi Arianna ...


Pria itu meraih pergelangan tangan 'Camila' dan mulai mengkonfrontasinya dengan tatapan mata yang memancarkan kesakitan murni "Camila, kau sudah melakukan banyak hal untuk alternatif akhir yang bahagia. Tapi sederhananya, kau hanya mengaspal jalan hidup Anna dan bahkan menanam bunga di sekelilingnya. Kau ditendang ke barak militer, nyaris dikeluarkan oleh pihak akademi, menerima pukulan papan panatua Blazemoche, menjadi korban bom pihak oposisi Harrison, kelaparan, semua itu hanya untuk apa yang kau sebut 'akhir yang bahagia'? Jangan membuatku tertawa!"


Dia tidak pernah melihat pria ini sampai semarah ini "Gabriel-"


"Apa kau sadar bahwa akhir yang bahagia itu hanya berlaku bagi Anna saja? Memang orang-orang di sekitarmu juga ikut mendapatkan kebahagiaan mereka. Anna dan pasangan barunya, Fiona dan perusahaan Harrison, Aiden dan Chester, Lance dan pengakuan keluarga Aubrey, bahkan Frost dengan anak haram Harrison bernama Rushia itu. Lalu bagaimana denganku? Di akhir bahagia milikmu itu ... Bagaimana denganku? Dimana tempatku?" Tanyanya, setengah sedih dan setengah memaksa.

__ADS_1


Meski diliputi amarah dan suaranya yang meninggi, tapi pria ini sama sekali tidak mengeratkan genggaman tangannya. 'Camila' yang sadar bahwa dia masih bisa menyelamatkan karakter murni orang ini lantas kembali buka suara "Gabriel, aku-"


Gabriel langsung memotong ucapannya dengan sesak "Aku berputar di sekelilingmu dan mengikutimu selama bertahun-tahun karena aku menyukaimu, tapi kenapa aku justru harus mendengar sesuatu seperti ini berulang kali? Kau jelas tau perasaanku, tapi selain kencan kita waktu itu kau terus saja mempermainkanku! Harusnya kau mengaku saja saat dulu aku bertanya tentang perasaanmu pada Anna!"


Tidak, tentu saja dia tidak pernah memikirkan Gabriel seperti itu. Dia justru ...


'Camila' dengan cepat menangkup kedua sisi wajah Gabriel, menatapnya lekat-lekat tanpa mengatakan apapun.


Gabriel menutup matanya, merasakan kehangatan di kedua sisi wajahnya dan menggenggam kedua telapak tangan gadis ini. Wajahnya tampak tenang, tapi 'Camila' bisa merasakan betapa dinginnya tubuh Gabriel dan bahwa tubuhnya bahkan sudah mulai gemetar.


Apakah ini ulah kesadaran dunia? Atau justru menjadi penanda runtuhnya karakter Gabriel?


Saat satu dua tetes air mata jatuh dari sepasang mata cantik Gabriel yang selalu berkilauan, pria itu bertanya "Camila, apa kau setidaknya menyukaiku juga seperti aku menyukaimu?"


"Aku menyukaimu, Gabriel" Camila menjawabnya tanpa ragu.


Namun Gabriel justru terkekeh dengan air mata di seluruh wajahnya "Pembohong. Kau tidak menyukaiku, kau hanya menyukai seberapa banyak aku menyukaimu."


'Camila' membuka mulutnya, tapi dia tidak bisa memilih satupun kata-kata yang tepat untuk meredakan amarah Gabriel. Tidak seperti saat dia merencanakan segalanya dengan matang sejak awal, Gabriel adalah satu-satunya yang membuat kepala dan perasaannya berantakan.


Dia tidak bisa memperhitungkan satupun gerak-gerik Gabriel, bahkan perasaan pria itu padanya saja sudah sangat diluar rencana.


Gabriel selalu setenang permukaan danau yang jernih, tapi perasaan pria itu padanya begitu membakar dan berapi-api.


Pria ini sudah mengacaukannya sejak dia mengatakan perasaannya bertahun-tahun lalu.


Dengan telinga yang lambat laun terasa panas, 'Camila' dengan lembut mendaratkan ciuman di bibir Gabriel untuk membungkamnya.

__ADS_1


__ADS_2