Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Pelangi pelangi ~


__ADS_3

Aiden mengangguk sebagai balasan dan menatap Arianna yang tampak penuh lebam, keningnya berkerut


"Ada apa?"


Camila merasa bahwa dia tidak punya hak untuk mengungkit luka orang lain, jadi dia hanya menggeleng dan bertanya


"Kakak, apakah kau tau komunitas mana yang sedang menjual rumah? Yang jauh dari sini."


Aiden tidak lagi peduli pada alasan teman adiknya terluka, bagaimanapun juga dia bisa menebak keseluruhan cerita hanya dengan pandangan sekilas dan pertanyaan Camila. Dia tampak berpikir sejenakdan mengangguk


"Memang ada, 800 juta per unit."


Arianna melongo di tempat, lalu menggeleng panik


"Tidak! Tidak! Aku masih terlalu muda untuk memiliki rumah sendiri! Agen properti tidak akan mengizinkan karena aku tidak punya wali! Ditambah, aku tidak punya uang sebanyak itu!"


Camila membuka akun keuangan miliknya


"Jangan khawatir, aku punya uang."


Arianna menarik tangan Camila dan menatapnya dengan shock


"Camila, bagaimana bisa kau mengatakan ini? Itu uangmu."


Pihak lain mengutak-atik ponselnya untuk proses


"Kalau begitu akan kutransfer dan itu akan jadi uangmu."


"Tidak! Aku menolak! Jangan lakukan ini!" Pekiknya.


Gabriel yang tersisih, kini tersadar dan melambai pada Camila


"Camila, keberatan untuk bicara sebentar?"


Dia sudah tau apa yang akan dikatakan oleh second lead, tapi memutuskan untuk mengikuti karena tidak mau berasumsi sendiri. Keduanya berjalan menuju pohon apel yang ada tidak jauh, meninggalkan Arianna dan Aiden sendirian.


"Anna tidak akan mau dibantu secara finansial" lelaki perak ini buka suara tiba-tiba.


Camila hanya melambaikan tangannya dan membalas


"Aku tau, karena itulah akan kuberi dia pekerjaan."


"Dengan asrama karyawan?"


Gadis itu mengernyit


"Kau bodoh ya? Hanya pegawai kantoran yang memiliki privilege seperti itu. Jika tidak mau tampak membantunya secara kentara, jangan memberikan pekerjaan yang terlalu bagus apalagi dengan ijazah dan skillnya saat ini. Aku memang temannya, tapi bisnis adalah bisnis."


Gabriel mengerti penjelasan rinci ini, lalu memutuskan untuk membantah


"Kalau semudah itu maka aku juga bisa membantunya, tapi Anna selalu menolak."


Manik ungu gelap Camila berkilat


"Gabriel, kau ini laki-laki."


Pihak lain kebingungan, bukankah sudah jelas?


"Ya ... Terus?"


Dia berujar

__ADS_1


"Dalam hatinya Arianna pasti sangat ingin menerima tawaranmu, tapi orang lain akan mencoreng nama baiknya dan mengatakan bahwa dia adalah pacarmu."


Gabriel berkedip beberapa kali dan menjawab tanpa berpikir


"Kurasa tidak masalah, dengan status tersebut aku juga bisa melindunginya dari laki-laki busuk seperti Frost Harrison."


Camila menusuk bahunya menggunakan telunjuk


"Tapi Arianna tidak mau menyeretmu  kedalam lumpur bersamanya, bodoh. Kau kira seperti apa stigma masyarakat pada gadis biasa yang mengencani pria kaya? Dari pihak pria masyarakat akan bilang bahwa cinta itu buta, tapi dari pihak wanita masyarakat akan bilang bahwa dia punya 'kemampuan' dan sudah 'bekerja keras'. Kau mau Arianna menanggung ini lagi? Tidak cukup dengan Frost Harrison?"


Gabriel seketika merasa bahwa dia sangat bodoh karena tidak menyadari ini, standar ganda masyarakat terhadap wanita.


"Biar aku yang menjaganya."


Kalimat barusan seperti guntur di siang hari bagi Gabriel


"Hah?"


Camila mengibaskan rambut cokelat muda sebahu miliknya dengan senyum simpul


"Aku bisa menjadi tulang punggung Arianna, dan kau bisa menjadi jantung untuknya. Mengerti?"


Gabriel tergagap dan makin kebingungan


"Tidak, tunggu sebentar. Kenapa harus kau?"


