Antagonis Dan Second Lead

Antagonis Dan Second Lead
Orang Harrison


__ADS_3

Camila menutup pintu mobil lalu membungkuk untuk mengucapkan terimakasih pada sopir keluarganya, lalu masuk ke kediaman Blazemoche hanya untuk mendapati sepasang sepatu milik kakaknya dan orang lain.


Langkahnya terhenti sejenak, dia merasa jengkel tiba-tiba. Kakaknya ini sesekali memang harus merasakan pemukulan, orang itu pasti memanfaatkan suasana karena orangtua mereka sedang pergi keluar negeri.


Secara sembarangan membawa laki-laki lain ke rumah.


Camila melangkah dengan agak berat ke ruang tamu, kosong. Dia masuk ke ruang belajar kakaknya, kosong. Dia lantas masuk ke ruang keluarga di lantai dua, tapi masih saja kosong.


"Mencari Tuan muda?" Tanya seorang pengurus rumah yang sedang membawa sprei kotor dari arah kamar kakaknya, wajah kakak pelayan ini tampak merona merah.


"Iya" Camila tidak mau menebak kenapa sprei kakaknya harus dicuci pada jam segini.


"Tuan muda ada di kamarnya, bersama Tuan muda lain dari keluarga cabang Harrison" jelas pengurus rumahnya, sambil merapikan kepang rambutnya. Wajah kakak ini masih merona.


"Terimakasih" balas Camila dan langsung berjalan cepat menuju kamar kakaknya.


Dia tidak mengetuk pintu ataupun memanggil, tapi langsung menendang pintu hingga terbuka. Disuguhi pemandangan dua orang laki-laki yang sedang mengeringkan tubuh mereka, tampak baru saja selesai mandi. Kakaknya tampak tersenyum pada orang itu, demikian pula tamu mereka. Keduanya tampak sangat tampan seolah sudah keluar dari lukisan, memiliki otot tubuh yang tidak berlebihan dan juga kulit yang bersih.


Hanya saja .... Ada sesuatu yang aneh dari mereka, dan dia tau itu.


Camila mendadak capek.


"Kakak" panggilnya, kesal.


"Ah. Kau sudah pulang? Ada tamu dari keluarga Harrison. Karena dia teman kuliahku, jadi kusuruh saja masuk ke kamarku" Jawab Aiden, dengan tangan yang mengacak-acak rambut basah orang lain.


Lelaki berambut hitam ini tertawa sejenak sebelum menepis tangan Aiden, memperkenalkan dirinya "Halo, namaku Chester Harrison. Teman kakakmu."

__ADS_1


Camila facepalm dan melihat kakaknya yang tersenyum-senyum seperti orang bodoh, bertanya sinis "Teman?"


Aiden membuat gestur nol sambil tersenyum dengan mata menyipit "Teman."


Meski sudah tau kebenaran akan hubungan mereka, Camila tidak berniat untuk mengekspos kakaknya yang Denial ini. Perhatiannya teralih pada Chester Harrison, bertanya "Utusan keluarga utama?"


"Sayangnya bukan. Kau 'kan tau sendiri keluarga utama dan keluarga cabang Harrison tidak akur, aku kemari hanya karena ingin menonton keributan saja. Kami berada di faksi yang berbeda meski sama-sama Harrison" jelasnya, dengan senyum yang sangat cerah dan mata berbinar.


Tipikal laki-laki yang suka menonton drama.


Memang cocok dengan kakaknya.


Aiden mengambil tab miliknya yang berada diatas meja, mengutak-atiknya sebentar, lalu menatap adiknya "Kau tidak perlu khawatir, Chester ada di pihak Blazemoche."


Camila menahan diri untuk tidak nyinyir.


Chester 'kan 'teman kuliah' Aiden.


"Adakah informasi yang bisa kudengar darimu, kak Chester?" Tanyanya kemudian.


"Kurasa tidak. Aku hanya ingin kau segera putus dengan sampah seperti Frost, anak monyet itu benar-benar sinting" dia mengeluh sambil menyenderkan kepalanya secara alami di pundak Aiden, mengintip apa yang sedang diutak-atik temannya.


Aiden sendiri melirik Chester dan sedikit menggeser tab-nya agar orang ini bisa melihat dengan lebih baik akan apa yang dia kerjakan, lalu bertanya setelah menyamankan diri "Apa maksudmu bahwa Frost sinting?"


Chester justru menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain "Ngomong-ngomong, ada rokok gak?"


Aiden membalas dengan menjewer telinga Chester, lalu menasehatinya "Aku tidak merokok, Chester. Kau juga harus berhenti merokok."

__ADS_1


"Jadi?" Tagih Camila.


Dia tidak ada disini untuk menjadi bola lampu dua pria, oke?


Chester menepis tangan Aiden yang menjewernya, lalu menatap Camila "Adik kecil, kau tau sendiri hanya ada dua tipe laki-laki di dunia ini. Kalau tidak brengsek, ya homo."


"........" Gadis itu terlalu kesal untuk membalas, hanya bisa mencibir dalam hati.


Lihat siapa yang bicara.


"Frost jelas adalah tipe pertama. Tipikal bad boy dalam novel roman picisan, dia sudah melakukan banyak sekali jenis kenakalan. Balap liar, merokok, alkohol, dan beberapa waktu lalu dia bahkan sudah berani menyewa wanita" jelasnya, dengan nada meremehkan.


Aiden jelas tidak tau bahwa tunangan untuk adiknya akan seburuk itu, dia sontak menjadi marah dan merutuk "Akan kukebiri dia."


Chester menepuk dada telanjang orang ini dan duduk tegak di kasur "Tenang, Aiden."


Perhatian Chester kembali pada Camila, mengamatinya dari atas hingga bawah. Sebelum mengatakan "Adik kecil, aku tau kau jelas bukan tipe romantis. Tapi tetap akan kuperingatkan, laki-laki semacam itu tidak akan pernah bisa berubah hanya karena rongsokan yang disebut cinta. Dia tidak akan setia hanya karena kau sudah memberikan segalanya, dia tidak akan pernah merasa puas meskipun kau sudah sempurna, dan dia tidak akan balas mencintaimu meski kau sudah sangat mencintainya."


"Terlebih ... Dia adalah tulang lunak yang tidak tau apa-apa. Kalau kalian sampai menikah, otomatis kaulah yang harus mengerjakan segalanya sementara dia hanya akan mau enaknya saja" lanjutnya.


Chester menatap Aiden di samping dan menyikut perutnya dengan cara main-main "Kau adalah adik Aiden, aku tidak mau kau menderita."


"Oleh karena itu, putuskan dia" perintahnya sambil mengibaskan tangan.


Seolah teringat sesuatu, dia sekali lagi menambahkan kata-katanya "Lagipula pacaran itu dosa."


Camila benar-benar kesal sekarang.

__ADS_1


Beraninya kau mengatakan itu padaku? Lihat dirimu sendiri!


__ADS_2