Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Lupa


__ADS_3

"Jadi?" Tagih Aiden begitu mereka memasuki kediaman keluarga mereka.


Camila membuat isyarat menggunakan kedua jarinya "Singkatnya, 12 persen dividen."


Aiden mencegat seorang pengurus rumah dan menunjuk wajah pucat Camila, gadis pengurus itu segera mengangguk paham dan melenggang pergi. Barulah Aiden melanjutkan "Keluarga kita tidak kekurangan uang, Camila."


"Memang. Tapi bukankah bagus jika kita memiliki lebih banyak uang?" Entengnya, berniat naik ke kamar.


Chester segera menarik lembut pundak pihak lain dan mendudukkannya di sofa ruang TV  "Terlibat dalam konflik internal perebutan tahta, bukanlah tindakan yang bijaksana."


Camila meraih remot dan menjawab "Aku butuh sedikit drama."


"Bukankah aku dan Aiden sudah cukup drama di matamu?" Cengirnya dengan tangan yang menepuk punggung Aiden.


Camila seketika langsung facepalm "..... Tapi itu drama kalian, sementara posisiku adalah penonton."


Chester hanya tersenyum senang "Camila memang agak lain."


Gadis itu mengangguk satu kali "Terimakasih."


"Lalu bagaimana dengan Gabriel? Kudengar anak cantik itu terluka karena melindungimu?" Chester kembali bertanya.


"Skrip sinetron darimana itu?" Dia balas bertanya dengan kening berkerut.


"Jadi bukan?" Respon ini tidak hanya mengejutkan Chester, tapi juga Aiden yang barusan sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Yang ditanya juga hanya memberikan jawaban suam-suam kuku "Tidak sepenuhnya benar."


Aiden menepuk pundak adiknya, lalu menepuk pundak lelaki di sisinya "Kalau begitu kita tetap harus membesuknya. Chester, mau ikut? Lagipula sebentar lagi waktunya teh sore."


"Tapi akan mencurigakan jika kita langsung menuju kediaman Wundervei setelah kau membuat drama konyol dengan Frost, banyak mata mengawasi kita sekarang" Chester memberikan pendapat.


Camila pada awalnya juga mempertimbangkan kemungkinan ini "Untuk menguatkan akting, kurasa aku harus terkurung setidaknya 48 jam tanpa kontak ke dunia luar. Langkah selanjutnya mungkin agak merepotkan, tapi tidak masalah."


"Kau akan membuat dirimu kelaparan?" Sebagai seorang kakak, jelas Aiden menolak gagasan ini.


Sadar bahwa niatnya akan mendatangkan masalah, Camila menjawab pertanyaan tersebut sambil menggelengkan kepalanya "Tidak. Aku hanya akan makan satu kali selama masa kurungan, dan minum banyak air. Kalau belum cukup, aku akan berdandan sesakit mungkin begitu berkeliaran."

__ADS_1


"Aku tidak menyetujui ide ini" tegas Aiden.


"Benar, Camila. Bagaimanapun juga, lambungmu lemah. Ini sangat tidak aman" Chester juga ikut menambahkan.


"Kalau begitu ... Bagaimana jika seperti ini? Aku hanya akan mengambil seporsi makanan, tapi aku akan membaginya untuk tiga kali waktu makan?" Celetuk si gadis.


"Itu agak ... Mengerikan. Tapi setidaknya lebih baik dibandingkan membuatmu kelaparan" Chester tampak menimbang-nimbang ide barusan.


Namun Chester masih bersikukuh menolak ide si adik dramatis ini "Tidak bisakah kau hanya berdandan sakit dan tidak sungguhan membuat dirimu sakit? Lagipula bagaimana jika Fiona membohongimu? Jangan lupa, dia bermarga Harrison."


"Chester, kau juga Harrison" Camila mengingatkan dengan ramah, tapi matanya jelas menyiratkan pandangan betapa konyol 'teman' kakaknya ini.


Yang diingatkan lantas mengingat fakta canggung ini. Tidak ingin situasi menjadi lebih canggung lagi, dia segera mengubah topik pembicaraan "...... Kalau begitu coba kau cek email, siapa tau dia sudah mengirimkan sesuatu."


Malas memperpanjang masalah, Camila dengan ringan setuju dan mengecek email masuk di ponselnya "Dia benar-benar mengirimkannya."


