Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Aku hanya ingin dicintai


__ADS_3

"Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, tapi kau tidak mau mendengarkan hanya karena aku anak haram ayahmu. Walau sudah terbukti kita tidak memiliki hubungan darah, tapi saat itu setidaknya kau harus mendengarkanku" rambut biru muda pria ini tampak sangat kontras dengan ruangan yang serba monokrom dan tampak dingin.


Frost yang memainkan balok rubik di tangannya tidak bisa menjawab perkataan mantan adik tirinya ini "....."


Lula yang tidak direspon sejak tadi juga hanya menghela nafas dan meletakkan sekotak cokelat di meja samping tempat tidur, lalu berbalik untuk pergi "... Kau pasti sudah mendengar ini dari Fiona, tapi aku tidak akan ke kediaman Harrison lagi di masa depan. Ini adalah terakhir kalinya."


Barulah Frost memanggil namanya untuk pertama kali "Lula."


"Hm?"


"Apa kau pernah dikhianati oleh wanita?" Frost menanyakan ini bahkan tanpa melihat wajahnya.


Lula sekali lagi menghela nafas dan urung pergi "Frost ..."


"Hm?"


Pria berambut biru itu menjawab lempeng "Kau hanya dikhianati oleh wanita asing, bukan ibumu sendiri. Jadi jangan beradu nasib denganku."


Frost tiba-tiba teringat berita baru bahwa ibu pria ini sudah hilang tanpa jejak, dia mau tidak mau merasa tidak enak sudah mengusung topik tentang wanita "Aku ..."


"Tidak ada yang berhutang pada siapapun disini, Frost. Perseteruan kita dulu, murni disebabkan oleh kesalahan orangtua kita. Anggap saja sudah selesai" Lula memotong ucapannya sambil menggaruk tengkuk, bagaimanapun juga ini adalah pertama kalinya mereka berbicara secara normal pada satu sama lain.


Frost meremas rubiknya dan bertanya dengan nada kaku "Kau baik-baik saja?"


"Soal?" Bingung pihak lain.


Untuk pertama kalinya, Frost memilih kata-kata yang akan dia ucapkan dengan hati-hati "Kudengar ibumu ... Melarikan diri dan meninggalkan hutang besar atas namamu?"


Lula mengangkat sebelah alis dan menjawab tenang "Soal itu? Aku baik-baik saja."


"Tapi-"


Untuk kedua kalinya, ia menghentikan kata-kata orang yang masih belum menatapnya ini "Aku tidak ingin berhutang pada siapapun, Frost. Jadi jangan coba-coba menghabiskan uangmu sendiri untukku, aku tidak selemah itu dan kita juga tidak seakrab itu."


Mendengar suara gemerisik seolah-olah pihak lain akan pergi, Frost dengan cepat menoleh dan refleks memanggil namanya "Lula."


Lula yang membuka tasnya utnuk mengeluarkan sebuah buku kecil dan pulpen untuk menulis sesuatu, menjawab bingung karena dipanggil lagi "Ya?"


Tidak ingin tampak pengecut karena memalingkan wajahnya akibat salah panggil, Frost berujar ".... Maaf."


Dia menyadari betapa tingginya harga diri pria ini, menanggapi permintaan maaf tersebut dengan senyum simpul "Tidak apa-apa, anggap saja kita impas. Aku pergi dulu."


Namun begitu ia berbalik untuk pergi, Frost sekali lagi memanggilnya "Lula."


Sadar akan betapa gelisahnya orang ini, Lula merobek selembar kertas dari bukunya dan meletakkan benda itu diatas kotak cokelatnya "Aku akan meninggalkan nomorku disini, hubungi saja kalau kau ingin minum kopi bersama."


Mendapatkan apa yang ia mau tanpa harus memintanya sendiri, Frost menjawab sambil berusaha bersikap keren "Oke."

__ADS_1


Lula mengulum senyum saat melihat betapa konyolnya penampilan Frost saat ini dan segera pergi "Sampai jumpa."