Dia mengucapkan sebuah alasan solid


"Aku perempuan. Sekalipun aku mandi atau tidur bersamanya sekalipun, tidak akan ada yang curiga."


Laki-laki perak itu membuka dan menutup mulutnya, dengan susah payah memanggil


"Ya?"


Gabriel menatapnya serius


"Apa kau ... Tidak, lupakan saja. Aku tau, ayo kembali."


Meski tidak bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh Gabriel, Camila tetap acuh. Lagipula tidak ada second lead yang jahat, jadi dia mengangguk singkat dan mengikuti di belakang.


Keduanya kembali dan mendapati Arianna yang menatap Aiden takut-takut, sementara Aiden sendiri tampak cuek dan tidak berusaha memulai percakapan ataupun memecah kecanggungan.


"Arianna" panggil Camila.


"Ya?"


"Mau bekerja untukku?"


"Eh? Kenapa tiba-tiba?" Dia terkejut, tentu saja.


Camila menunjukkan sebuah foto di ponselnya pada pihak lain


"Kakak dan aku baru-baru ini membuka restoran, aku ingat bahwa kau pintar memasak. Kenapa tidak mencoba?"


Arianna mengamati restoran besar yang tampak setidaknya memiliki tiga bintang dan merasa campur aduk


"Terimakasih, tapi maaf Camila. Kau terlalu memandang tinggi kemampuanku, mana bisa aku menyaingi koki berbintang yang direkrut keluargamu?"


"Siapa yang bilang kau akan menjadi koki?" Heran Camila.


"Eh? Bukan?" Dia terkejut sekali lagi.

__ADS_1


"Aku menawari pekerjaan jangka panjang untukmu, Arianna. Sebelum kau berusia 18 tahun, kau bisa bekerja untuk kami sebagai waitress. Lalu kau bisa melanjutkan kuliah tata boga dan mengembangkan bakatmu sebelum naik pangkat menjadi koki di restoran kami, atau berkarir secara mandiri dan membuka restoran sendiri."


Arianna cengo di tempat, bingung


"Aku ... Belum berpikir sejauh itu."


Gabriel turut menambahkan


"Kalau begitu untuk sementara terima saja tawaran pekerjaan sebagai waitress, tidak ada ruginya 'kan? Kau bisa berpikir pelan-pelan, Arianna."


Pihak lain merasa hangat di hatinya, jujur saja hari ini benar-benar melelahkan. Dia dipukuli dengan sabuk dan memutus hubungan dengan orangtuanya, dia harus secepat mungkin mencari kos-kosan kalau tidak mau kedinginan nanti malam.


Untungnya Tuhan tidak kejam.


Ada Camila dan Gabriel disisinya.


Meskipun Arianna tidak pernah tau seperti apa rasanya punya orangtua, tapi dia secara samar merasa bahwa pasti tidak akan jauh berbeda dengan yang dia rasakan saat ini.


"Sudah nyaris malam, bagaimana denganmu? Rumah sakit atau kediaman Blazemoche?" Aiden memecah suasana haru Arianna dengan pertanyaan ini.


Gabriel membeku.


Arianna juga terkejut saat Aiden tiba-tiba bicara, dia tidak bisa merespon. Camila menggandeng tangannya sekali lagi dan ikut buka suara


"Kau bisa tidur bersamaku, Arianna. Tidak apa-apa."


Gabriel merasa bahwa dia sudah membuka gerbang yang penuh pelangi, terdiam.


Arianna merasa tidak enak


"Tidak, aku-"


Camila memotong ucapannya dan membujuk


"Hari ini saja, besok aku dan Gabriel bisa menemanimu mencari rumah untuk disewa."


Melihat bahwa hari sudah gelap, dan akan terlalu sulit mendapatkan kamar untuk disewa saat ini, Arianna menatap pihak lain dengan ragu, lalu menjawab


"... Baiklah, terimakasih."


"Sama-sama."


Kedua gadis itu segera memasuki mobil keluarga Blazemoche, Aiden yang melihat Gabriel terdiam, mengangkat sebelah alisnya heran.


"Ada apa?" Tanyanya.


Gabriel dengan kosong memanggil


"Kak?"


Meski aneh dipanggil 'kak' oleh orang asing, Aiden tetap menjawab


"Hm."


Gabriel bertanya dengan suara bergetar


"Kau ... Tidak keberatan dengan pelangi?"


Aiden


"????"

__ADS_1


__ADS_2