Dia mengatakan itu sambil melambaikan ponsel ke hadapan dua lelaki lain, yang hanya bisa menangkap akun email bisnis terverifikasi milik Fiona Harrison.


Aiden menghentikan pergerakan tangan adiknya dan memastikan bahwa dia tidak salah lihat, dia baru mengusulkan ide begitu tau ini asli "Kirim salinannya padaku, biar kuperiksa juga. Jangan tanda tangani lebih dulu, tunggu setidaknya satu minggu. Periksa lima kali, lalu minta sekretaris ayah untuk ikut memeriksa, kemudian minta tim IT perusahaan mengecek keaslian dokumen."


Jelas bahwa dia akan menyimpan file ini sendiri, tidak berniat memberikannya pada Aiden. Seolah bisa menebak pemikiran licik sang kakak yang mulai memercikkan perselisihan, untuk mengamankan tahta di Blazemoche.


Aiden juga bisa menebak pemikiran adiknya, jadi dia tidak memperpanjang masalah. Aiden dengan cerdas mengalihkan topik "Ngomong-ngomong ... Tumben sekali aku tidak melihat teman kecilmu itu."


"Teman kecil?" Tanya Camila.


Chester sontak menengahi keduanya "Yang rambutnya panjang, wajahnya standar."


"Arianna?" Beo Camila.


"Iya, mana dia?" Cecar Aiden.


"......."


"Camila?" Dia menjadi bingung begitu sang adik tidak menjawab.


Raut wajah Camila saat ini benar-benar blank, tampak linglung "Aku melupakan mereka."

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, seorang gadis dan lelaki berambut merah sedang jongkok di tempat parkir. Lance membuang ranting yang dia gunakan untuk menggambar B@ygon "Dia melupakan kita."


Arianna menghembuskan nafas panjang, mencoba berpikir positif "Mungkin kak Aiden terlalu mengkhawatirkannya dan menyeret Camila pulang. Bagaimanapun juga, dia tampak pucat."


Lance langsung berdiri dan menepuk-nepuk celananya begitu mendengar ini "Kalau begitu mari kita juga ke kediaman Blazemoche."


Dia mengangguk lalu mulai menuntun sepedanya, mengikuti Lance menuju gerbang untuk menunggu sopir keluarga Aubrey.


"Masukkan saja sepedamu ke bagasi mobilku, lagipula itu sepeda lipat 'kan?" Tawarnya.


"Eh? Tidak apa-apa?" Jujur saja dia terkejut ditawari seperti ini. Karena dia pikir Lance hanya akan baik pada Camila, mengingat lelaki ini menyukai gadis itu.


Lance menanggapinya dengan santai "Tenang, mobilku juga sudah waktunya untuk dicuci."


"Terimakasih! Tapi ... Bisakah kau tidak mengantarku sepulangnya nanti?" Dia masih agak sungkan menanyakan ini. Mereka memang teman, tapi Arianna tidak sedekat itu dengan Lance.


"Loh kenapa? Bukankah bagus kalau sekalian saja?" Tanyanya.


Arianna menggeleng sambil tersenyum "Tidak apa-apa, aku mau mampir ke suatu tempat lebih dulu. Akan merepotkan kalau harus membuatmu menunggu."


Lance juga tidak ambil pusing "Bukan masalah kok."


"Ini pasti soal Gabriel 'kan?" Tanyanya kemudian.


Arianna tentu menjawab jujur "Mn! Bagaimanapun juga ... Lukanya pasti parah."


"Kudengar kalian teman sejak kecil?" Lance merasa bahwa ini adalah sesuatu yang menarik untuk ditanyakan, mumpung hanya ada mereka berdua disini.


"Iya. Aku mengenalnya setelah dia membantuku karena aku tersesat di komunitas orang berpunya" Arianna tampak mengenang masa itu kembali, senyumnya benar-benar terlihat hangat.


"Pasti menakutkan untukmu saat itu" manik Lance berkilat saat mengatakan ini.


"Iya, saat itu aku masih SD. Mungkin kira-kira sewaktu kami berumur tujuh tahun?" Arianna sendiri tidak yakin, bagaimanapun juga itu kejadian yang sangat lama.


Dan pembicaraan ini membuat Lance gatal untuk bertanya secara langsung "Anna, apakah kau menyukai Gabriel?"


Mendengar pertanyaan itu, wajah Arianna seketika merona.

__ADS_1


__ADS_2