
"Kau mengusikku hanya untuk ini?" sinis Frost pada gadis yang melambaikan selembar kertas padanya. Entah kenapa sejak beberapa waktu lalu, ada saja orang lain yang memberikan kertas berisi nomor ponsel padanya.
Gadis itu sudah terbiasa dengan betapa asamnya sikap Frost dan tidak ambil pusing "Ya."
Pria yang dulunya brengsek ini tiba-tiba merasa sakit kepala pada perkembangan situasi dan arah hubungan mereka yang aneh ini "Camila, kau bisa menimbulkan kesalahpahaman pada pandangan orang lain. Terlebih lagi anjingmu sedang menikamku dengan tatapannya dari balik tiang itu."
Belum lama setelah mereka memutuskan pertunangan, tapi Camila sudah beberapa kali menemuinya di tempat umum untuk mengenalkannya pada seseorang yang baru. Belum lagi, akan selalu ada Gabriel yang mengekori Camila dengan gerak-gerik yang keduanya anggap tidak mencolok.
Ditambah, semua orang-orang Camila secara kebetulan kuliah di tempat yang sama dengannya. Entah itu Lance, Arianna, Gabriel, dan tentu saja Camila itu sendiri. Sungguh kebetulan yang menyebalkan.
Camila menoleh ke arah yang dimaksud, dan Gabriel langsung melambaikan tangannya dengan wajah merona. Iabalas melambaikan tangannya sebelum fokus kembali pada mantan tunangan ini "Abaikan dia, aku hanya ingin mengenalkanmu pada teman yang kudapatkan dari militer saja."
Pihak lain mendecih "Aku tidak punya tenaga ekstra untuk ini, lupakan saja."
"Frost, kau tidak harus menutup seluruh kesempatan hanya karena tidak bisa melupakan" cecar Camila, membuat pria yang sebelumnya hendak berlalu pergi lantas urung dan menatap selembar kertas di tangan si gadis.
Dngan malas, ia mengambil mertas itu pada akhirnya "..... Terserahlah."
"Kau menerimanya? Dia sangat baik dan cantik, tipemu" Camila mengatakan ini dengan mata berbinar senang yang sangat mencurigakan, tapi masih tetap dengan wajah tanpa senyumnya.
Frost membalas dengan setengah hati "Tidak tau, tapi berikan saja nomornya padaku dan enyah dari sini."
"Oke, ngobrol yang baik dengannya ya."
Pria itu mengiyakan sambil berlalu pergi "Mn. Sekarang enyah sana."
__ADS_1
Setelah memastikan pria itu tidak membuang kertas itu, barulah Camila menyapa Gabriel yang masih terus menunggunya dengan cemberut di wajah putihnya.
"Gabriel, ayo pulang" ajaknya, sambil menarik sedikit lengan baju si pria.
Gabriel melirik sekeliling mereka, sebelum akhirnya menggenggam kelingking kiri Camila dan merajuk "Aku cemburu."
Gadis itu balas menggenggam tangan Gabriel yang bersarang di salah satu jarinya, menanggapi dengan senyum kecil "Aku tau, karena itu ayo cepat pulang. Aku akan mentraktirmu makan malam."
Gabriel menatapnya dengan penuh keraguan tanpa mengatakan apa-apa "...."
Camila segera menyadari apa arti tatapan dari prianya, dan membalas dengan "Akan kupastikan kita tidak akan bertemu Arianna."
Bagaimanapun juga kesadaran dunia ini masih mendukungnya untuk membentuk pelangi bersama protagonis wanita, jadi keduanya sering sekali bertemu secara tidak sengaja. Entah saat dia sedang diam-diam berkncan dengan Gabriel, makan malam, atau bahkan sekedar berjalan-jalan, Arianna akan selalu ada disana dan bergabung dengan mereka.
Kalau Camila tidak bergerak, bisa-bisa Gabriel akan menggantikannya sebagai penjahat dan memusuhi Arianna demi memperebutkannya.
Mendengar kesungguhan dalam perkataan gadisnya, Gabriel dengan riang berseru "Oke!"
...........
Frost menatap ponsel barunya yang bergetar dan menyala karena terdapat pesan baru, menunjukkan nomor lain selain keluarga dan teman anjingnya.