Setelah menutup pintu, dia dikejutkan oleh seorang gadis yang memeluk jas di tangan kiri dan membawa tas tangan di sebelah kanan. Lula dengan canggung menyapa "Camila."


Yang disapa memasang senyum bisnis seperti biasa dan balas menyapa dengan ramah "Halo, Lula. Bagaimana kabarmu?"


Lula tidak pernah merasa nyaman didekat wanita setelah hidup dengan ibunya selama bertahun-tahun, oleh karena jtu dia sangat canggung sekarang "Baik, aku selalu baik-baik saja."


"Begitu? Jangan bekerja terlalu keras, istirahat yang cukup. Sampaikan ini juga pada teman se-grupmu" Camila meraih gagang pintu kamar Frost dan menunggu jawaban pria ini.


"Akan kuingat, terimakasih atas perhatianmu. Sampai jumpa lagi" setelah menjawab, dia cepat-cepat pergi seolah sudah dikejar hantu.


Begitu masuk ke kamar ini lagi, Camila menyapa dengan tanpa ekspresi "Hai."


Frost yang baru membuka cokelat pemberian Lula untuk dimakan, menjadi jengkel ".... Aku paling tidak ingin melihat wajahmu saat ini, Camila."


Gadis itu mengendikkan bahu dan segera berbalik "Kalau begitu aku pergi, aku kesini juga hanya untuk memastikan keadaanmu saja."


Frost juga menanggapi dengan sinis seperti biasa "Mn. Enyah sana."


Namun sebelum Camila melangkah pergi, dia menyampaikan berita tanpa basa-basi "Rushia sudah mati."


Gerakan pria yang sedang memasukkan cokelat kedalam mulutnya itu terhenti.


Camila sekali lagi menghadap Frost untuk melanjutkan "Fiona membunuh wanita itu dengan kedua tangannya sendiri, dan aku membantunya dengan koneksiku."


Camila menatapnya untuk beberapa saat dan berujar kejam "Frost, menangisi sampah itu hanya akan buang-buang waktu saja."


Begitu kedua mata mereka bertemu, Camila melanjutkan "Tapi kau boleh menangis selama itu membuatmu lega, lagipula kau tidak akan bisa menemui Rushia lagi seumur hidupmu."


Frost mendecih dan memalingkan muka "Aku tidak akan menangis."


"Tapi matamu merah, dan kau mencintai Rushia" sela Camila.


Frost meremas kotak cokelatnya dan hanya memaki "Berisik, Camila."


Camila menunjuk sepasang benda yang ada di telinganya "Frost, aku masih memakai earphone di telingaku."


"Terus?" Frost sedikit meliriknya saat mengatakan ini, seolah memastikan kebenaran dari kata-kata itu.


Camila memutar sofa tunggal yang ada didekat pintu untuk membelakangi Frost dan berkata "Aku akan duduk disini selama lima belas menit, sambil mendengarkan lagu. Aku juga tidak akan melihatmu, apa kau mengerti?"


Dengan suara bergetar, Frost merespon dengan "Terserah."


Beberapa menit berlalu dengan Camila yang terfokus pada ponsel dan menyenandungkan sebuah lagu, membiarkan Frost yang mengamatinya beberapa lama tanpa berniat menyapa atau memanggilnya.


Barulah setelah yakin gadis ini memang fokus pada ponsel dan lagunya sendiri, Frost mulai buka suara "Hei Camila, apa kau pernah bertanya-tanya alasan kenapa aku bersikap seperti sampah?"

__ADS_1


Sadar bahwa Camila tidak akan merespon karena terlalu fokus pada dunianya sendiri, Frost mulai bermonolog panjang "Karena saat aku melakukan hal-hal baik seperti saat kita masih kecil, orang dewasa akan berhenti memperhatikanku. Mereka merasa bahwa aku sudah bisa melakukan apapun sendiri, bisa diandalkan dan tidak akan memerlukan bantuan apapun. Karena itu mereka berhenti peduli dan hanya mengerjakan urusan mereka sendiri tanpa menoleh pada anak mereka lagi."


"Hanya anak yang menangis yang akan diberi permen."


