Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Drama kecil


__ADS_3

"Saya permisi" pamit Fiona pada orang-orang didalam ruang konseling, lalu berjalan keluar dengan Frost yang mengekorinya setelah memelototi semuanya.


Tepat sekali saat ini adalah jam istirahat para siswa di akademi, jadi baik itu siswa SMP hingga mahasiswa sedang berjubel keluar kelas untuk mencari makanan. Camila menatap sekeliling sekolah dari jendela ruang konseling, lalu memikirkan perkataan Fiona di ruang kesehatan.


Wanita itu sudah berhenti berjalan dan berdiri di ujung gedung khusus mahasiswa, tampak menyapa juniornya. Padahal Fiona melirik ke arahnya dan Frost yang berjalan lambat beberapa kali, seolah mengisyaratkan padanya untuk mulai berperan sebagai gadis menyedihkan.


Sudut bibir Camila bergetar, dia agak tidak rela melakukan ini.


Tapi dia suka uang.


12 persen dividen itu bukan angka yang kecil untuknya, terlebih jika itu adalah perusahaan keluarga male lead.


"Camila, apa yang kau lihat? Ayo pulang"


"Mn."


Namun, darimana dia bisa tau bahwa Fiona tidak sedang membohonginya?


Disisi lain merusak citra male lead bad boy ini tidak akan membuatnya rugi apa-apa, dan akan sangat menarik untuk mengetahui apakah Frost masih memiliki plot armor yang sekuat Arianna atau tidak.


Dia ingin bertaruh.

__ADS_1


Oleh karena itu Camila menjangkau lengan seragam Frost, membuat lelaki itu berhenti dan melihat wajahnya. Rautnya tampak tidak senang saat dia membuka mulutnya untuk bertanya "Apa?"


Anak ini sepertinya sudah lebih waras setelah dipukul Fiona?


Buktinya, male lead ini tidak lagi membentaknya.


Camila berwajah tenang seperti biasa "Ada darah di sudut mulutmu."


Frost membalik tubuhnya dan mendesak dengan nada sinis "Terus?"


Camila merogoh sapu tangan lavender dari saku seragamnya, lalu menyodorkannya pada male lead "Aku punya sapu tangan, bersihkan menggunakan ini."


"Hah?" Jelas, Frost semakin tidak senang.


Dia semakin memotong jaraknya dengan Frost, agak mendongah supaya mereka bisa lebih leluasa bertatap muka. Mungkin ini adalah pertama kali mereka saling memandang seperti ini.


"Perlu kubersihkan untukmu?" Tanyanya.


Tanpa menunggu persetujuan dari Frost, Camila mengusap lembut darah di sudut bibir pihak lain. Frost sontak tersadar dan mendorong tubuh Camila dengan keras, bahkan hingga ada bunyi berdebum seolah Frost sudah memukul kedua bahunya.


"Menjijikkan! Jangan menyentuhku!" Bentaknya.

__ADS_1


Camila sekali lagi melirik Fiona, yang tersenyum lebih lebar dengan tangan yang menutupi mulutnya. Tapi menilai dari ekspresinya, wanita itu mungkin menunggu sesuatu yang lebih dari ini.


Oleh karena itu Camila langsung membiarkan kakinya terpeleset dan jatuh dalam posisi duduk, membuat kerumunan siswa akademi yang tanpa sengaja melihat drama ini, terkejut.


Aiden yang mengalihkan perhatiannya sejenak, lalu disuguhi pemandangan ini tiba-tiba begitu membalikkan badan, tentu saja panik "Camila!"


Chester sendiri juga terkejut melihat situasi ini, dia segera memelototi Frost Harrison dan Fiona Harrison. Tapi begitu dia menangkap senyum aneh di wajah Fiona, juga sorot Camila yang sangat dibuat-buat, dia segera mengerti.


Dua perempuan ini sungguh beracun.


Dia tidak lagi menatap dua sepupunya, dan membantu Camila untuk berdiri.


Frost sendiri hanya mendengus dan melengos pergi, bahkan tanpa menunggu Fiona sama sekali. Baginya, dia sudah tidak memiliki urusan dengan tempat penuh sampah busuk ini. Lagipula keluarganya sudah memutuskan untuk menyekolahkannya di luar negeri, jadi kenapa harus susah payah beramah tamah disini?


Kerumunan pelajar langsung berbisik-bisik tentang masalah ini.


Aiden fokus pada kondisi tubuh Camila , jadi dia tidak peduli sama sekali dengan Frost. Sama halnya dengan Chester yang memilih membantu tanpa banyak bicara.


Sepasang mata ungu gelap Camila kembali jatuh pada Fiona, melihat wanita itu memasang wajah pura-pura terkejut didepan para siswa sambil menutup mulutnya. Dia tampaknya juga sedang berlagak menyedihkan, sebagai kakak yang tidak berdaya dalam mengurus adiknya.


Namun di sudut mati yang tidak dilihat orang lain, Fiona menggerakkan mulutnya tanpa bersuara sedikitpun. Berkomentar "Kerja bagus, pel*cur eksklusifku."

__ADS_1


Sudut bibir Camila berkedut.


__ADS_2