[Salam kenal, Frost. Aku teman mantan tunanganmu saat di militer, aneh ya memperkenalkan diri dengan cara seperti ini?]
^^^[Tidak apa-apa, salam kenal. Aku Frost Harrison, 18 tahun.]^^^
__ADS_1
[18? Muda sekali, aku jauh lebih tua darimu. Tapi kau bisa memanggilku Noel.]
^^^[Kau bisa memanggilku Frost, salam kenal juga.]^^^
Wanita ini memiliki selisih umur yang agak jauh dengannya, yakni lima tahun. Awalnya Frost merasa bahwa Camila memang berniat membuatnya kesal dengan mengenalkannya pada tante-tante, bagaimanapun juga dia memang tidak pernah menyukai Camila sejak awal. Camila itu sangat licik dan menyebalkan, makanya dia berpikir bahwa teman gadis itu juga pasti akan satu tipe dengannya. Tapi anehnya Frost bisa mendapatkan kenyamanan dari wanita ini, bahkan perasaan nyaman itu jauh lebih banyak dibandingkan saat dia menyukai Arianna atau pada saat ia jatuh cinta pada perhatian Rushia.
Caranya berkomunikasi agak mirip dengan Fiona, tapi orang ini meninggalkan kesan sebagai pribadi yang lembut seperti Rushia, kejujuran yang kadang mengesalkan seperti Camila, sekaligus kebaikan yang mirip dengan Arianna. Sosok Noel ini merupakan gabungan dari setiap perempuan yang dekat dengannya, dan ini membingungkan Frost akan apa yang harus ia rasakan soal ini.
Suka pada Noel, tapi bagaimana jika wanita ini juga hanya mengincar statusnya sebagai Harrison seperti Rushia? Bagaimana jika dia hanya ingin memainkannya sebagai peliharaan seperti Camila? Bagaimana jika dia akan berakhir seperti Arianna?
Dia takut, oleh karena itu dia tidak berani menunjukkan sedikitpun rasa antusias. Frost membangun dinding besar diantara mereka untuk melindungi dirinya. Bahkan dari sepuluh pesan yang dikirim Noel, dia hanya akan membalas dua. Dia berharap dengan ini, Noel akan mundur pelan-pelan dan kehilangan minat padanya.
Namun Noel tidak pernah mundur, dan ini membuatnya merasa hangat tapi juga jauh lebih takut.
Saat pihak lain menyadari rasa takut Frost pada langkah selanjutnya dari hubungan mereka, dia sebisa mungkin juga menjadi lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata agar tidak kehilangan orang ini. Frost jelas bisa merasakan betapa seriusnya wanita ini padanya, tapi dia tetap tidak bisa melangkah lebih jauh hanya karena sebatas memiliki sedikit ketertarikan padanya.
Mereka memiliki hobi dan minat yang sama tentang teknologi dan tren, juga memiliki selera yang sama tentang makanan. Bahkan Noel mengajarinya sedikit tentang cara meretas komputer, Fiona serta Ezili yang melihat bahwa Frost sudah mulai bangkit dari keterpurukannya, jelas merasa senang pada hobi baru orang ini. Tapi sayangnya tak lama kemudian sifat usil Frost yang juga kembali, membuatnya secara iseng meretas komputer ibu dan kakaknya, dan membuat Frost diceramahi oleh ibunya karena tanpa sengaja menghapus beberapa perjanjian penting dengan perusahaan lain. Komputer Frost lantas disita sejak saat itu.
Untung saja dia masih diperbolehkan memegang ponsel, jadi keduanya tetap selalu terhubung melalui pesan teks.
Noel adalah wanita yang sangat lembut, setiap kali Frost menceritakan keluh kesahnya maka pihak lain akan menghibur dan juga memberikan solusi padanya. Saat mendengar kabar bahwa Frost berbuat salah atau bertengkar lagi dengan Camila, Noel juga akan mengambil posisi sebagai penengah dan tidak serta merta membelanya.
Perilaku semacam ini selama kedekatan mereka, meski itu hanya tiga bulan tapi sudah cukup untuk sedikit menggerakkan Frost. Pria itu akhirnya mengatakan alamatnya, dan mendapatkan fakta bahwa secara kebetulan mereka masih tinggal di kota yang sama.
Memutuskan bertaruh, Frost akhirnya mengajak Noel untuk bertemu.
__ADS_1