"Mungkin terdegar klise, tapi aku ingin diperhatikan oleh keluarga dan mendapatkan seseorang yang mau menerima kebusukanku."


"Kalau ada seseorang yang mau mencintai kebusukanku, maka dia pasti akan lebih mencintaiku setelah tau kelebihanku."


Seolah teringat masalah lama, Frost tiba-tiba berkata "Sebenarnya saat ada berita bahwa aku meniduri banyak gadis, itu adalah palsu. Akulah yang merilis berita itu."


"Semakin busuk aku, semakin banyak pula orangtuaku memperhatikanku dengan alasan ingin memperbaikiku."


"Bukankah orangtuamu juga sama? Mereka akan langsung berhenti memperhatikanmu setelah tau betapa jenius dan mandirinya dirimu, mereka bahkan pergi selama berbulan-bulan dan jarang menghubungimu dan Aiden."


"Tapi begitu mereka mendengar kau berselisih denganku karena Anna, mereka langsung pulang untuk menghajarmu. Bukankah itu sangat hipokrit?"


"Kemana mereka saat kita ingin didengar saat upacara penghargaan? Kemana mereka saat kita ingin menyelesaikan masalah yang mereka sebut 'kenakalan remaja' dengan baik-baik tanpa harus berselisih? Kemana mereka saat kita berhasil memenangkan proyek untuk perkembangan masa depan perusahaan kita? Kemana mereka saat kita sakit dan terluka?"


"Mereka tidak pernah ada disana. Mereka tidak pernah ada dalam situasi terbaik atau terpuruk kita, tapi mereka akan langsung menjadi yang pertama kali datang saat kita melakukan kesalahan."


"Aku tidak ingin sepasang malaikat yang hanya bisa mencatat betapa baik dan buruknya aku untuk mereka hakimi, aku hanya ingin sepasang orangtua biasa yang akan memujiku saat aku berusaha dan memarahiku saat aku berbuat salah."


"Apakah menurutmu aku serakah?" Dia menatap punggung pihak lain saat menanyakan ini, yang tentu saja tidak akan mendapatkan jawaban apapun.


Dia melanjutkan monolognya "Camila, kau mungkin tidak percaya ini. Aku juga merasa jijik harus mengatakannya padamu dalam situasi ini."


"Tapi Rushia ... Aku benar-benar mencintainya."


"Aku tidak peduli dia menipuku, mengingini Harrison atau menghancurkan reputasiku. Aku bisa menerimanya selama dia akan tersenyum dan mengatakan bahwa aku masih memilikinya."


"Tapi aku tau menjadi egois itu salah."


"Mana bisa aku mengorbankan seluruh keluarga hanya karena seorang wanita? Mana bisa aku menghancurkan masa depan ribuan karyawan hanya karena perasaanku padanya? Aku bersalah, dia juga bersalah. Aku tidak masalah kalau kakak ingin menghukumku bersamanya ..."


"Tapi kau bilang ... Kakak sudah membunuhnya" tangannya meremas kuat kotak cokelat di tangannya saat membisikkan kalimat ini.


"Aku tidak bisa menyalahkan kakak, karena dia ingin melindungiku. Aku tidak bisa menyalahkan kalian, karena kalian sudah berjanji pada kakakku, aku tidak bisa menyalahkan orangtuaku karena mereka berusaha memberikan yang terbaik untukku."


"Tapi lantas bagaimana? Siapa yang bisa kusalahkan?"


"Aku mencintainya, aku juga mencintai keluargaku. Tidak bisakah kita hidup bersama meski harus menghunuskan pedang pada satu sama lain? Apakah aku serakah?"


"Aku hanya tidak ingin kehilangan satupun orang yang kucintai dan orang yang mencintaiku, apakah aku salah?"


"Aku hanya ingin dicintai ..."


Menghela nafas panjang dengan sangat pelan, Camila mematikan layar ponselnya dengan earphone yang sama sekali tidak terhubung ataupun menyala. Menatap penampilan mantan tunangannya dari layar ponsel yang samar-samar.

__ADS_1


Nyatanya, semua orang memang memiliki luka.


__ADS_2